Kehidupan dan Perjalanan Mariani dalam Merintis Azzuri Snack
Di sebuah rumah sederhana di Bengkong, Batam, aroma ikan tenggiri yang digoreng hangat tercium setiap pagi. Di tempat inilah Mariani, seorang perantau asal Karimun, memulai langkah kecilnya dalam merintis usaha kecil yang kini menjadi salah satu UMKM olahan laut unggulan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Dari rumah ini pula lahir Azzuri Snack, usaha yang dirintis di tengah himpitan ekonomi, tetapi tumbuh dalam ekosistem ekonomi syariah.
Mariani bukanlah lulusan tata boga. Ia datang ke Batam pada tahun 1995 sebagai pekerja pabrik. Di kota ini pula ia menemukan tambatan hati dan menikah. Kehidupannya berjalan sederhana hingga suatu fase sulit datang. Sang suami terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan Mariani merasa tidak bisa membantu apa-apa, bahkan sekadar beli garam.
Kegelisahan itu menjadi titik balik. Dari sana, ia mulai melangkah dengan keberanian. Ia belajar secara otodidak, menggunakan YouTube dan Google sebagai “sekolah” baginya saat itu. Awalnya, Mariani hanya membuat kue sederhana. Ia menitipkan bolu ke warung-warung dengan harga Rp1.000 per potong. Setiap pagi, sebelum mengantar anak ke sekolah, ia lebih dulu mengantar kue. Anak keduanya yang masih kecil kala itu duduk di boncengan motor, ikut menemani dan menjadi saksi perjuangan seorang ibu.
Dari nama anaknya, Panzuri, Mariani menamai usahanya Azzuri Snack. Bukan sekadar nama, tetapi ada doa, harapan, sekaligus pengingat perjuangannya dalam merintis usaha.
Melihat Peluang dari Laut
Tinggal di wilayah kepulauan membuat Mariani melihat peluang bisnis yang sangat potensial. Laut bukan sekadar sumber pangan, tetapi bisa menawarkan mimpi baru. Pada 2015–2016, ia mulai serius mengolah kerupuk ikan tenggiri. Ikan ini dikenal sebagai bahan premium dengan cita rasa kuat dan mudah diterima pasar.
Persaingan sudah ada, bahkan lebih dulu besar. Namun ia tak gentar. Pembinaan dari berbagai instansi, termasuk Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri yang ia dapatkan, membuat naluri usaha Mariani makin terbentuk. Ia pun memilih jalan berbeda dalam mengembangkan usaha kerupuk ikannya. Mariani membuat kerupuk tanpa bahan penyedap rasa, seperti MSG, agar bisa menyasar konsumen yang peduli pada kesehatan.
Pilihan itu perlahan membuahkan hasil. Produk Azzuri Snack mulai dikenal, berkembang, hingga menemukan pasarnya sendiri. Dalam perjalanannya, Azzuri Snack tidak tumbuh sendiri. Di baliknya, ada kontribusi dari para ibu rumah tangga di sekitar wilayah Bengkong Laut yang ikut terlibat dalam proses produksi.
Menguat dengan Prinsip Halal
Sejak awal merintis usaha, Mariani sudah mengurus sertifikat halal produk usahanya. Baginya, kehalalan produk bukan sekadar label, tetapi bagian dari prinsip usaha yang dijalankannya menggunakan bahan yang baik dan proses yang terjaga. Perjalanan Azzuri Snack pun tak berhenti di dapur produksi. Dari Bengkong, langkah kecil itu perlahan menapaki panggung yang lebih besar. Produk olahan laut khas Kepri itu bahkan ikut ambil bagian dalam Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera 2024.
Batam menjadi tuan rumah pelaksanaannya. Di sana, Azzuri Snack berdiri sejajar dengan pelaku usaha lain dalam ekosistem halal, membawa cerita tentang cita rasa laut yang diolah dengan prinsip syariah. Kini, seluruh varian Azzuri Snack telah bersertifikat halal, membuatnya semakin percaya diri menembus pasar yang lebih luas.
Limbah yang Menjadi Berkah
Di balik peningkatan produksi Azzuri Snack, sempat muncul persoalan baru, yakni limbah produksi. Tulang ikan yang tersisa dari proses produksi menumpuk dan menjadi masalah. Namun bagi Mariani, setiap masalah selalu menyimpan peluang. Ia mencoba mengolahnya kembali. Tulang direbus, dihancurkan, lalu dicampur ke dalam adonan kerupuk. Dari eksperimen sederhana itu, lahir produk baru, kerupuk tulang ikan tenggiri atau dinamainya Tulgi.
Inovasi ini bukan hanya mengurangi limbah, tetapi juga menambah nilai usaha Mariani yang sempat terpukul saat Pandemi Covid-19. Bahkan mengantarkan Azzuri Snack meraih penghargaan produk ramah lingkungan pada Gebyar Melayu Pesisir di Batam, beberapa tahun lalu.
Pertumbuhan Ekosistem Ekonomi Syariah di Kepri
Komitmen Mariani menghadirkan produk halal bukanlah cerita baru. Di Kepri, geliat serupa tengah menjadi tren di kalangan pengusaha UMKM. Hingga Juli 2025, Kantor Wilayah Kementerian Agama Kepri mencatat sebanyak 19.460 sertifikat halal telah terbit. Dari jumlah itu, sebagian besar berasal dari Batam. Totalnya 11.560 sertifikat halal, menjadikan Batam sebagai daerah dengan kontribusi terbesar.
Jumlah ini pun diperkirakan akan terus bertambah, seiring meningkatnya kesadaran pelaku usaha di Kepri terhadap pentingnya sertifikasi halal. Ketua Tim Urais dan Binsyar Kantor Wilayah Kementerian Agama Kepri, Titik Hindon, menyebut antusiasme pelaku UMKM di Kepri mengurus sertifikat halal terus menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun.
Program Sertifikat Halal Gratis (SEHATI) yang digulirkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal menjadi peluang besar bagi pelaku usaha kecil untuk naik kelas. Tak hanya sekadar memenuhi kewajiban, sertifikat halal kini dipandang sebagai pintu masuk untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar.
KURMA dan Peran UMKM dalam Ekonomi Daerah
Baru-baru ini, BI Kepri bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri menggelar event Kepulauan Riau Ramadan Fair (KURMA) 2026. Di kegiatan ini, peran UMKM seperti Azzuri Snack diperkuat. Kepala BI Perwakilan Kepri, Rony Widijarto, menegaskan pentingnya peran UMKM dalam ekonomi daerah. Ini adalah dukungan langsung terhadap pengembangan ekonomi syariah maupun UMKM. Kami melihat ini sangat strategis bagi Batam dan Kepri.
Pertumbuhan ekonomi Kepri yang tinggi perlu dijaga agar tetap inklusif, dengan UMKM sebagai salah satu penggerak utama yang terhubung dengan industri besar. Menurutnya, konektivitas ini akan menciptakan efek berganda bagi ekonomi lokal. Industri butuh banyak hal, mulai dari makanan, katering, hingga perlengkapan. Kalau ini bisa diisi UMKM lokal, dampaknya luar biasa.
Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, melihat KURMA sebagai ruang strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi daerah. KURMA bukan sekadar festival Ramadan, tetapi wadah promosi produk UMKM, penguatan pariwisata halal, edukasi keuangan syariah, hingga pelayanan publik.
Kesimpulan
Dengan dukungan tersebut, kisah milik Mariani diharapkan bisa menjadi inspirasi. Dari dapur kecil di Bengkong, langkahnya kini menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar mendorong UMKM naik kelas, memperluas pasar, dan ikut membentuk ekonomi Kepri yang lebih adil, merata, dan berkelanjutan.
