Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Kesehatan

Dopamin dan Kebiasaan Makan Manis

Harini Umar
Last updated: December 3, 2025 10:18 am
Harini Umar
Share
5 Min Read
SHARE

Contents
  • Koneksi antara Dopamin dan Konsumsi Gula
  • Bagaimana Otak Merespons Makanan Manis?
  • Mengapa Pola Perilaku Adiktif Terjadi?
  • Dampak Jangka Panjang dari Paparan Dopamin Berlebih
  • Upaya Mengurangi Perilaku Adiktif
  • Kesimpulan

Koneksi antara Dopamin dan Konsumsi Gula

Banyak dari kita seringkali menginginkan asupan makanan manis sebagai bentuk penghargaan atau sumber energi ketika menghadapi tantangan hidup. Tidak hanya dalam situasi yang menyenangkan seperti perayaan atau kebahagiaan, tetapi juga saat merasa stres, cemas, atau frustasi, kita sering tergoda untuk mencari makanan manis. Sebenarnya, keinginan ini tidak hanya sekadar rasa ingin makan, melainkan terkait dengan cara otak merespons rangsangan yang menyenangkan.

Bagaimana Otak Merespons Makanan Manis?

Ketika kita mengonsumsi makanan manis, sistem dopaminergik di otak mulai bekerja. Area otak yang disebut VTA (Ventral Tegmental Area) akan menerima sinyal rasa manis dari lidah. Kemudian, VTA mengirimkan dopamin ke NAc (Nucleus Accumbens), yaitu area otak yang menentukan apakah sesuatu dirasakan sebagai hadiah atau penghargaan. Saat dopamin meningkat, kita merasa puas dan bahagia, sehingga otak mencatat bahwa pengalaman tersebut layak untuk dinikmati kembali.

Di bagian lain, OFC (Orbitofrontal Cortex) membantu menilai seberapa enak makanan tersebut, sementara insula memicu perasaan lapar atau kebutuhan untuk lebih banyak lagi. Di sisi lain, PFC (Prefrontal Cortex), yang bertanggung jawab atas pengendalian diri, juga menerima pesan-pesan ini. Namun, jika aktivitas reward terus berlanjut, jalur dopamin menjadi lebih dominan, membuat PFC kesulitan untuk menahan dorongan makan lagi. Akibatnya, otak menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis dan mulai mengurangi respons dopamin biasanya, sehingga kita butuh lebih banyak makanan manis untuk merasa puas.

Mengapa Pola Perilaku Adiktif Terjadi?

Otak memberikan reward setiap kali kita mengonsumsi makanan manis, yang mirip dengan perilaku adiktif. Dopamin dilepaskan sebagai respons terhadap rasa manis, dan semakin sering hal ini terjadi, keinginan untuk mengulanginya semakin kuat. Tubuh akhirnya membutuhkan lebih banyak rasa manis untuk mencapai efek yang sama, yang memperkuat keinginan dan membuatnya lebih sulit untuk ditolak. Inilah alasan mengapa makanan manis sangat sulit untuk ditolak—karena rasanya yang menggugah selera, peningkatan mood yang signifikan, dan reaksi dopamin yang berulang.

Dampak Jangka Panjang dari Paparan Dopamin Berlebih

Jika kita terus-menerus mengonsumsi makanan manis, sistem penghargaan otak bisa menjadi tidak seimbang. Awalnya, dopamin dilepaskan untuk membuat kita merasa senang, namun jika hal ini terjadi secara berulang, otak mulai menyesuaikan diri dengan menjadi kurang sensitif terhadap dopamin. Akibatnya, kita perlu mengonsumsi lebih banyak makanan manis untuk merasa puas. Proses ini mirip dengan toleransi pada kecanduan, dan dapat mengganggu kemampuan otak untuk mengatur impuls, terutama di area yang mengendalikan penilaian dan pengendalian diri. Jika tidak dikontrol, kebiasaan ini bisa menyebabkan makan berlebihan atau makan berulang, serta meningkatkan risiko obesitas dan penyakit metabolik.

Upaya Mengurangi Perilaku Adiktif

Mengurangi kebiasaan makan manis bisa dilakukan dengan langkah-langkah sederhana dan konsisten. Salah satu metode efektif adalah mengurangi frekuensi dan porsi gula secara bertahap agar otak tidak terlalu terpengaruh oleh tingkat dopamin yang tinggi. Kita bisa mengganti camilan manis dengan buah-buahan atau makanan rendah kalori. Tidak perlu langsung menghentikan kebiasaan tersebut, tetapi kita bisa menentukan waktu-waktu tertentu untuk makan makanan manis dan waktu lain untuk makan makanan sehat.

Selain itu, aktivitas seperti olahraga ringan, minum air putih yang cukup, atau melakukan hobi bisa membantu mengalihkan kebiasaan makan manis saat menghadapi emosi. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, pola adiktif terhadap makanan manis perlahan akan berkurang, dan emosi kita pun tetap stabil.

Kesimpulan

Kemampuan otak untuk memproses sensasi kenyamanan dan penghargaan diri sangat erat kaitannya dengan kecenderungan untuk mencari makanan manis. Sistem dopaminergik aktif saat kita mengonsumsi makanan manis, yang menghasilkan kenikmatan yang diharapkan. Aktivitas ini melibatkan berbagai area otak, seperti VTA, NAc, OFC, insula, dan PFC, yang semakin terlibat dalam munculnya rasa puas, menentukan waktu terbaik untuk mengonsumsi makanan tersebut, memuaskan keinginan, dan mengurangi makan impulsif.

Jika otak terus-menerus terpapar dopamin dari makanan manis, otak mungkin mulai menyesuaikan diri dengan menjadi kurang sensitif terhadap dopamin. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan asupan, keinginan yang kuat, dan tanda-tanda perilaku adiktif. Seiring waktu, kondisi ini dapat menyebabkan kebiasaan makan yang kompulsif dan meningkatkan risiko masalah kesehatan.

Kecanduan terhadap makanan manis, bagaimanapun, bukanlah hal yang tak teratasi. Kecenderungan ini dapat dikurangi secara bertahap dengan upaya sederhana seperti mengurangi konsumsi gula, mengganti dengan pilihan yang lebih sehat, dan mengendalikan emosi dengan cara lain selain makan. Kebiasaan makan menjadi lebih teratur sebagai hasil dari sistem penghargaan otak yang seimbang kembali melalui pendekatan yang konsisten. Pada akhirnya, memahami bagaimana otak bekerja saat kita menyukai makanan manis memberi kita kesempatan besar untuk mengontrol pola makan kita dengan cara yang lebih bijaksana, sehat, dan teratur.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByHarini Umar
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Kesehatan

Gelembung di Mulut Bayi Saat Tidur? Ini Penyebabnya!

March 14, 2026
Kesehatan

5 Fakta Menarik Sarden Air Tawar, Hidupnya Berubah Setelah Letusan Gunung

February 20, 2026
Kesehatan

Cara menghitung premi asuransi kesehatan non BPJS: Panduan lengkap

December 7, 2025
Kesehatan

Tabungan Langkah: Hobi yang Jaga Detak Jantung

December 31, 2025
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?