Peningkatan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi di Lampung
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengimbau seluruh kepala daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Hal ini dilakukan seiring dengan peningkatan intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir.
Mirza menyampaikan bahwa instruksi untuk meningkatkan kewaspadaan telah diberikan sejak dua pekan lalu melalui apel kesiapsiagaan. Ia menekankan pentingnya pembentukan satuan tugas (satgas) tanggap bencana di setiap kabupaten dan kota.
Selain pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan juga diminta untuk terlibat aktif dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Mirza menegaskan bahwa semua organisasi kemasyarakatan sudah diperintahkan untuk segera membuat pelatihan tanggap bencana di masing-masing daerah.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih aktif memantau informasi cuaca dari BMKG. Menurutnya, proyeksi cuaca yang tersedia kini lebih detail hingga tingkat kecamatan.
Peringatan BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung mengeluarkan peringatan tentang potensi bencana hidrometeorologi seiring dengan masuknya musim hujan. Selama periode Desember 2025 hingga Januari 2026, BMKG mengimbau semua pihak untuk mewaspadai potensi bencana banjir, angin puting beliung, longsor, hingga gelombang tinggi.
Prakirawan BMKG Lampung Anriko Ramadhan Saputra menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini mendukung peningkatan intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah. Peningkatan ini ditandai dengan penguatan pola konvektif yang terjadi setelah beredarnya sistem Siklon Tropis di kawasan Sumatera Barat.
Secara spesifik, Anriko menyebutkan bahwa nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang tinggi dan indeks Nino3.4 yang negatif mengindikasikan adanya kondisi La Nina lemah. “Kondisi ini sangat berkaitan dengan peningkatan curah hujan di Indonesia bagian barat dan selatan. Oleh karena itu, kita memprediksi Lampung akan berada di puncak musim hujan pada bulan Desember ini dan Januari mendatang,” ujar Anriko.
Empat Potensi Bencana Utama
Anriko merinci empat potensi bencana utama yang harus diwaspadai, yaitu:
- Banjir bandang dan luapan sungai yang sangat mungkin terjadi pada daerah aliran sungai (DAS) yang menerima curah hujan intens dalam waktu singkat.
- Banjir dan genangan harus diwaspadai, terutama di daerah dataran rendah perkotaan seperti Bandar Lampung dan Metro, yang sering mengalami kendala pada sistem drainase.
- Ancaman longsor atau gerakan tanah juga mengintai daerah perbukitan dan lereng di Lampung Barat, Tanggamus, dan sebagian Lampung Selatan, termasuk wilayah kaki Bukit Barisan.
- Angin kencang dan puting beliung berpotensi mengakibatkan kerusakan pada atap rumah dan menumbangkan pepohonan.
Selain ancaman berbasis daratan, BMKG juga meminta kewaspadaan tinggi terhadap gelombang tinggi, abrasi, dan potensi pasang-surut ekstrem. Kondisi ini berisiko terjadi di perairan selatan Lampung, Selat Sunda bagian barat, dan Teluk Lampung, terutama jika ada peningkatan kecepatan angin (wind fetch) akibat sistem gelombang atau siklon di sekitarnya.
Mitigasi dan Koordinasi
Terkait mitigasi, BMKG Lampung telah mengintensifkan pemantauan real-time melalui satelit, radar cuaca, serta stasiun meteorologi dan hidrologi, serta menerbitkan peringatan dini secara berkala ke publik. “BMKG juga berkoordinasi dengan lintas instansi seperti BPBD provinsi/kabupaten, Dinas Pekerjaan Umum, SAR, TNI/Polri, dan pihak pelabuhan untuk memastikan kesiapsiagaan operasi dan penyiapan jalur evakuasi,” kata dia.
BMKG Lampung juga merekomendasikan pemerintah daerah melakukan percepatan pembersihan saluran dan drainase di kota-kota besar, penguatan patroli, sosialisasi di komunitas pesisir dan lereng, serta penyiapan logistik darurat.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat tetap tenang namun selalu waspada dalam menghadapi situasi yang ada. Masyarakat diminta untuk memantau terus informasi resmi dari BMKG Lampung dan mengikuti arahan dari BPBD setempat.
Dirikan Posko Gustaluk
Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan, Lampung turut terdampak fenomena siklon yang terjadi di wilayah Samudera Hindia sehingga risiko bencana hidrometeorologi semakin tinggi. “Kita saat ini memasuki musim siklon yang bersumber dari Samudera Hindia, dan Lampung termasuk wilayah yang berdekatan dengan Samudera Hindia. Karena itu, kita harus siap menghadapi segala kemungkinan,” kata Rudy.
Untuk memastikan pemantauan berjalan optimal, BPBD Lampung telah mengaktifkan posko siaga bencana yang beroperasi sepanjang waktu. “Kami di Provinsi Lampung membuat posko siaga 24 jam, namanya Posko Gustaluk. Di sana pemantauan dilakukan secara real time terhadap kondisi cuaca, angin, hingga potensi siklon,” jelasnya.
Melalui pemanfaatan sistem informasi cuaca dan teknologi pemantauan lainnya, seluruh pergerakan awan dan hujan dapat diakses dengan detail oleh tim di lapangan. “Kita juga selalu berkoordinasi dengan BMKG terkait update cuaca harian maupun real time,” sambung Rudy.
Dalam menghadapi cuaca ekstrem, BPBD Lampung mengimbau warga untuk mengikuti perkembangan informasi cuaca dari kanal resmi BPBD dan BMKG. “Selain itu kami mengimbau untuk menghindari kegiatan di daerah rawan banjir dan longsor saat hujan lebat. Waspada saat melintas di wilayah perbukitan atau bantaran sungai,” ujarnya.
Termasuk tidak menebang pohon sembarangan dan menjaga keberlanjutan hutan sebagai penahan longsor. “Kami mengimbau masyarakat untuk selalu meng-update informasi cuaca dan iklim, baik dari media sosial BMKG maupun BPBD. Dengan begitu kita bisa lebih waspada dan menyiapkan langkah antisipasi sejak dini,” tegas Rudy.
BPBD Lampung juga mengingatkan pemerintah kabupaten/kota untuk mengaktifkan sistem peringatan dini dan memastikan jalur evakuasi aman apabila terjadi bencana.
