Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Politik

Ibu dan Perang

Dian Sasmita
Last updated: March 10, 2026 12:24 am
Dian Sasmita
Share
5 Min Read
SHARE

Seorang Ibu yang Memahami Kekacauan Dunia

Saya adalah seorang ibu. Pendidikan saya tidak tinggi, dan saya bukan ahli politik atau pengamat militer. Namun, akhir-akhir ini saya merasa perlu belajar membaca berita dunia karena ternyata, perang yang terjadi jauh di sana bisa dirasakan hingga ke dapur rumah kita.

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Di beberapa belahan bumi, suara ledakan bukan lagi sekadar cerita film. Ketegangan antara Thailand dan Kamboja terus diberitakan. Di Asia Selatan, Afganistan harus bersiap menghadapi ancaman dari Pakistan. Di Eropa Timur, Ukraina masih bertahan menghadapi serangan dari Rusia. Dan yang paling memuat saya merinding adalah kabar dari Timur Tengah.

Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat semakin terbuka. Sabtu kemarin, 28 Februari, eskalasi terjadi. Serangan dilaporkan menghantam wilayah Ibu Kota Teheran dan beberapa kota lain. Infrastruktur rusak. Korban berjatuhan. Bandara ditutup. Penerbangan dibatalkan. Jamaah Umroh dari Indonesia pun ikut berdampak, tertahan karena jalur penerbangan terganggu.

Perang memang selalu begitu. Selalu menimbulkan kecemasan. Tidak pernah hanya soal tentara dan senjata. Selalu ada rakyat kecil yang ikut menanggung akibatnya.

Baru belakangan ini saya belajar tentang geopolitik. Awalnya cuma karena penasaran. Tapi makin dibaca makin terasa dekat. Pernyataan Yusuf Kalla bahwa perang Iran-Israel berpotensi membuat harga BBM di Indonesia sulit dan mahal bukanlah alarm kosong. Dalam perspektif ekonomi politik global, konflik di kawasan penghasil energi memang hampir selalu berdampak volatilitas harga minyak mentah. Kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan ongkos distribusi, yang pada akhirnya mendorong harga beras, sembako, dan kebutuhan pokok lainnya. Beban terbesar hampir selalu jatuh pada kelompok rentan.

Sebagai ibu, saya tidak bisa mengontrol konflik antara Iran dan Israel. Kita memang tidak memiliki kendali atas keputusan perang dan damai para pemimpin dunia. Kita tidak berada di ruang negosiasi internasional. Namun kita memiliki kendali atas ruang yang lebih kecil, tapi tidak kalah strategis, yaitu keluarga.

Pertanyaannya, apakah kita sudah siap menghadapi ketidakpastian global? Takut itu manusiawi. Saya pun takut. Takut harga kebutuhan melonjak. Takut ekonomi goyah. Takut masa depan anak-anak jadi lebih berat dari hari ini. Tapi kemudian sadar akan satu hal, panik tidak menyelesaikan apa-apa. Daripada sibuk menebak-nebak arah politik dunia, mungkin lebih baik kita sibuk memperkuat isi rumah.

Rumah bukan sekedar bangunan. Rumah adalah tempat anak-anak merasa aman baik secara fisik maupun emosional. Kalau sistem keluarga runtuh, ibaratnya jantung yang kehilangan aliran darah. Teringat pesan Buya Hamka, bahwa kekuatan ummat dimulai dari rumah. Jika perempuan runtuh secara iman dan akhlak maka generasi runtuh bahkan sebelum medan perang dimulai.

Kalimatnya sederhana tapi dalam sekali. Di negara manapun, tidak ada ibu yang ingin perang. Kami para ibu hanya bisa cemas dalam diam. Berdoa lebih lama. Memeluk anak-anak lebih erat. Karena dibalik semua perbedaan agama, bangsa, dan bahasa, ibu di Iran, Ibu di Palestina, Ibu di Ukraina, Ibu di Indonesia semuannya sama. Kami hanya ingin anak-anak tumbuh tanpa rasa takut.

Pendidikan anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke sekolah. Ibu harus cukup ilmu untuk mendampingi. Minimal mengerti apa yang mereka pelajari, tahu bagaimana membimbing mereka berpikir kritis, dan bisa mengajarkan nilai-nilai dasar tentang kemanusiaan. Anak-anak kita tumbuh dengan gawai di tangan. Informasi datang tanpa saringan. Kalau ibu tidak belajar, siapa yang akan membantu mereka memilah mana yang benar, mana yang propaganda.

Kita tidak tahu apakah perang akan membesar atau mereda atau peta politik dunia akan berubah. Kita belum tahu. Yang sebaiknya yang dilakukan sekarang adalah membangun optimisme sebagai strategi untuk bertahan. Bukan berarti menutup mata dari bahaya. Di zaman penuh kepastian, yang bertahan bukan selalu yang paling kuat secara fisik. Tapi yang paling kuat menjaga iman, akal sehat, dan solidaritas.

Kalau perang benar-benar datang, entah dalam bentuk krisis ekonomi atau kekacauan sosial, kita ingin anak-anak tetap punya satu tempat yang tidak runtuh yaitu rumahnya. Perempuan bukan penonton sejarah. Ibu adalah arsitek generasi. Ia mungkin tidak tercatat dalam dokumen perjanjian damai, tapi kontribusinya menentukan arah masa depan.

Peperangan mungkin mengguncang dunia. Namun selama rumah-rumah tetap dijaga dengan ilmu, iman, dan kasih sayang, harapan akan selalu memiliki tempat untuk tumbuh. Kita hanya bisa menanti dalam ketidakpastian yang mencekam.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByDian Sasmita
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Politik

Farhan, Buky, dan Tommy Bersaing Jadi Ketua Umum PSSI Jabar

December 3, 2025
Politik

Ketua Fraksi PAN Bantah Tuduhan ART Cubit Anggota DPRD Bengkulu

March 10, 2026
Politik

Kunjungi Kantah Humbang Hasundutan, Ini Pesan Wamen Ossy

April 6, 2026
Politik

Wabup Termiskin Jawa Timur, Harta Rp 542 Juta dan Utang Banyak

April 15, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?