Peristiwa kehilangan Rizky Ridho tidak boleh terulang kembali bagi tiga pemain muda Persebaya Surabaya. Wacana kontrak jangka panjang menjadi alarm yang mengingatkan manajemen akan pentingnya melindungi aset berharga klub.
Momentum ini muncul setelah Persebaya Surabaya ditahan imbang Borneo FC dengan skor 2-2 dalam pertandingan pekan ke-15 Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (20/12). Hasil seri tersebut mengecewakan karena Persebaya tampil dominan di babak kedua namun gagal meraih poin penuh. Kini, Green Force berada di posisi keenam klasemen sementara dengan 19 poin.
Di balik kekecewaan, ada harapan besar dari lini tengah Persebaya Surabaya. Tiga gelandang muda hasil didikan internal mulai menunjukkan potensi untuk menjadi fondasi masa depan klub.
Tiga Gelandang Muda Potensial
Persebaya Surabaya memiliki tiga gelandang muda dengan karakter dan peran yang berbeda. Masing-masing dari mereka memiliki kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi, sehingga sulit untuk dibandingkan satu sama lain.
1. Moch Ichsas Baihaqi
Gelandang berusia 18 tahun ini memiliki sentuhan bola rapi dan visi umpan ke depan yang menjanjikan. Musim ini, Ichsas telah tampil tiga kali dengan total waktu bermain 72 menit. Ia mencatat akurasi operan sebesar 76 persen dan nilai pasar sebesar Rp 869.08 juta.
Ichsas biasanya bermain sebagai gelandang tengah, tetapi juga bisa bermain sebagai gelandang serang atau bertahan. Fleksibilitas ini membuatnya terlihat matang secara permainan meskipun usianya masih sangat belia.
2. Toni Firmansyah
Toni Firmansyah adalah gelandang berusia 20 tahun asal Surabaya yang dikenal memiliki stamina dan daya jelajah tinggi. Dia piawai dalam mengalirkan bola dari belakang ke depan dengan konsistensi yang stabil di level tertinggi.
Musim ini, Toni sudah tampil 11 kali dengan total 759 menit bermain bersama Persebaya Surabaya. Catatan akurasi operan sebesar 85 persen, empat keypass, dan nilai pasar sebesar Rp 2,17 miliar menegaskan perannya sebagai motor lini tengah.
3. Sadida Nugraha Putra
Sadida Nugraha Putra adalah gelandang bertahan berusia 20 tahun yang memiliki keunggulan dalam membaca permainan. Posturnya setinggi 175 sentimeter membuatnya kuat dalam duel udara dan disiplin saat melakukan intersep maupun tekel.
Sadida telah tampil tujuh kali musim ini dengan total waktu bermain 240 menit. Ia mencatat akurasi operan sebesar 87 persen dengan satu keypass dan hanya satu kartu kuning, angka yang mencerminkan ketenangan bermain.
Peluang Bersama dan Harapan Jangka Panjang
Secara komposisi, ketiga pemain ini bisa saling mengisi jika diberi ruang berkembang bersama. Jika ada kompetisi pendamping seperti Piala Indonesia, mereka ideal untuk diturunkan bersamaan saat menghadapi klub kasta lebih rendah.
Pertanyaan menarik pun muncul: apakah sudah waktunya trio muda ini dipasang bersamaan di Super League? Keberanian memberi menit bermain berkelanjutan bisa menjadi investasi jangka panjang yang sangat berharga.
Respons Bonek menunjukkan harapan besar terhadap para pemain muda tersebut. Beberapa suporter menyampaikan bahwa Ichsas lebih sering diberi kesempatan bermain dan memiliki mental bermain yang oke. Dukungan lain menyoroti pentingnya proteksi kontrak agar aset klub tidak lepas percuma.
Beberapa Bonek juga memuji kualitas teknis Ichsas. “Ichas memiliki ketenangan luar biasa dan ambek umpan terobosan,” ujar salah satu suporter. Harapan pengembangan jangka panjang terus disuarakan dengan nada yang sama. “Semoga bisa dikembangkan dengan baik sama Persebaya, kontrak jangka panjang wajib diberikan,” ujar salah satu Bonek.
Seruan paling tegas datang dari Bonek yang ingin manajemen bergerak cepat. “Kontrak langsung 3-5 tahun,” ujar salah satu Bonek. Kontrak jangka panjang kini menjadi pagar penting agar Persebaya Surabaya tidak mengulang kisah pahit masa lalu. Perpindahan Rizky Ridho ke Persija Jakarta pada musim 2023/2024 masih menjadi luka yang relevan untuk dijadikan pelajaran.
