Poernomo adalah kepala Jawatan PMR Karesidenan Priangan dan Jan Willems adalah sersan Belanda saat Agresi Militer Belanda II. Keduanya yang pernah berhadap di masa revolusi bertemu secara tak sengaja di Amerika Serikat sebagai guru dan murid lalu menjadi sahabat.
Pengalaman Unik dalam Sejarah
Pertemuan antara dua orang dari negara yang pernah berseteru selama 3,5 abad ini merupakan kisah yang sangat menarik. Poernomo pernah harus menghadapi Jan Willems, seorang sersan Belanda pada Divisi 7 Desember, untuk membebaskan seorang anak buahnya yang tertangkap pasukan patroli Willems. Tak disangka, keduanya kemudian menjadi sahabat setelah bertemu di AS sebagai guru dan murid pada awal 1960-an.
Pertemuan yang Tidak Terduga
Saat itu, Poernomo sedang menjalani pelatihan di Bank of New York. Pada saat itu, dia diperkenalkan kepada Jan Willems oleh wakil presiden bank tersebut. Jan, yang merupakan kepala subdivisi internasional, menjadi pembimbing Poernomo selama masa pelatihan. Selama proses pelatihan, mereka sering berdiskusi dan saling mengenal lebih dalam.
Pada suatu kesempatan, Poernomo menyadari bahwa wajah Jan mirip dengan seseorang yang pernah ia temui. Ia mencoba mengingat-ingat dan akhirnya mengenali bahwa Jan pernah bertugas di Indonesia. Mereka mulai berbicara dalam bahasa Belanda, dan hal itu membuat suasana semakin hangat.
Kenangan Masa Lalu
Percakapan mereka membawa ingatan Poernomo ke sebuah peristiwa yang terjadi pada 18 April 1948. Saat itu, Poernomo bersama enam bawahan beserta keluarga mereka sampai di Desa Pasir-peuteuy, kurang-lebih 10 km timur laut Ciamis, Jawa Barat, dalam rangka mengungsi menghindari serangan tentara Belanda.
Di desa tersebut, Poernomo dan rombongannya membawa uang Rp40 juta serta kain belacu dan bahan pakaian untuk perempuan. Uang itu dimasukkan ke dalam beberapa besek agar tidak mencolok dan aman dari tangan Belanda maupun pencuri.
Peristiwa Bersejarah
Pada 17 April 1948, Poernomo sedang merayakan ulang tahun ketika tiba-tiba Sastro datang sambil terengah-engah. Ia memberitahu bahwa Sutadi, kepala PMR Kabupaten Tasikmalaya, ditangkap oleh patroli Belanda di Kawali. Poernomo langsung memutuskan untuk menghadap komandan pos Belanda tersebut.
Ia memakai setelan jas tropical wool dan sepatu Robinson untuk tampil prima. Setelah berbicara dalam bahasa Belanda yang lancar, Poernomo berhasil meyakinkan komandan bahwa Sutadi harus dibebaskan. Akhirnya, mereka sepakat bahwa dalam seminggu Poernomo dan anak buahnya akan meninggalkan daerah Kawali dan pergi ke Yogyakarta.
Hubungan yang Terjalin
Setelah 16 tahun, mereka kembali bertemu di Amerika Serikat. Jan mengatakan bahwa pertemuan tersebut seperti Arjuna dari kayangan. Mereka berbagi cerita dan saling mengenal lebih dalam. Selama masa pelatihan, Jan sering mengundang Poernomo makan di rumahnya dan mengajaknya bertamasya bersama keluarganya.
Hubungan yang Berlanjut
Setelah kembali ke tanah air, hubungan Poernomo dan Jan tetap terpelihara. Mereka sering berkomunikasi melalui surat dan ucapan selamat ulang tahun. Bahkan, setelah pensiun, Poernomo masih menjaga hubungan baik dengan Jan.
Kisah ini menunjukkan bahwa persahabatan bisa terjalin meskipun awalnya hanya sebagai musuh. Dalam masa kemerdekaan, anggota tentara yang dulunya menjadi musuh, kini duduk berdampingan sebagai sahabat yang karib.
