Kehidupan yang Penuh Tekanan dan Kekuatan
Kehidupan seorang manusia sering kali dihadapkan pada berbagai tantangan. Terkadang, situasi ini datang tiba-tiba tanpa peringatan. Misalnya, seseorang mungkin menerima pesan dari kerabat atau teman dekat yang meminta pinjaman uang. Pada saat yang sama, kita sedang dalam fase penghematan ekstrem, mencoba bertahan hidup dengan segala upaya.
Saat menghadapi kondisi seperti ini, orang-orang yang bisa tetap tenang dan tidak menunjukkan kesulitan mereka adalah manusia hebat. Mereka tidak mudah menampakkan kesusahan di hadapan orang lain. Mereka lebih memilih untuk fokus pada solusi dan mencoba mengatasi masalah sendiri, tanpa melibatkan pihak luar.
Bagi saya, orang yang mampu menyimpan kesulitan mereka adalah manusia super keren. Mereka tidak mudah merendahkan diri di hadapan orang lain. Mereka juga tidak mudah mengeluh atau berharap dikasihani. Hanya fokus pada bagaimana mengatasi masalah semampunya, tanpa membebani orang lain.
Yang tahu tentang kesulitan kita hanya terbatas pada lingkaran dekat, seperti pasangan atau saudara yang sangat dekat. Mereka yang paham dan siap membantu. Di luar lingkaran tersebut, tidak perlu diberitahu. Dunia tidak akan peduli dengan kesulitan kita. Bahkan, jika diberitahu, bisa jadi malah menjadi bahan ejekan atau gosip.
Bertahanlah dengan diri sendiri. Bergerak dalam diam, berusaha dalam kesepian. Sementara opini di luar tentang prasangka bahwa kita kaya bisa menjadi penghiburan. Semoga prasangka baik itu menjadi nyata.
Kondisi Kritis Saat Menjadi Ayah
Kompasianer yang sudah menikah dan memiliki anak pasti pernah mengalami situasi kritis. Kebutuhan datang bertubi-tubi, sementara keuangan sedang dalam kondisi yang sangat sulit. Beras, minyak, gula, garam, tepung, sabun, detergent, odol, dan sebagainya harus dibelanjakan. Uang sekolah anak, iuran sampah lingkungan, tagihan listrik, pajak motor, kuota internet, semuanya harus dilunasi.
Akibatnya, kepala ayah menjadi pening, hati diliputi rasa gelisah, pikiran puyeng mencari jalan keluar. Masa tenggat semakin mendekat, keajaiban dinanti-nanti tapi tak kunjung datang. Dalam kondisi kritis seperti ini, logika tidak bisa diandalkan. Yang bisa dilakukan hanyalah pasrah dan berserah, sebagai pilihan terakhir setelah segala upaya gagal.
Dari pengalaman saya, saat kepepet pintu pertolongan-Nya akan terbuka. Melalui jalan yang tidak terduga, melalui kejadian yang tidak dinyana. Saya pernah mengalaminya dan merasakan sendiri. Betapa janji Allah SWT terbukti, tinggal manusianya harus percaya dan mengamini.
Nasehat yang Tidak Pernah Lupa
Sejak pertama bekerja dan menerima gaji, saya pernah dinasehati oleh kakak ipar. Nasehat yang tidak pernah saya lupa dan menjadi pegangan hingga sekarang. Bahwa menjadi dewasa membutuhkan tanggung jawab yang besar. Dewasa berarti mandiri, yaitu lepas dari tanggungan orangtua. Menurut kakak ipar, ceritakanlah hal-hal yang menyenangkan kepada orangtua, sementara kesulitan hidup jangan diceritakan.
Terlebih bagi yang sudah menikah dan memiliki anak, jangan pernah melibatkan orangtua untuk urusan dapur. Anak yang sudah dewasa, segala keputusan adalah tanggung jawab sendiri. Cukuplah orangtua yang tua, ikut diajak memikirkan masalah anak yang sudah dewasa. Saatnya mereka menikmati masa tua tanpa direpoti urusan keluarga anak-anak.
Wejangan kakak ipar saya terapkan. Mulai dari bekerja sambil kuliah, saya tidak minta bayaran sekolah ke orangtua. Kini dua puluh tahun lebih menikah, saya dan istri sepakat menyelesaikan masalah kami sendiri. Kepada orangtua (kandung/mertua), tidak pernah kami kabarkan yang menyedihkan. Soal kesulitan keuangan, saat saya atau istri sakit, atau masalah apapun yang menyedihkan. Sebisanya kami simpan rapat, mengatasi sendiri tanpa melibatkan orangtua.
Kepercayaan yang Kuat
Siapa orangtua yang tidak bangga dan bahagia ketika anak kesayangan diterima kuliah di PTN pilihan? Kampus yang diidamkan sejak lama, prodi yang dipilih sesuai bidang minat. Eits, sebahagia apapun orangtua, pasti ada buntutnya. Yaitu memikirkan bagaimana melunasi pembayaran UKT (uang kuliah tunggal). Mengingat pelunasan UKT otomatis memperlancar keberlangsungan perkuliahan.
Saya mengalami sendiri bagaimana pontang-panting mencari cara pelunasannya. Sementara adiknya di sekolah menengah, sedang naik tingkat ada biaya yang harus ditunaikan. Terasa lengkap sudah rungsing di kepala, saya dan istri harus bekerja sama.
Kepada anak-anak, saya dan istri tidak menunjukkan hal itu. Meyakinkan anak-anak, sekolahnya bakal lancar dan selesai dengan baik. Meski kami tahu, anak mbarep kami paham keadaan kami orangtuanya.
Dan uniknya, pada saat kepepet-kepepetnya, ada yang mengira keuangan kami baik-baik saja. Saya dan istri mengaminkan, berharap prasangka baik secepatnya menjelma nyata—aamiin. Saya yakin, banyak Kompasianer sepengalaman dengan kami. Disangka banyak duit, justru saat dompet sedang kembang kempis.
Semoga bermanfaat.
