Peristiwa Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis HAM Memicu Keprihatinan
Kasus penyiraman air keras terhadap seorang aktivis hak asasi manusia (HAM) kembali mengguncang ruang publik Indonesia. Kali ini, korban adalah Andrie Yunus, yang dikenal sebagai anggota Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK).
JK menegaskan bahwa kepolisian harus bekerja secara serius untuk mengungkap pelaku di balik aksi penyiraman air keras tersebut. Ia menyatakan bahwa peristiwa ini sangat disayangkan dan berharap aparat penegak hukum dapat memberikan respons yang cepat dan efektif.
Diduga Berkaitan dengan Aktivitas Korban
Menurut JK, tidak tertutup kemungkinan bahwa aksi penyiraman air keras tersebut berkaitan dengan aktivitas yang dilakukan oleh Andrie sebagai aktivis HAM. Ia menilai bahwa aparat kepolisian perlu menelusuri pihak-pihak yang mungkin merasa dirugikan oleh kegiatan Andrie selama ini.
“Ada hubungan dengan kegiatan yang bersangkutan. Jadi perlu kita lihat seperti itu. Siapa yang dirugikan, yang bertindak begitu,” ujarnya.
Namun, JK juga mengingatkan bahwa motif di balik serangan tersebut masih belum sepenuhnya diketahui. Ia menekankan pentingnya penyelidikan yang mendalam agar fakta sebenarnya dapat terungkap.
Motif Pelaku Masih Belum Pasti
Meski demikian, JK mengatakan bahwa berbagai kemungkinan tetap harus dipertimbangkan oleh aparat kepolisian. Tidak menutup kemungkinan pelaku bertindak tanpa motif serius atau hanya sekadar aksi spontan.
“Ada juga kita tahu ada anak-anak SMA yang hobinya hanya sekedar iseng, untuk mengirim begitu, kita tidak tahu ini. Jadi tinggal polisi yang harus aktif untuk melihat itu,” imbuh dia.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya penyelidikan yang mendalam agar fakta sebenarnya dapat terungkap secara jelas.
Mengingat Kasus Novel Baswedan
Dalam pernyataannya, JK juga mengingatkan publik pada kasus penyiraman air keras yang pernah menimpa mantan penyidik Novel Baswedan beberapa tahun lalu. Menurutnya, kemiripan modus dalam kedua kasus tersebut memunculkan pertanyaan apakah ada pihak tertentu yang berada di balik kejadian tersebut.
“Karena ini setelah KPK dulu, siapa namanya si Novel Baswedan, itu kena lagi. Berarti ada kelompok atau siapa itu, kita tidak tahu,” tuturnya.
Meski demikian, JK menegaskan bahwa dirinya tidak ingin berspekulasi sebelum ada hasil penyelidikan resmi dari kepolisian.
Korban Alami Luka di Wajah hingga Mata
Sebelumnya, aksi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dibenarkan oleh Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya. Menurut Dimas, serangan dilakukan oleh orang tidak dikenal dan mengakibatkan korban mengalami luka serius di beberapa bagian tubuh.
“Terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata,” ujar Dimas dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi Kompas.com, Jumat (13/3/2026).
Terjadi Usai Rekaman Podcast di Kantor YLBHI
Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah Andrie menyelesaikan rekaman siniar di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Podcast tersebut mengangkat tema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” dan selesai direkam sekitar pukul 23.00 WIB.
Tak lama setelah kegiatan itu berakhir, Andrie menjadi korban penyiraman air keras. Ia kemudian segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Dari hasil pemeriksaan dokter, korban mengalami luka bakar di kedua tangan, dada, wajah, hingga bagian mata.
Diduga Upaya Membungkam Suara Kritis
Pihak KontraS menilai serangan tersebut bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan berpotensi menjadi bentuk teror terhadap para pembela hak asasi manusia. “Atas informasi yang kami himpun tersebut, kami menilai bahwa tindakan penyiraman air keras ini merupakan upaya untuk membungkam suara-suara kritis masyarakat, khususnya pembela HAM,” ujar Dimas.
Kini, kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus tengah ditangani oleh aparat kepolisian. Publik menunggu keseriusan penegak hukum untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan yang kembali mengingatkan masyarakat pada kasus serupa di masa lalu.
