Eskalasi Konflik AS-Israel dengan Iran Mengancam Stabilitas Kawasan Teluk
Krisis yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran semakin memperburuk situasi di kawasan Teluk. Puncaknya, sejumlah fasilitas diplomatik dan infrastruktur sipil dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dan rudal yang diduga berasal dari Iran. Akibatnya, pemerintah AS memerintahkan evakuasi wajib bagi staf non-darurat serta keluarga mereka dari enam negara di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya terbatas pada ranah militer, tetapi juga menyebabkan krisis kemanusian dan diplomatik yang mengancam kehidupan warga sipil. Departemen Luar Negeri AS mengumumkan perintah evakuasi tersebut setelah ancaman serangan drone dan rudal dari Iran terus berlanjut. Selain itu, gangguan besar terhadap penerbangan komersial membuat opsi evakuasi bagi warga sipil semakin terbatas.
Beberapa negara seperti Irak disebut menghadapi risiko tinggi kekerasan dan penculikan, sementara potensi serangan teroris juga diperingatkan di Yordania, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Meski demikian, perintah evakuasi tidak otomatis berarti seluruh kedutaan ditutup. Kedutaan Besar AS di Kuwait telah mengumumkan penutupan sementara hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Pemerintah AS juga mendesak warga negaranya di kawasan Teluk untuk segera meninggalkan kawasan melalui jalur komersial. Namun, ribuan penerbangan internasional telah dibatalkan dan sejumlah bandara mengalami gangguan akibat serangan. Hingga saat ini, Washington belum memulai penerbangan evakuasi khusus bagi warga sipil Amerika.
Kedutaan AS dan Infrastruktur Sipil Jadi Sasaran
Di Arab Saudi, Kedutaan Besar AS dilaporkan dihantam dua drone pada dini hari. Dua drone lainnya disebut jatuh di atau dekat kompleks diplomatik di Riyadh. Kedutaan AS di Kuwait juga dilaporkan terkena serangan. Tidak hanya fasilitas diplomatik, sejumlah infrastruktur sipil turut terdampak. Di Bahrain, sebuah gedung apartemen bertingkat dihantam drone. Di Dubai, Bandara Internasional mengalami kerusakan akibat serangan. Otoritas Qatar menyatakan bahwa infrastruktur sipil turut menjadi target dan mengimbau warga untuk tetap berada di rumah serta mengikuti arahan pemerintah setempat.
Serangan terhadap fasilitas sipil ini mengguncang reputasi kawasan Teluk yang selama ini dikenal relatif aman dan menjadi pusat penerbangan internasional serta tujuan wisata dan ekspatriat. Bahkan Presiden AS Donald Trump menyebut serangan balasan terhadap negara-negara Teluk sebagai “mungkin kejutan terbesar” dalam konflik ini sejauh ini.
Iran Tuduh AS dan Israel Lakukan Kejahatan Perang
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Iran mengklaim lebih dari 160 siswi tewas dalam serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di Minab pada hari pertama perang. Selain itu, sebuah rumah sakit di Teheran dilaporkan ikut terdampak serangan. Juru bicara kementerian, Esmaeil Baqaei, menyebut penargetan infrastruktur sipil, fasilitas medis, sekolah, dan lembaga media sebagai tindakan yang disengaja untuk melumpuhkan kehidupan sipil. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan pihaknya tengah berupaya memverifikasi laporan serangan terhadap rumah sakit di Teheran. Sementara itu, juru bicara Komando Pusat AS menyatakan pihaknya menyadari laporan korban sipil dan sedang melakukan investigasi.
Warga Sipil dan Pekerja Migran Jadi Korban Tersembunyi
Di balik manuver militer dan diplomasi yang membara, ribuan warga sipil kini terjebak dalam ketidakpastian. Bandara-bandara tutup, penerbangan dibatalkan, dan jalur evakuasi terbatas. Banyak keluarga harus memilih bertahan di rumah di tengah ancaman serangan atau mencoba meninggalkan negara dengan risiko tinggi. Yang paling rentan adalah para pekerja migran—terutama dari Asia Selatan—yang dilaporkan termasuk di antara korban sipil di negara-negara Teluk. Mereka kerap bekerja di sektor konstruksi, layanan, dan industri dengan akses terbatas terhadap perlindungan dan jalur evakuasi mandiri.
Di Amerika Serikat sendiri, ribuan warga turun ke jalan di berbagai kota untuk memprotes perang yang dinilai berpotensi menyeret kawasan ke konflik berkepanjangan.
Krisis Meluas, Diplomasi di Ujung Tanduk
Penargetan fasilitas diplomatik menandai eskalasi serius yang menguji norma dan konvensi internasional. Sementara itu, serangan terhadap infrastruktur sipil memperdalam dimensi kemanusian konflik ini. Dengan pertahanan udara negara-negara Teluk yang terus diuji oleh ratusan drone dan rudal, pertanyaan besar muncul: berapa lama kawasan ini mampu menahan tekanan? Di tengah saling klaim dan pembalasan, satu hal yang paling nyata adalah kecemasan warga sipil—yang setiap malam menanti suara ledakan berikutnya, tanpa kepastian kapan semua ini akan berakhir.
