Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Politik

Greenpeace Kritik Pengelolaan Hutan RI di Tengah Bencana Sumatra

Amanda Almeirah
Last updated: December 3, 2025 10:16 am
Amanda Almeirah
Share
6 Min Read
SHARE

Contents
  • Peringatan Bencana yang Menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat
  • Dampak Banjir dan Krisis Iklim
  • Kerusakan Hutan di Daerah Aliran Sungai
  • Kasus DAS Batang Toru yang Mengalami Kerusakan Parah
  • Evaluasi Tata Kelola Hutan

Peringatan Bencana yang Menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat

Greenpeace mengajukan permintaan kepada pemerintah untuk menetapkan bencana yang menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sebagai bencana nasional. Permintaan ini disertai dengan tuntutan agar bantuan penanggulangan bencana segera dikerahkan secara cepat dan tepat. Selain itu, bencana ini juga dianggap sebagai peringatan bagi pemerintah untuk membenahi tata kelola hutan, kebijakan lingkungan, serta iklim secara menyeluruh.

“Banjir besar ini menunjukkan satu hal: dampak tak terhindarkan dari krisis iklim dan kerusakan lingkungan yang telah dibiarkan memburuk selama bertahun-tahun,” ujar Kepala Tim Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Arie Rompas, dalam pernyataan resmi.

Dia menjelaskan bahwa dampak krisis iklim dapat dilihat dari cuaca ekstrem yang semakin meningkat, termasuk hujan lebat yang diperparah oleh kemunculan Siklon Tropis Senyar pada 25–27 November 2025 di Selat Malaka.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), keberadaan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka yang berdampak pada daratan Sumatra di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi mengingat wilayah tersebut berada dalam kisaran lima derajat dari garis khatulistiwa.

Dampak Banjir dan Krisis Iklim

Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik menyatakan bahwa hujan ekstrem akan terus menghantui sebagai konsekuensi langsung dari krisis iklim. Sebagai negara kepulauan yang rawan bencana, dampak krisis iklim bukan hanya sekadar angka tapi juga mengancam nyawa.

“Kami membutuhkan target dan aksi iklim yang ambisius, tidak bisa lagi mengandalkan upaya mitigasi dan adaptasi yang hanya ada di atas kertas. Tidak boleh lagi ada solusi palsu (seperti biofuel) dalam kebijakan iklim nasional, kebijakan harus dialihkan dari mengutamakan segelintir pihak menjadi memastikan kelayakhunian bagi semua,” katanya.

Kerusakan Hutan di Daerah Aliran Sungai

Faktor lain yang memperparah dampak besar banjir di Sumatra adalah kerusakan hutan, termasuk di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS). Analisis Greenpeace berdasarkan data Kementerian Kehutanan menemukan bahwa selama periode 1990–2024, sebagian besar hutan alam di Provinsi Sumatera Utara telah dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit, pertanian lahan kering, dan perkebunan kayu pulp. Situasi serupa juga terjadi di Aceh dan Sumatra Barat.

Peneliti senior Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menjelaskan bahwa mayoritas DAS di Pulau Sumatra berada dalam kondisi kritis, dengan tutupan hutan alam kurang dari 25%. “Sementara itu, secara keseluruhan kini hanya tersisa 10–14 juta hektare hutan alam, atau kurang dari 30 persen dari luas Pulau Sumatra yang mencapai 47 juta hektare,” terangnya.

Kasus DAS Batang Toru yang Mengalami Kerusakan Parah

Salah satu DAS yang mengalami kerusakan sangat parah adalah DAS Batang Toru, yang mencakup Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah. Sebagai salah satu kawasan hutan tropis terakhir di Sumatra Utara, wilayah ini dibebani berbagai industri rakus lahan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru yang selain menghancurkan hutan juga menyingkirkan habitat tersisa orangutan Tapanuli yang baru diidentifikasi.

Greenpeace dalam analisanya mengungkapkan bahwa pada periode 1990–2022, di DAS Batang Toru seluas 70 ribu hektare atau 21% kawasan mengalami deforestasi. Kini hanya 49% wilayah yang masih berhutan. Adapun wilayah yang telah diberi izin untuk industri ekstraktif dan berbasis lahan mencapai 94 ribu hektare atau sekitar 28% dari total kawasan. Sebagian besar berupa izin kehutanan, pertambangan, dan sawit.

Potensi erosi total tahunan sangat parah, mencapai 31,6 juta ton, dengan sekitar 56% wilayah rawan mengalami tingkat erosi tahunan lebih dari 180 ton per hektar. Terakhir, DAS Batang Toru bagian hulu telah dikonversi menjadi pertanian lahan kering, sementara wilayah hilir menjadi perkebunan kelapa sawit. Hutan alam tersisa terutama berada di bagian tengah DAS Batang Toru.

Evaluasi Tata Kelola Hutan

Arie meminta agar pemerintah Indonesia melakukan pembenahan besar-besaran terhadap tata kelola lahan dan hutan untuk menyelamatkan alam dan masyarakat dari bencana yang dipicu krisis iklim. “Dengan krisis iklim yang semakin memburuk, deforestasi dan penurunan drastis kemampuan lingkungan akan menjamin meningkatnya kerusakan saat cuaca ekstrem terjadi,” kata dia.

Pemerintah, menurut dia, harus mengakui bahwa mereka salah dalam tata kelola hutan dan lahan. Menurutnya, akibat kerakusan korporasi dan salah kelola pemerintah, hutan Sumatra yang dulunya sangat luas kini sangat berkurang, dan masyarakat Sumatra harus menanggung dampak bencana ekologis yang tak tertahankan ini.

Selain itu, pihaknya juga meminta pengevaluasi izin-izin di Sumatra, pemerintah juga dinilainya harus menghentikan perusakan hutan di wilayah lain. “Hentikan perusakan hutan yang terjadi di Raja Ampat dan pulau-pulau kecil lain yang dikeruk untuk pertambangan nikel, serta rencana deforestasi besar-besaran di Merauke, Papua Barat, dengan kedok produksi biofuel dan perkebunan skala industri. Pertumbuhan ekonomi 8% yang diimpikan Prabowo tidak akan pernah tercapai jika lingkungan dirusak dan bencana iklim terus mengancam kita semua,” tandasnya.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByAmanda Almeirah
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Politik

AS, Israel, dan Qatar Lakukan Pembicaraan Rahasia di New York

December 14, 2025
Politik

Khamenei Berbicara di Tengah Gencatan Senjata Iran-AS, Apa yang Dikatakannya?

April 20, 2026
Politik

Trump Akan Tulis Sejarah, Tanda Tangannya Muncul di Uang Dolar AS

April 3, 2026
Politik

Jokowi Siap Tunjukkan Ijazahnya, Tapi Ada Syaratnya

April 20, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?