Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Gaya Hidup

Liburan Kami Hanya Delapan Ribu, Tapi Penuh Cerita

Hendra Susanto
Last updated: December 31, 2025 5:23 am
Hendra Susanto
Share
6 Min Read
SHARE

Keluar Rumah Tanpa Rencana Besar

Liburan kami hanya berlangsung dengan biaya delapan ribu rupiah. Tidak ada hotel, tidak ada tiket, dan tidak ada tujuan wisata yang pasti. Hanya angkot, jalan kaki, dan dua anak yang penuh rasa penasaran terhadap kota. Menjelang tahun baru, kami tidak sedang mengejar pengalaman besar. Kami hanya ingin keluar rumah sebentar dan bergerak bersama.

Contents
  • Keluar Rumah Tanpa Rencana Besar
  • Dari Gang Kontrakan Menuju Jalan Besar
  • Delapan Ribu Rupiah di Dalam Angkot
  • Kota yang Berhenti di Perlintasan Kereta
  • Turun di Paseban dan Melanjutkan Langkah
  • Berjalan Pelan, Berhenti Sebentar
  • Pertanyaan Anak tentang Kota
  • Cara Anak Bungsu Menikmati Sore
  • Kota Dilihat dari Atas Jembatan
  • Liburan dan Standar yang Kita Bentuk
  • Anak dan Pengalaman Langsung
  • Pulang dengan Cerita
  • Delapan Ribu Rupiah yang Tidak Kecil

Kami berempat: saya, suami, dan dua anak. Pada sore hari itu, kami sepakat pada satu hal sederhana: jalan-jalan sore. Tidak ada obrolan panjang tentang ke mana harus pergi. Tidak ada daftar tempat yang harus dikunjungi. Kami membiarkan langkah-langkah kami membawa kami ke mana saja.

Dari Gang Kontrakan Menuju Jalan Besar

Kami keluar dari gang kontrakan rumah di kawasan Percetakan Negara menuju jalan besar. Langkah kami pelan. Anak sulung berjalan di depan, sesekali berhenti melihat sekitar. Anak bungsu dituntun oleh suami. Begitu keluar dari gang, suara kendaraan mulai terdengar lebih jelas.

Di tepi jalan besar, angkot 04 Rawasari – Salemba lewat seperti biasa. Tidak lama menunggu, kami naik. Sore itu terasa biasa saja, tetapi justru di situlah keistimewaannya.

Delapan Ribu Rupiah di Dalam Angkot

Saya dan suami duduk bersebelahan. Angkot sore itu tidak terlalu penuh. Anak sulung sempat duduk sendiri untuk difoto. Tak lama, anak-anak kami pangku. Ongkos angkot empat ribu rupiah per orang. Totalnya delapan ribu rupiah. Perjalanan ini tidak menuntut perhitungan rumit. Tidak pula terasa memberatkan. Angkot melaju pelan. Jakarta sore hari bergerak dengan ritmenya sendiri. Padat, tetapi hidup. Anak-anak menatap ke luar jendela. Mereka menikmati setiap hal kecil yang melintas.

Kota yang Berhenti di Perlintasan Kereta

Tak lama, angkot melambat lalu berhenti. Palang pintu kereta menutup. Bel berbunyi nyaring. Kendaraan mengular dari dua arah. Kota seolah berhenti sejenak.

Bagi banyak orang dewasa, ini macet. Namun anak-anak tidak melihatnya begitu. Mereka bergeser sedikit di pangkuan kami. Mata mereka tertuju ke rel.

“Mah, keretanya panjang banget.”

“Itu ke mana, Mah?”

“Cepat ya jalannya.”

Kereta lewat dengan suara khas. Angin ikut menyapu wajah kami. Anak-anak tertawa kecil. Tidak ada keluhan. Tidak ada tanda bosan. Yang ada hanya rasa ingin tahu yang polos.

Turun di Paseban dan Melanjutkan Langkah

Palang pintu terbuka. Angkot kembali berjalan. Kami turun di ujung Jalan Paseban. Dari sini, perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Tanpa tujuan jelas. Hanya mengikuti langkah.

Sore di Paseban ramai. Orang-orang pulang kerja dengan wajah lelah. Pedagang mulai membereskan dagangan. Motor lalu lalang tanpa henti. Kami berjalan santai di tengah hiruk-pikuk itu.

Berjalan Pelan, Berhenti Sebentar

Kami tidak terburu-buru. Sesekali kami berhenti untuk menarik napas. Anak-anak melihat sekitar. Kami hanya membawa jaket, dua payung, dan botol minum. Tidak ada tas besar. Tidak ada rencana cadangan.

Langkah kecil seperti ini jarang mendapat tempat dalam cerita liburan. Padahal, justru di sini percakapan kecil muncul.

Pertanyaan Anak tentang Kota

Anak sulung mulai banyak bertanya.

“Mah, itu gedung apa?”

“Itu hotel ya, Mah?”

“Mah, itu tempat makan?”

“Boleh kita ke situ, Mah?”

Pertanyaan itu mengalir alami. Hingga satu pertanyaan membuat saya terdiam lebih lama.

“Mah, itu kok motor lewat jalan kita?”

Ia menunjuk trotoar tempat kami berjalan. Saya tidak langsung menjawab. Karena pertanyaan itu terlalu jujur. Anak melihat kota apa adanya, tanpa pembelaan.

Cara Anak Bungsu Menikmati Sore

Anak bungsu tidak banyak bertanya. Ia menikmati sore dengan caranya sendiri. Tertawa kecil. Melangkah ringan. Sesekali menunjuk sesuatu yang menarik perhatiannya. Baginya, berjalan bersama sudah cukup.

Kota Dilihat dari Atas Jembatan

Langkah membawa kami ke jembatan penyeberangan di kawasan Kramat. Kami naik perlahan dan berhenti di tengah. Dari atas, kota terlihat berbeda. Kendaraan tampak kecil. Suara lalu lintas terdengar berlapis.

Anak-anak menempel di pagar jembatan. Melihat mobil dan motor berlalu. Kami diam beberapa menit. Tidak ada yang terburu-buru. Momen kecil itu terasa utuh.

Liburan dan Standar yang Kita Bentuk

Liburan sering kita kaitkan dengan biaya. Padahal, menurut data Badan Pusat Statistik, pengeluaran rekreasi dan budaya rumah tangga perkotaan hanya sekitar tiga hingga lima persen dari total pengeluaran bulanan. Liburan bukan kebutuhan utama, tetapi sering dipaksakan menjadi keharusan sosial.

Media sosial ikut membentuk standar itu. Liburan harus jauh. Harus menarik. Harus layak dibagikan.

Anak dan Pengalaman Langsung

Berbagai kajian UNICEF menunjukkan, anak usia dini belajar paling kuat dari pengalaman langsung. Dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami sendiri. Bukan dari tempat mahal, melainkan dari interaksi nyata.

Sore itu, anak-anak belajar tentang kereta, gedung, trotoar, dan kota. Tanpa kami rencanakan, jalan sore berubah menjadi ruang belajar.

Pulang dengan Cerita

Saat langit mulai gelap, kami turun dari jembatan dan melangkah pulang. Kami kembali naik angkot dengan rute yang sama. Anak-anak masih bercerita tentang kereta dan kendaraan dari atas jembatan.

Tidak ada permintaan membeli apa pun. Tidak ada keluhan lelah.

Delapan Ribu Rupiah yang Tidak Kecil

Di rumah, saya baru menyadari satu hal. Anak-anak belum mengenal konsep liburan ideal. Dan mungkin, di situlah keberuntungan mereka. Karena bagi mereka, diajak jalan sore sudah cukup.

Liburan kami hanya delapan ribu rupiah. Namun sore itu, kami pulang dengan cerita.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByHendra Susanto
Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Gaya Hidup

Renungan Malam: Hidup Bebas Hutang

January 14, 2026
Gaya Hidup

Orang Tua Tetap Cantik, Ini 8 Kebiasaan yang Mereka Lakukan Menurut Psikologi

December 29, 2025
Gaya Hidup

10 Tanda Suami Berbohong, Waspada!

March 15, 2026
Gaya Hidup

7 Kebiasaan Skincare Wajib Dilakukan Usai Pesta

February 4, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?