Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Pendidikan

Mengatur Ulang Komunikasi Pendidikan Guru dan Orang Tua

Kaila Azzahra
Last updated: March 30, 2026 12:25 am
Kaila Azzahra
Share
7 Min Read
SHARE

Contents
  • Peran dan Tantangan Hubungan Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan
  • Krisis Kepercayaan
  • Model Kemitraan Sekolah dan Keluarga
  • Dialog Pendidikan

Peran dan Tantangan Hubungan Guru dan Orang Tua dalam Pendidikan

Hubungan antara guru dan orang tua selama ini dianggap sebagai fondasi penting dalam proses pendidikan formal. Sekolah dan keluarga merupakan dua ruang sosial yang saling berkontribusi dalam membentuk pengalaman belajar anak. Pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga melalui komunikasi antara sekolah dan rumah. Oleh karena itu, kualitas komunikasi antara guru dan orang tua sangat menentukan stabilitas ekosistem pendidikan.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, hubungan tersebut menunjukkan gejala keretakan yang semakin nyata. Berbagai laporan investigatif menunjukkan bahwa konflik antara guru dan wali murid meningkat. Teguran guru terhadap siswa dalam sejumlah kasus justru memicu protes dari orang tua hingga berujung pada tindakan hukum. Akibatnya, sekolah dalam beberapa kasus berubah menjadi arena sengketa sosial.

Perubahan ini mengindikasikan pergeseran cara masyarakat memaknai tindakan pedagogis di sekolah. Interaksi pembelajaran bukan hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses komunikasi yang terpola. Menurut Littlejohn dan Foss (2009), komunikasi merupakan proses konstruksi makna sosial melalui interaksi simbolik. Ironisnya, dalam konteks pendidikan, tindakan seperti menegur atau mendisiplinkan siswa dapat dimaknai secara berbeda oleh guru dan orang tua.

Perbedaan makna ini semakin kompleks di era komunikasi digital. Informasi tentang pengalaman pendidikan mudah beredar melalui media sosial dan ruang diskusi daring. Orang tua dengan mudah membandingkan pengalaman anak mereka dengan keluarga lain. Dampaknya, ruang pedagogis guru menjadi rentan terhadap kritik yang tidak sepenuhnya memahami konteks pendidikan. Dalam situasi seperti ini, relasi guru dan orang tua perlahan bergeser dari model kemitraan menuju model yang menumbuhkan kecurigaan.

Krisis Kepercayaan

Dalam perspektif komunikasi pendidikan, akar masalah ini terletak pada krisis kepercayaan. Kepercayaan merupakan prasyarat penting dalam setiap hubungan sosial yang kompleks. Luhmann (1995) menjelaskan bahwa kepercayaan berfungsi mengurangi ketidakpastian dalam interaksi sosial. Tanpa kepercayaan, setiap tindakan dalam hubungan sosial akan dicurigai dan diverifikasi secara berlebihan.

Kepercayaan yang dibangun bersama antara wali murid dan pendidik memberi ruang bagi guru untuk menjalankan fungsi pedagogis secara profesional. Guru membutuhkan legitimasi sosial agar dapat membimbing, menegur, dan mengarahkan siswa tanpa rasa takut. Namun legitimasi tersebut hanya bertahan jika terdapat komunikasi yang sehat antara sekolah dan keluarga. Ketika komunikasi retak, legitimasi pedagogis ikut tergerus.

Di sinilah empati menjadi fondasi penting bagi lahirnya kepercayaan. DeVito (2016) menegaskan bahwa komunikasi interpersonal efektif bertumpu pada keterbukaan, empati, sikap suportif, dan kesetaraan. Empati memungkinkan seseorang memahami perspektif pihak lain sebelum melontarkan penilaian. Dalam relasi pendidikan, empati membekali guru dan orang tua untuk melihat persoalan peserta didik sebagai tanggung jawab bersama, bukan kesalahan satu pihak.

Sebaliknya, ketika empati hilang dari komunikasi pendidikan, relasi tersebut mudah berubah menjadi konflik interpretasi. Teguran guru dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik terhadap siswa. Di sisi lain, kritik orang tua dapat dipersepsikan sebagai intervensi terhadap profesionalitas guru. Ketika kedua pihak saling mempertahankan posisi tanpa empati, komunikasi berubah menjadi pertarungan legitimasi.

Akibatnya, kepercayaan perlahan menghilang dari relasi pendidikan. Guru menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pedagogis karena khawatir tindakannya akan dipersoalkan. Relasi pendidikan kemudian bergeser dari kesalingpercayaan menuju relasi pengawasan. Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter justru berubah menjadi praktik administratif yang defensif.

Model Kemitraan Sekolah dan Keluarga

Penelitian mengenai keterlibatan orang tua menunjukkan bahwa komunikasi yang sehat antara sekolah dan keluarga sangat memengaruhi keberhasilan belajar siswa. Hill dan Tyson (2009) dalam meta-analisis menemukan bahwa komunikasi positif antara guru dan orang tua meningkatkan motivasi belajar serta prestasi akademik siswa. Temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan kedua pihak bukan sekadar kehadiran dalam kegiatan sekolah, melainkan sebagai aktor yang aktif dalam membangun komunikasi yang kondusif serta berangkat dari kesediaan memahami peran masing-masing dalam keberlangsungan pendidikan anak.

Model kemitraan sekolah dan keluarga juga menegaskan pentingnya kolaborasi komunikasi. Epstein (2011) menyebut hubungan tersebut sebagai school–family partnership, yakni kemitraan antara sekolah dan keluarga dalam mendukung perkembangan siswa. Dalam kemitraan ini, sekolah menyediakan lingkungan pedagogis, sementara keluarga menopangnya melalui dukungan sosial dan emosional. Di sinilah peran strategis komite sekolah yang sejatinya menjembatani kolaborasi antara pihak sekolah dengan perwakilan keluarga peserta didik.

Namun dalam praktiknya, kolaborasi ini sering terbentur oleh hambatan komunikasi. Hornby dan Lafaele (2011) menunjukkan bahwa konflik antara guru dan orang tua sering muncul karena perbedaan persepsi mengenai disiplin dan perkembangan anak. Perbedaan latar belakang sosial serta ekspektasi terhadap sekolah turut memperkuat ketegangan tersebut. Di banyak kasus, tanpa ruang dialog yang memadai, perbedaan tersebut menjadi katalis konflik terbuka.

Dialog Pendidikan

Konflik antara guru dan orang tua sebenarnya menunjukkan bahwa ruang dialog pendidikan belum terbangun secara optimal. Alih-alih sekadar proses transfer pengetahuan, pendidikan merupakan proses komunikasi sosial yang melibatkan berbagai aktor dengan identitas dan perspektif berbeda.

Pada tataran ini, dibutuhkan kesadaran akan pentingnya dialog. Habermas (1984) melalui teori communicative action menegaskan bahwa komunikasi yang rasional harus didasarkan pada dialog terbuka tanpa dominasi kekuasaan. Dialog memungkinkan setiap pihak menyampaikan argumen secara rasional sekaligus memahami perspektif yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, dialog membantu guru dan orang tua membangun pemahaman bersama mengenai perkembangan siswa.

Selain itu, dialog pendidikan menuntut transparansi dari pihak sekolah. Guru perlu menjelaskan pendekatan pedagogis yang digunakan dalam membimbing siswa. Penjelasan tersebut bukan sekadar usaha penyampaian informasi, tetapi juga upaya membangun pemahaman bersama mengenai tujuan pendidikan. Dengan demikian, orang tua tidak menjustifikasi tindakan guru sebagai keputusan sepihak. Di titik ini, melalui optimalisasi peran dan fungsinya, komite sekolah berkewajiban membuka potensi kesepahaman itu.

Di sisi lain, orang tua juga perlu memahami bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung tanpa ketegangan. Proses pembelajaran melibatkan evaluasi, disiplin, dan koreksi yang tidak selalu menyenangkan bagi siswa. Dalam kerangka pedagogis, tindakan tersebut merupakan bagian dari pembentukan karakter. Freire (1970) mengingatkan bahwa pendidikan selalu melibatkan proses refleksi kritis yang menantang kenyamanan peserta didik.

Alhasil, guru dan orang tua perlu belajar mendengar sebelum menilai serta memahami sebelum bereaksi. Pada titik inilah pendidikan kembali menjadi ruang belajar sesungguhnya, tempat disemainya lingkungan yang kondusif bagi proses perkembangan akademik dan karakter peserta didik, bukan arena sengketa.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByKaila Azzahra
Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kunjungi Desa Swadaya Bangun Jalan, Bupati Blora Dituduh Ngonten

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Pendidikan

Mengukur Kesiapan Industri Hijau Jawa Tengah dari Pendidikan Vokasi

December 3, 2025
Pendidikan

Aturan Gaji Orangtua KIP 2026 Berubah, Ini Penjelasannya

February 9, 2026
Pendidikan

Soal HOTS negosiasi bahasa Indonesia kelas 10 semester 2

February 9, 2026
Pendidikan

Mengabdikan Hidup untuk Nurul Sholihin, Siti Nursiati Pilih Dakwah Melalui Pengasuhan

February 23, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?