JAKARTA – Tren kenaikan harga minyak mentah global tidak hanya memberikan manfaat bagi produsen minyak dan gas (migas), tetapi juga berdampak positif terhadap perusahaan jasa penunjang migas. Dengan kenaikan harga komoditas ini, sejumlah emiten yang menyediakan layanan seperti pengeboran, pemrosesan seismik, dan dukungan offshore memiliki peluang untuk meningkatkan kinerja keuangan mereka.
Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) mengalami lonjakan sebesar 14,28% dalam seminggu terakhir, mencapai level US$ 92,58 per barel pada Kamis (12/3) pukul 19.05 WIB. Sementara itu, harga minyak mentah Brent juga melonjak sebesar 14,53% menjadi US$ 97,98 per barel.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa tingginya harga minyak akan memicu peningkatan aktivitas pengeboran dan pengembangan lapangan oleh para produsen migas. Hal ini secara otomatis akan meningkatkan permintaan jasa penunjang migas, seperti layanan drilling, seismik, dan dukungan offshore. Kondisi ini berpotensi mendorong pertumbuhan kontrak dan kinerja perusahaan jasa migas.
Apabila permintaan jasa meningkat, emiten jasa migas kemungkinan besar akan meningkatkan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk menambah kapasitas operasional. Misalnya, perusahaan bisa menambah rig, peralatan pengeboran, atau kapal pendukung offshore. Peningkatan aktivitas hulu biasanya mendorong perusahaan untuk memperluas armada atau teknologi agar dapat menangkap peluang kontrak baru. Hal ini berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan pendanaan melalui pinjaman atau sumber pembiayaan lainnya.
Namun, analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menyoroti bahwa sebagian emiten jasa migas cenderung hati-hati dalam ekspansi capex. Hal ini disebabkan oleh volatilitas siklus industri migas yang tinggi. Sumber pendanaan capex di subsektor ini bisa berasal dari kombinasi kas internal, pinjaman bank, atau refinancing utang.
Strategi yang Diterapkan
Untuk memaksimalkan potensi kinerja di tahun ini, emiten jasa migas perlu fokus pada beberapa strategi. Pertama, meningkatkan utilisasi aset secara konsisten. Kedua, memperluas kontrak jangka panjang dengan operator migas. Ketiga, meningkatkan efisiensi operasional agar margin tetap terjaga. Selain itu, diversifikasi layanan seperti jasa pemeliharaan lapangan, digital oilfield, atau jasa energi terintegrasi juga bisa menjadi langkah penting untuk memperluas sumber pendapatan.
Tantangan Utama
Beberapa tantangan utama yang dihadapi emiten jasa migas antara lain volatilitas harga minyak dan gas dunia, keterlambatan proyek eksplorasi, serta tekanan biaya operasional akibat inflasi energi dan logistik. Menurut Arinda, kunci sukses bagi emiten jasa migas adalah memiliki backlog kontrak yang kuat, utilitas alat yang tinggi, dan struktur keuangan sehat dalam menghadapi siklus industri yang fluktuatif.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan bahwa emiten jasa migas perlu lebih terampil dalam meningkatkan efisiensi operasional ketika harga minyak dunia berada di level tinggi. Selain itu, emiten juga dapat memperluas portofolio layanan bernilai tambah tinggi dan memperkuat kolaborasi dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang menjadi operator lapangan migas di Indonesia. Diversifikasi layanan dinilai sebagai kunci penting agar emiten jasa migas tidak hanya bergantung pada satu jenis layanan saja.
Meski prospeknya menarik, sektor ini tetap menghadapi sejumlah tantangan seperti volatilitas harga minyak dunia, ketidakpastian geopolitik, dan persaingan ketat antar penyedia jasa.
Secara umum, subsektor jasa migas mulai dilirik kembali oleh investor lantaran memiliki leverage cukup tinggi terhadap kenaikan harga minyak. Ketika aktivitas eksplorasi dan produksi meningkat, kinerja emiten jasa migas biasanya akan ikut terdorong sehingga potensi rerating valuasi bisa terjadi.
Dari sisi teknikal, Hendra merekomendasikan buy on weakness saham PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) dengan target menuju level Rp 900 per saham dan Rp 200 per saham. Saham PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS) direkomendasikan speculative buy dengan target harga Rp 280 per saham.
Di sisi lain, Arinda menjagokan ELSA sebagai pilihan utama di subsektor jasa migas karena memiliki diversifikasi bisnis dan kontrak relatif stabil. Saham ELSA ditargetkan dapat bergerak ke level Rp 850 per saham.
