Profesor Afifuddin Harisah: Pemikir Pendidikan Islam Multikultural
Kiai Afifuddin Harisah, yang kini menjabat sebagai Guru Besar Pendidikan Islam Multikultural di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), telah mencapai prestasi luar biasa dalam bidang pendidikan dan keagamaan. Dengan usia 52 tahun, ia berhasil meraih gelar profesor setelah melalui perjalanan panjang dalam dunia akademik dan pesantren. Ia dikenal dengan konsep “mangaji tudang” yang menjadi model pendidikan berbasis kearifan lokal, bertujuan untuk memperkuat moderasi beragama dan deradikalisasi.
Latar Belakang dan Perjalanan Karier
Afifuddin lahir pada tanggal 22 Agustus 1973. Ia dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang dipimpin oleh ayahnya, Anre Gurutta Haji (AGH) Muh Harisah AS, seorang tokoh penting yang juga merupakan pendiri Ponpes An Nahdlah Makassar. Tradisi mengaji tudang yang diajarkan di pesantren tersebut menjadi fondasi awal dalam pembentukan pemikiran dan karakternya.
Selain itu, Afifuddin juga memiliki latar belakang pendidikan yang kuat. Ia menyelesaikan studi Strata Satu (S1) di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, dari tahun 1993 hingga 1997. Setelah itu, ia melanjutkan studi S2 di Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada periode 1999–2001 dengan fokus pada Ushuluddin/Akidah Filsafat. Gelar doktor diraihnya di UIN Alauddin Makassar antara 2009–2013.
Kontribusi dalam Dunia Pendidikan dan Dakwah
Sebagai dosen tetap di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin, Afifuddin tidak hanya aktif dalam pengajaran, tetapi juga dalam penelitian dan publikasi ilmiah. Ia terkenal dengan fokus pada isu moderasi beragama, pendidikan Islam, serta deradikalisasi. Banyak karya ilmiahnya muncul di jurnal internasional maupun nasional bereputasi.
Selain itu, Kiai Afifuddin juga dikenal sebagai pendakwah yang telah berkiprah selama lebih dari 20 tahun. Ia memiliki pendekatan dakwah yang santun, ramah, dan penuh kearifan. Ia juga aktif dalam memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan ajaran agama yang benar kepada masyarakat luas.
Peran dalam Pengembangan Pesantren
Afifuddin juga memiliki perhatian besar terhadap perkembangan pesantren. Ia pernah menjabat berbagai posisi penting seperti Ketua Program Studi, Wakil Dekan, hingga Dekan Fakultas Agama. Selain itu, ia juga pernah mengajar di Universitas Islam Makassar (UIM).
Dalam diskusi HUT27 PKB Sulsel, ia menyampaikan kritik terhadap komitmen pemerintah yang dinilai lemah dalam mendukung pesantren, khususnya dalam hal penganggaran. Menurutnya, keberadaan Peraturan Daerah (Perda) tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren harus diiringi dengan tindakan nyata, bukan hanya sebagai simbol politik semata.
Sejarah Pesantren An Nahdlah
Pesantren An Nahdlah yang kini menjadi salah satu institusi pendidikan ternama di Makassar, awalnya dimulai dari pengajian kecil di rumah AGH Harisah. Awalnya hanya 7 orang peserta, termasuk Afifuddin yang masih belia, pengajian ini disebut sebagai pengajian Ashabul Kahfi. Dari sinilah, pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan yang sangat berpengaruh.
Visi dan Misi
Kiai Afifuddin tidak hanya fokus pada pendidikan dan keagamaan, tetapi juga pada pengembangan masyarakat secara keseluruhan. Ia percaya bahwa pesantren harus didukung dengan kebijakan anggaran yang sesuai dengan karakteristik dasarnya. Ia menegaskan bahwa pesantren harus diawali oleh kehadiran kiai dan gurutta, bukan hanya sekadar label.
Dengan visi dan misinya yang jelas, Kiai Afifuddin terus berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis dan inklusif, dengan pendidikan Islam sebagai landasan utamanya.
