Lulus Magister dan Jadi ASN, Kisah Inspiratif Putra Perbatasan Sebatik
Dari wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, lahir sosok inspiratif bernama Muhammad Rizal. Pria yang akrab disapa Rizal ini merupakan anak kedua dari dua bersaudara yang kini berhasil meraih gelar Magister Statistika dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berkat beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kini Ia resmi menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kanwil Kemenag Kalimantan Utara setelah lulus CPNS.
Anak TKI dari Perbatasan
Rizal tumbuh dari keluarga sederhana. Kedua orang tuanya merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang hingga kini masih bekerja di Malaysia. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rizal dan sang kakak dititipkan kepada pamannya di Sebatik demi mengenyam pendidikan yang layak. Setiap sebulan sekali orang tua datang menjenguk. Mungkin itu keputusan terberat bagi mereka, tapi semua demi pendidikan kami,” kenangnya.
Meski hidup sederhana, kedua orang tuanya memiliki satu prinsip kuat: pendidikan adalah prioritas. Mindset itulah yang terus dipegang Rizal hingga sekarang.
Berburu Beasiswa Sejak Dini
Semangat berburu beasiswa sudah tumbuh sejak Rizal duduk di bangku sekolah menengah atas. Ia mendapat informasi awal tentang Beasiswa Unggulan Kemendikbud dari seorang kakak tingkat, saat mengikuti kegiatan nasional. “Aku langsung kepoin dan tanya-tanya. Jangan malu bertanya, asal sudah baca panduannya dulu. Kita tidak cukup pintar untuk jalan sendirian,” ujarnya.
Tekadnya makin bulat saat hendak kuliah S1 di Yogyakarta. Ia sempat tak mendapat izin karena kondisi finansial keluarga yang juga harus membiayai sang kakak kuliah di tahun yang sama. Namun Rizal meyakinkan orang tuanya bahwa ia akan mengusahakan biaya kuliah sendiri. Hasilnya, Rizal dan kakaknya sama-sama meraih Beasiswa Unggulan Kemendikbud selama empat tahun hingga lulus sebagai sarjana.
Incar LPDP Sejak S1
Selepas S1, Rizal sudah menargetkan beasiswa LPDP yang dikelola pemerintah melalui Kementerian Keuangan. Ia mulai mempersiapkan diri jauh sebelum lulus. “Aku bikin folder khusus di laptop, checklist berkas, cari tahu syarat apa yang butuh waktu lama,” katanya. Salah satu syarat penting adalah kemampuan bahasa Inggris. Rizal bahkan berangkat ke Pare, Kediri, Jawa Timur untuk kursus selama sebulan demi memenuhi syarat TOEFL.
Ia mengingatkan bahwa tahap administrasi LPDP bersifat “hitam putih”. Artinya, semua dokumen harus sesuai ketentuan. “Kalau syarat IPK minimal 3.00, lalu IPK kita 2.90, ya pasti tidak lolos. Jadi benar-benar harus teliti dan disiplin,” tegasnya. Berkat persiapan matang, Rizal akhirnya lolos dan melanjutkan studi S2 Statistika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember melalui beasiswa LPDP.
Fasilitas Beasiswa dan Living Allowance
Rizal menjelaskan, komponen beasiswa LPDP terdiri dari dua bagian, yakni dana pendidikan dan dana pendukung. Dana pendidikan mencakup biaya pendaftaran, UKT/SPP, hingga buku. Sementara dana pendukung meliputi transportasi, dana hidup bulanan, hingga visa bagi penerima yang studi ke luar negeri. Selama kuliah di Surabaya, Rizal menerima living allowance sekitar Rp5 juta per bulan. Meski tidak besar, menurutnya dana tersebut cukup untuk kebutuhan hidup dan bahkan bisa ditabung karena penerima LPDP tidak diperbolehkan bekerja formal selama studi.
Aktif Organisasi dan Konferensi Internasional
Selama menempuh S2, Rizal aktif di Kelurahan LPDP ITS, organisasi bagi awardee LPDP di kampusnya. Ia dipercaya menjadi Ketua Divisi Minat dan Bakat. Beragam kegiatan digelar, mulai dari olahraga, kunjungan museum, hingga gathering awardee baru. Secara akademik, Rizal juga aktif mengikuti konferensi internasional, termasuk mempresentasikan paper di Kuala Lumpur, Malaysia pada ajang 5th International Conference on Applied & Industrial Mathematics and Statistics 2025.

Lulus CPNS, Kini ASN Kemenag
Di tengah proses studinya, Rizal mendapat informasi pembukaan CPNS dari seorang teman. Ia pun mulai mengumpulkan informasi terkait formasi dan instansi. Rizal memilih instansi kementerian, tepatnya Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan alasan sederhana: formasinya cukup banyak. Ia mengikuti seluruh tahapan seleksi mulai dari administrasi, SKD, SKB hingga SKBT. Pada pengumuman akhir Januari 2025, namanya dinyatakan lulus di posisi ke-3 dari 18 formasi yang tersedia.
Awalnya ia ditempatkan di pusat, Jakarta. Namun beberapa bulan kemudian, Rizal mendapat surat tugas untuk bertugas di Kanwil Kemenag Kalimantan Utara. “Orang tua senang, meski sempat sedih karena awalnya harus di Jakarta. Tapi ini sudah jalan yang dipilih, jadi harus siap dengan segala konsekuensinya,” katanya.
“Something to Sell”
Putra Perbatasan
Rizal berpesan kepada generasi muda Sebatik bahwa tidak ada trik khusus untuk mendapatkan beasiswa. Namun, setiap orang harus punya “something to sell”. “Kita dari perbatasan. Itu nilai plus kalau bisa dielaborasi dalam esai dan rencana studi. Tapi harus realistis dan terukur,” jelasnya. Ia mencontohkan, jangan menulis target yang terlalu muluk tanpa dasar yang jelas. “Buat yang sederhana dan natural, tapi bisa dipertanggungjawabkan.”
Menutup kisahnya, Rizal mengajak anak muda Sebatik untuk berani mencoba dan konsisten berusaha. “Seperti bunga matahari yang tidak pernah ragu menghadap ke mana, tugas kita hanya konsisten dalam usaha. Jangan takut mencoba. Aku tunggu kalian jadi awardee LPDP selanjutnya,” pungkasnya.
