Layanan Klinik Tumbuh Kembang Anak dan Neurobehavior di Mayapada Hospital Bandung
Mayapada Hospital Bandung (MHBD), salah satu unit yang berada di bawah naungan Mayapada Healthcare (PT Sejahteraraya Anugerahjaya Tbk.) (IDX: SRAJ), baru saja meluncurkan dua klinik baru yaitu Klinik Tumbuh Kembang Anak dan Klinik Neurobehavior. Layanan ini dirancang sebagai solusi satu pintu (one-stop solution) untuk memastikan tumbuh kembang anak terpantau secara optimal sejak dini.
Peluncuran layanan tersebut berlangsung dalam suasana yang meriah, dengan hadirnya puluhan keluarga dan area bermain yang menarik perhatian anak-anak. Dekorasi warna lembut, balon karakter, serta edukasi interaktif menciptakan kesan seperti ruang bermain yang hangat dan menyenangkan.
Klinik ini menawarkan berbagai layanan seperti deteksi dini, asesmen komprehensif, intervensi terapi, serta pendampingan jangka panjang yang mencakup aspek fisik, kognitif, emosi, perilaku, hingga interaksi sosial. Kehadiran layanan ini sangat penting mengingat 1.000 hari pertama kehidupan menjadi periode emas yang membentuk sebagian besar perkembangan otak, imunitas, kemampuan belajar, serta fondasi sosial anak di masa mendatang.
dr. Irwan Susanto Hermawan, MM, Hospital Director Mayapada Hospital Bandung, menjelaskan bahwa Klinik Tumbuh Kembang Anak dan Klinik Neurobehavior merupakan langkah strategis MHBD dalam menyediakan layanan terintegrasi dan mudah diakses bagi masyarakat.
“Kehadiran klinik ini menjawab berbagai tantangan tumbuh kembang yang banyak dialami oleh anak-anak, termasuk aspek perkembangan fisik, perilaku, emosi, maupun sosial. Dengan pendekatan multidisiplin dan tim tenaga medis berpengalaman, Mayapada Hospital Bandung berkomitmen menghadirkan layanan yang inovatif, holistik, dan berpusat pada pasien (patient-centered care) untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” ujarnya saat ditemui di Mayapada Hospital Bandung, Sabtu (29/11/2025).
Klinik Tumbuh Kembang Anak dan Klinik Neurobehavior terintegrasi dengan layanan unggulan lain seperti Pediatric Center, onkologi, kardiologi, neurologi, gastrologi, dan ortopedi. Layanan yang tersedia antara lain Terapi Okupasi, Terapi Wicara, Terapi Sensori Integrasi, Fisioterapi Anak, Psikotes, Tes Minat & Bakat, Tes Kesiapan Sekolah, serta konseling pola asuh dan konseling keluarga.
Seluruh layanan dirancang untuk memetakan potensi perkembangan anak sekaligus membantu orang tua memahami dinamika tumbuh kembang secara menyeluruh. dr. Irwan juga menyebut bahwa layanan ini hadir sebagai respons terhadap kebutuhan masyarakat dan dukungan program pemerintah, termasuk target Zero Stunting di Kota Bandung.
dr. Eddy Fadlyana, Sp.A(K), M.Kes, Dokter Spesialis Anak Konsultan Saraf Anak, menekankan pentingnya memantau tumbuh kembang anak sejak masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) karena periode tersebut menjadi fondasi pembentukan kualitas perkembangan anak hingga remaja.
Menurutnya, banyak orang tua masih mengabaikan gejala awal, padahal keterlambatan yang tidak ditangani dini akan berdampak pada hasil terapi yang kurang optimal. Ia menjelaskan bahwa pemantauan sebaiknya dilakukan melalui Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), yang memuat milestone perkembangan sesuai usia, mulai dari motorik kasar, motorik halus, interaksi sosial, hingga kemampuan bicara.
dr. Eddy mengingatkan bahwa sebagian besar keterlambatan pada bayi usia 6–12 bulan terjadi pada motorik kasar, terutama karena kurangnya stimulasi akibat anak terlalu sering digendong atau minim interaksi. “Pada usia di atas dua tahun, masalah yang sering muncul adalah kurangnya kesempatan bersosialisasi, terutama pada anak-anak di perkotaan yang lebih banyak berada di rumah tanpa teman sebaya.”
Terkait terapi, dr. Eddy menjelaskan bahwa sistem layanan di Indonesia sudah memiliki jenjang penanganan mulai dari Posyandu, Puskesmas, hingga rumah sakit rujukan. Keterlambatan ringan dapat distimulasi terlebih dahulu di Posyandu, namun bila terdapat lebih dari satu aspek yang terlambat, anak harus segera dirujuk ke klinik tumbuh kembang.
Gangguan neurobehavior pada anak kerap datang dengan keluhan yang tidak langsung disadari orang tua. Menurut dr. Burhan, Sp.A, Subsp.N(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Saraf Anak di Mayapada Hospital Bandung, banyak pasien justru datang dengan gejala lain seperti tics, kecemasan, atau perilaku menentang, yang ternyata merupakan bagian dari komorbid ADHD atau gangguan belajar.
“Sering kali orang tua tidak sadar bahwa anaknya mengalami gangguan hiperaktif atau kesulitan fokus. Mereka datang karena kedipan berulang, gelisah, atau anak terlihat ‘melamun’ di sekolah,” ujarnya.
Proses evaluasi neurobehavior dilakukan secara holistik, bukan hanya berdasarkan satu keluhan yang tampak. Dari satu gejala kecil, menurut dr. Burhan, kerap terbuka diagnosis lain seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), disleksia, diskalkulia, hingga conduct disorder. Oleh karena itu, evaluasi mencakup penilaian fungsi eksekutif, regulasi emosi, kemampuan akademik, hingga dinamika sosial anak di rumah maupun sekolah.
dr. Burhan menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tenaga medis dalam menangani gangguan neurobehavior. Menurutnya, banyak guru belum memahami gangguan belajar spesifik seperti disleksia dan diskalkulia sehingga kerap terjadi salah penanganan, bahkan potensi bullying dari lingkungan sekolah.
Ia menilai inisiatif untuk evaluasi sering masih datang dari orang tua, padahal peran sekolah sangat penting untuk deteksi dini. Kerja sama itu, lanjutnya, merupakan kunci agar terapi menghasilkan perubahan yang bermakna. Sebab, kondisi neurobehavior bukan untuk “disembuhkan”, tetapi dikendalikan melalui stimulasi, terapi perilaku, terapi okupasi, dan intervensi lanjutan sesuai diagnosis. Dengan komunikasi intens antara sekolah, keluarga, dan dokter, anak dapat dibantu mencapai perkembangan akademik, sosial, dan emosional yang lebih optimal.
