Kritik Jusuf Kalla terhadap Kebijakan Subsidi BBM
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), memberikan pendapatnya mengenai kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini sedang menjadi perhatian masyarakat. Menurut JK, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan pengurangan subsidi BBM daripada melakukan kebijakan work from home (WFH). Hal ini dilakukan karena kenaikan harga minyak dunia yang terus-menerus berdampak pada defisit anggaran negara.
“Kita minta agar dipertimbangkan untuk mengurangi defisit, mengurangi utang dengan cara mengurangi subsidi. Karena mengurangi subsidi berarti menaikkan harga dan itu dilakukan di banyak negara,” ujar JK di kediamannya, Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2026).
Bila Harga BBM Tetap Murah, Tidak Ada Penghematan
Menurut JK, jika harga BBM tetap murah, maka tidak akan ada penghematan. Masyarakat cenderung akan terus membeli BBM seperti biasanya, tanpa merasa perlu menghemat.
“Karena kalau harga murah seperti sekarang orang cenderung tidak berhemat. Dia akan jalan, macet, jalan karena murah BBM. Di samping itu subsidi akan meningkat terus. Nah kalau meningkat terus maka utang naik terus,” ujar dia.
“Jadi itulah sebabnya memang ada mengatakan jangan dinaikkan, iya betul, tidak dinaikkan mungkin sementara bagus tetapi utang akan menumpuk dengan subsidi yang besar. Itu yang paling berbahaya untuk kita semua. Kalau utang, semua kita kena. Ah itu masalah utang, masalah energi,” sambungnya.
Protes Kenaikan BBM Hanya Sementara
JK mengatakan bahwa apabila pemerintah menaikkan harga BBM, protes masyarakat hanya berlangsung sementara. Nantinya, masyarakat bisa menyesuaikan diri dalam penggunaan BBM.
“Ya, pasti sementara ada protes, tapi ingat yang paling banyak memakai BBM yang punya mobil, ya, yang punya mobil itu pertama dia lebih mampu jadi kalau naik saja 20-30 persen itu bagi mereka tentu tidak, biasa saja. Kedua, kalau motor tentu, bisa diatur,” ujar dia.
JK menambahkan bahwa pemerintah seharusnya bisa menjelaskan kepada masyarakat dengan baik. Apabila masyarakat dijelaskan dengan baik, maka mereka akan memahami alasan subsidi dikurangi.
“Pengalaman saya 20 tahun memang kalau dijelaskan kepada rakyat dengan baik, rakyat akan menerima. 2005, 2014, tidak ada demo karena kita jelaskan dengan baik. Apalagi ini masalah eksternal (ada perang),” ujar dia.

JK Anggap Lebih Baik Kurangi Subsidi Daripada WFH untuk Hemat BBM
JK menganggap lebih baik mengurangi subsidi daripada WFH untuk menghemat BBM. Menurutnya, kebijakan WFH justru memberatkan pemerintah, karena akan berdampak pada defisit anggaran dan utang.
“Kalau itu beban pemerintah artinya defisit, artinya utang, artinya beban kita semua. Ya, lebih baik kepada yang, agar kalau naik itu yang motor pasti kurang, pasti tinggal di rumah, pasti mungkin naik kendaraan umum macam-macam. Itu lebih efektif dibanding tadi itu harus semua tinggal di rumah, tapi dia keluar juga karena 3 hari itu long weekdays (long weekend), ya, mungkin keluar kota malah orang, ya, seperti itu,” ucap dia.

