Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Otomotif

Mengapa tidak sebaiknya memacu gas setelah lampu merah

Rizal Hartanto
Last updated: April 9, 2026 1:34 am
Rizal Hartanto
Share
5 Min Read
SHARE

Teknik Mengurut Gas: Kunci Efisiensi dan Kesehatan Mesin

Kebiasaan membetot gas atau membuka tuas akselerasi secara mendadak sesaat setelah lampu lalu lintas berganti hijau menjadi pemandangan umum di jalanan perkotaan. Banyak pengendara merasa bahwa hentakan gas yang kuat akan membuat motor melesat lebih cepat dan memenangkan posisi di depan kendaraan lain. Padahal, tindakan impulsif ini merupakan salah satu bentuk kesalahan perilaku berkendara yang paling merugikan, baik dari sisi efisiensi bahan bakar maupun kesehatan komponen mekanis kendaraan.

Contents
  • Teknik Mengurut Gas: Kunci Efisiensi dan Kesehatan Mesin
  • Visualisasi Grafik Pembukaan Gas dan Efisiensi Ruang Bakar
  • Beban Kejut pada Sistem Transmisi dan Komponen Penggerak
  • Masalah Perilaku Pengendara dan Manajemen Momentum di Jalan Raya

Membuka gas secara spontan dan penuh hanya akan menciptakan lonjakan suplai bahan bakar yang tidak mampu dibakar secara sempurna oleh mesin dalam waktu singkat. Alih-alih mendapatkan tenaga putar yang maksimal, bensin justru terbuang percuma di ruang bakar dan hanya menghasilkan panas berlebih serta emisi gas buang yang kotor. Memahami perbedaan antara teknik menyentak gas dan teknik mengurut gas secara linear menjadi kunci utama untuk mencapai efisiensi berkendara yang cerdas di tengah padatnya lalu lintas.

Visualisasi Grafik Pembukaan Gas dan Efisiensi Ruang Bakar

Jika divisualisasikan ke dalam sebuah grafik, teknik “betot gas” akan membentuk garis vertikal yang melonjak tajam secara tiba-tiba. Pada titik ini, sistem injeksi atau karburator akan menyemprotkan bensin dalam jumlah maksimal ke dalam ruang bakar, namun piston dan poros engkol belum memiliki momentum putar yang cukup untuk mengonversi ledakan tersebut menjadi gerak roda yang efisien. Akibatnya, sebagian besar energi dari bensin tersebut terbuang menjadi energi panas dan tekanan yang menabrak dinding silinder, bukan mendorong piston ke bawah dengan efektif.

Sebaliknya, teknik “urut gas” membentuk grafik garis diagonal yang naik secara landai dan stabil. Dengan membuka gas secara bertahap, perbandingan antara udara dan bahan bakar tetap berada pada rasio yang ideal sesuai dengan kenaikan putaran mesin (RPM). Kondisi ini memungkinkan setiap tetes bensin terbakar habis dan menghasilkan tenaga dorong yang sinkron dengan pergerakan komponen transmisi. Hasilnya, motor tetap bisa melaju cepat tanpa harus membuang bensin secara sia-sia di detik-detik awal akselerasi.

Beban Kejut pada Sistem Transmisi dan Komponen Penggerak

Penyiksaan mekanis akibat membetot gas tidak hanya terjadi di ruang bakar, tetapi juga merambat ke sistem transmisi, terutama pada motor matik (CVT). Saat gas disentak secara mendadak, sabuk v-belt dan kampas ganda dipaksa untuk mencengkeram mangkok kopling yang masih diam dengan beban torsi yang sangat besar secara tiba-tiba. Hentakan ini menciptakan beban kejut (shock load) yang dapat mempercepat keausan kampas ganda, membuat v-belt cepat retak, hingga menyebabkan mangkok kopling berubah warna menjadi keunguan akibat panas berlebih.

Pada motor bebek atau sport, kebiasaan ini akan mempercepat keausan pada rantai dan gir, serta membuat pelat kopling lebih cepat tipis. Perilaku ini secara akumulatif akan memperpendek usia pakai komponen penggerak dan meningkatkan biaya perawatan rutin. Pengendara yang terbiasa mengurut gas akan merasakan operan gigi yang lebih halus atau perpindahan rasio CVT yang lebih linear, yang pada akhirnya menjaga kondisi seluruh sistem penggerak tetap prima dalam jangka waktu yang lebih lama.

Masalah Perilaku Pengendara dan Manajemen Momentum di Jalan Raya

Membetot gas setelah lampu merah sering kali merupakan cerminan dari psikologi berkendara yang terburu-buru dan kurang waspada. Secara teknis, mengejar kecepatan di beberapa meter pertama tidak akan memangkas waktu perjalanan secara signifikan jika pada akhirnya harus kembali mengerem karena kemacetan di depan. Pengendara yang bijak lebih mengutamakan manajemen momentum; mereka membiarkan motor bergerak perlahan lalu menambah kecepatan secara bertahap mengikuti arus lalu lintas yang ada.

Kesalahan perilaku ini juga berkaitan dengan aspek keselamatan, di mana akselerasi yang terlalu liar di persimpangan jalan meningkatkan risiko kecelakaan jika ada kendaraan lain yang melanggar lampu dari arah samping. Dengan meninggalkan kebiasaan menyentak gas, pengendara tidak hanya menghemat pengeluaran bensin bulanan hingga belasan persen, tetapi juga menciptakan pola berkendara yang lebih tenang dan terkontrol. Menguasai kontrol tangan kanan melalui teknik urut gas adalah bentuk kedewasaan dalam berkendara sekaligus cara paling ampuh menjaga kesehatan mesin kendaraan.

Kenapa Oli Motor Harus Langsung Diganti setelah Dipakai Mudik?

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByRizal Hartanto
Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Otomotif

Harga di Bawah Rp180 Juta! Keunggulan Toyota Agya 1.2 G M/T

December 3, 2025
Otomotif

Honda Scoopy 2026 Tampil Beda dengan Desain Hitam Glossy Minimalis yang Membuatnya Terlihat Lebih Mewah

April 14, 2026
Otomotif

6 Jalur Alternatif Tol Trans Jawa yang Harus Diperhatikan Saat Arus Balik Nataru

January 4, 2026
Otomotif

Mengapa Suzuki Ertiga 2015 Bekas Disukai? Ini Penjelasannya

February 20, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?