Kenaikan Harga Plastik Mengancam Keuntungan Pedagang Kecil
Kenaikan harga produk plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai menekan para pedagang kecil, terutama mereka yang bergantung pada kemasan sekali pakai. Salah satu contohnya adalah Rizki, seorang pedagang pentol dan minuman keliling di kawasan Jalan A Yani, Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut. Ia mengalami penurunan keuntungan sebesar Rp 1 juta per bulan akibat kenaikan harga kemasan plastik.
Perubahan Harga Kemasan Plastik yang Signifikan
Menurut Rizki, harga berbagai jenis kemasan plastik telah mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai sekitar 40 persen. Kenaikan ini terjadi sejak beberapa hari menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Contohnya, gelas plastik ukuran jumbo yang sebelumnya Rp 15 ribu per pak (isi 50) kini menjadi Rp 21 ribu. Sementara tutup gelas melonjak dari Rp 5 ribu menjadi Rp 11 ribu per pak dengan jumlah yang sama.
“Kenaikan ini sangat terasa karena setiap hari kami butuh banyak kemasan. Untuk es teh jumbo saja bisa habis sekitar tiga pak per hari,” ujarnya, Jumat (3/4).
Selain itu, plastik kresek ukuran kecil yang biasa digunakan untuk membungkus gorengan juga ikut naik dari Rp 3 ribu menjadi Rp 7 ribu per pak isi 100 lembar. Plastik transparan untuk bungkus pentol pun meningkat dari Rp 8 ribu menjadi Rp 12 ribu per pak isi 150 lembar.
Tidak Berani Menaikkan Harga Jual
Meskipun biaya operasional meningkat, Rizki belum berani menaikkan harga jual. Es teh jumbo masih dijual dengan harga Rp 5.000 per gelas. Ia khawatir kenaikan harga atau pengurangan kualitas akan membuat pelanggan beralih ke pedagang lain.
“Saingan banyak, kalau harga dinaikkan takut pembeli lari. Jadi sementara ini bertahan saja, walaupun keuntungan menurun,” katanya.
Rizki mendengar bahwa lonjakan harga plastik dipicu oleh kondisi global, terutama perang di Timur Tengah. Perang tersebut membuat suplai minyak, yang juga bahan pembuat plastik, terhambat.
“Mudah-mudahan kondisi cepat membaik, supaya harga plastik kembali normal,” harap Rizki.
Dampak pada UMKM Camilan
Endah Sulistiorini, pemilik usaha mikro kecil menengah (UMKM) camilan Firayuri Garden, Banjarmasin, juga terdampak naiknya harga plastik kemasan. Apalagi dia sangat memerlukannya terutama saat mengikuti kegiatan seperti bazaar.
“Kami mesti menyesuaikan harga,” ujar produsen camilan antara lain keripik daun anggur tersebut. Keputusan tersebut tak bisa dihindari karena pihak percetakan juga menaikkan harga.
“Tapi saya menaikan harga secara perlahan, tidak langsung. Kami juga berupaya menetapkan harga setelang dihitung HPP (Harga Pokok Produksi),” jelas Endah.
Menurut Endah, camilan produksinya adalah bentuk kering, sehingga tidak bisa beralih dari kemasan plastik ke kemasan bahan lain. Endah menggunakan kemasan standing pouch. Untuk satu pak ukuran 14×24 yang biasanya Rp 28 ribu menjadi Rp 40 ribu. “Plastik bungkus ada kenaikan sekitar 10 persen,” ungkapnya.
Masalah Serupa Dialami Pemilik Usaha Lain
Rara, pemilik Dapur Palam, menyatakan harga produk plastik naik 40 persen atau rata-rata per pak naik Rp 2 ribu-Rp 5 ribu, dari harga Rp 10 ribu jadi Rp 12 ribu-Rp 15 ribu. Kemudian plastik putih per pak dari bisanya Rp 17 ribu menjadi Rp 25 ribu.
“Saya tidak ada alternatif lain, tetap saja dibeli plastik untuk bungkusan,” ujar Rara seraya mengatakan tidak menaikan harga jual.
Demikian pula pemilik usaha Suka Tahu, Banjarmasin, Reny Anata. “Dilema mau naikkan harga jual ragu, tidak dinaikkan keuntungan menipis,” ujarnya, Minggu (5/4). Kenaikan harga dirasakannya dari awal 2026. Saat itu harga saus cup dari harga Rp 9 ribu menjadi Rp 13 ribu per pak.
Untuk menjaga stabilitas usaha, dia mencari kemasan di toko-toko plastik yang masih menjual dengan harga lebih murah. Sebab jika membeli di e-commerce masih terkendala ongkos kirim.
“Kalau untuk mengganti bungkus produk dengan alternatif, belum dipertimbangkan karena harus menyesuaikan produk,” ucapnya.
Kekosongan Stok Plastik di Toko-Toko
Sedang Pemilik Rumah Alam Sungaiandai, Rakhmalina Bakhriati, menuturkan selain harga melejit, stok plastik pun kosong di toko-toko kemasan.
“Masih bertahan sambil memantau harga. Kalau plastik tetap tinggi, kemungkinan harga jual tetap tapi ukuran diperkecil,” ucapnya.
Rumah Alam Sungaiandai menyediakan aneka makanan dan minuman baik di tempat maupun dibawa pulang.
