Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Politik

Demokrasi dan Kekuasaan

Dian Sasmita
Last updated: January 19, 2026 1:40 am
Dian Sasmita
Share
8 Min Read
SHARE

Memahami Makna Demokrasi yang Sebenarnya

Demokrasi tidak hanya sekadar proses pemilihan anggota parlemen atau pemimpin melalui pemungutan suara. Di sini, siapa yang mendapatkan suara terbanyak berhak atas posisi yang diperebutkan. Namun, demokrasi lebih dari itu; ia adalah sebuah proses menuju kebebasan di segala aspek kehidupan dengan mengutamakan pemikiran kritis, menghargai hak dan kewajiban secara proporsional. Dalam demokrasi, minoritas diberi perlindungan dan kemerdekaan untuk bersuara, sementara mayoritas tidak boleh menindas atau semena-mena. Selain itu, saluran komunikasi antara penguasa dan yang dikuasai harus tetap terbuka.

Contents
  • Memahami Makna Demokrasi yang Sebenarnya
  • Totalisme: Musuh Utama Demokrasi
  • Demokrasi dalam Sejarah Indonesia
  • Orde Baru: Contoh Praktik Demokrasi yang Salah
  • Tantangan Demokrasi Pasca-Reformasi
  • Masa Depan Demokrasi yang Harus Dipertahankan

Demokrasi juga bukan sekadar alat untuk memperoleh kekuasaan, lalu digunakan untuk menguasai orang lain. Lebih dari itu, ia memberi ruang bagi masyarakat yang terbuka (toleran), kritis, rasional, rendah hati, serta meyakini nilai-nilai keadilan (hukum) yang jujur dan tidak memihak sebagai panglima.

Totalisme: Musuh Utama Demokrasi

Totalisme menjadi musuh utama demokrasi. Ia adalah awal dari kediktaktoran, tirani, fasisme, dan penghinaan terhadap kemanusiaan. Totalisme, yang mengembangkan konsep kebenaran secara absolut, menentang segala bentuk kreativitas, nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan berpikir, dan sikap kritis. Dalam pengantarnya untuk buku Revolusi Demokrasi suntingan Larry Diamond (1994), M Fajroel Rachman menjelaskan bahwa demokrasi adalah lawan totaliterisme dan turunannya: militerisme, fasisme, otoritarianisme, dogmatisme, dan pemuja kebenaran absolut lainnya.

Totalisme menjadi akar dari semua penghancuran hak hidup dan kebebasan berbicara/berpikir manusia merdeka. Intinya, gunung dari totaliterisme, militerisme, fasisme, otoritarianisme, dogmatisme, dan absolutisme itu adalah kekuasaan tunggal yang cenderung diktaktor. Kekuasaan tunggal yang absolut ini pemuja kredo Niccolo Machiavelli: “seorang diktaktor (pemimpin/raja) harus membuat dirinya ditakuti sedemikian rupa, dan tidak perlu merasa khawatir terhadap kecaman yang ditimbulkan karena kekejamannya selama ia mempersatukan dan menjadikan rakyatnya setia.”

Machiavelli mengajarkan: untuk mempertahankan kekuasannya, seorang pemimpin boleh melakukan apa saja, termasuk membunuh, menculik, mengintimidasi, atau melakukan pemusnahan massal seperti yang dilakukan Stalin, Hitler, atau Mao Zedong. Atau orang-orang seperti Jendral Franco, Benito Mussolini, Moamar Khadaffi, Augusto Pinochet, dll.

Demokrasi dalam Sejarah Indonesia

Seorang pemimpin yang lahir dari proses demokrasi, juga belum menjamin akan menjadikan dirinya seorang demokrat sejati yang menjunjung nilai-nilai kemanusian dan kesetaraan, yang menjadi dasar utama demokrasi. Sejarah kita mengajarkan bahwa demokrasi selalu diagungkan setiap proses pemilihan wakil rakyat di parlemen atau pemimpin dari tingkat pusat hingga daerah. Sejak Indonesia merdeka, sejak Soekarno dan Hatta dipilih untuk menjadi presiden dan wakil presiden melalui proses transisi yang cepat (tanpa pemilu), kemudian menyelenggaran Pemilu 1955 –yang dianggap sebagai pemilu paling demokratis dalam sejarah demokrasi kita– hingga masuk ke fase Orde Baru selama lebih 30 tahun, kata “demokrasi” selalu diagung-agungkan. Tetapi, demokrasi kita selalu melahirkan anak haram –para pemimpin dan anggota parlemen– yang mengkhianati pemilihnya. Demokrasi kita masih sebatas adanya lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Tetapi esensi dari demokrasi itu sendiri tak terlihat secara masif.

Orde Baru: Contoh Praktik Demokrasi yang Salah

Orde Baru –yang menjadikan ekonomi adalah panglima, dan memberi kebebasan kepada tentara untuk masuk ke dalam segala sendi kehidupan lewat Dwi Fungsi ABRI– adalah contoh paling miris praktik demokrasi kita yang “salah jalan”. Dengan mengutamakan pertumbuhan ekonomi –yang sebenarnya juga sangat diragukan apakah benar pada masa itu kita swasembada pangan karena tingkat kemiskinan sangat tinggi, pengangguran tinggi, pembangunan infrastruktur lamban, dan sebagainya– Soeharto menafikan kebebasan berpendapat, memberangus segala bentuk kritik, menguatkan militer, rakyat terus dimata-matai, dan hukum dibuat untuk kepentingan kekuasaan.

Partai politik sangat dibatasi, yang boleh tumbuh hanya partai yang mendukung kekuasaannya. Bahkan, Golongan Karya (Golkar) selalu dikatakannya bukan sebagai partai politik, tetapi hanya perkumpulan, hanya golongan. Anehnya, meski tak mengakui (atau diakui?) sebagai partai politik, Golkar selalu ikut pemilu, dan selalu menang. Dalam demokrasi, hanya partai politik yang boleh ikut pemilu. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang ikut pemilu, hanya dijadikan syarat adanya “demokrasi”. Mereka dilarang tumbuh dan berkembang. Siapa yang akan duduk sebagai pimpinan kedua partai tersebut, harus direstui oleh Soeharto. Siapa yang melawan dan tidak segaris dengan pikirannya, akan lenyap dan dibungkam secara paksa.

Tantangan Demokrasi Pasca-Reformasi

Kerancuan yang disengaja dalam pemahaman demokrasi ini –Soeharto mengatakan bahwa itulah ciri khas demokrasi Indonesia— membuat kita berada di tubir kehancuran, karena fondamen ekonomi yang dibangun Soeharto sangat rapuh. Nilai-nilai kemanusiaan dinafikan, hak politik ditindas, kebebasan hanya sebuah jargon, dan demokrasi hanyalah bungkus dari totaliter berwujud kediktaktoran. Yang terjadi kemudian, lahirnya pembangkangan sipil (civil disobedience) dari masyarakat bawah (grassroot) akibat rapuhnya ekonomi setelah badai besar menghantam ekonomi kita tahun 1997-1998. Pembangkangan sipil masyarakat bawah ini mendapat dukungan dari kelas menengah –kaum profesional, mahasiswa, dan lapisan intelektual lainnya— dan melahirkan sebuah generasi Reformasi yang menumbangkan Soeharto dan Orde Baru-nya.

Sekian lama dalam kungkungan kamuflase demokrasi Orde Baru, setelah lebih 27 tahun Reformasi, upaya untuk mengembalikan demokrasi ke jalan yang benar dengan menghancurkan totaliterisme dan seluruh turunannya, memang mengalami hambatan yang berat. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berkuasa dua periode, juga Joko Widodo, berusaha mengembalikan demokrasi ke jalurnya, mengalami kesusahan karena sistem birokrasi yang dibentuk Orde Baru tak benar-benar hilang dan masih “berkuasa” di segala lini. Akibatnya, korupsi dan nepotisme –dua hal yang menjadi musuh utama Reformasi selain kolusi– susah dihancurkan. Celakanya, generasi Reformasi yang diharapkan menjadi penghancur, malah terus melanggengkan dan mengikuti jejak Orde Baru. Lihatlah, orang-orang yang duduk di parlemen dari tingkat kabupaten/kota hingga di Senayan. Atau, para kepala daerah yang dipilih melalui proses demokrasi yang dianggap paling demokratis (pemilihan langsung), juga banyak menghasilkan orang-orang yang tetap setia pada korupsi, nepotisme, juga kolusi, dan membangun sindikasi dengan tujuan melanggengkan kekuasaannya.

Masa Depan Demokrasi yang Harus Dipertahankan

Demokrasi, mestinya, menjadikan rakyat yang berdaulat di segala bidang seperti ekonomi, politik, ideologi, kebudayaan –termasuk di dalamnya pendidikan– dan bukan mengembalikan totaliterisme dengan segala turunannya yang akan menjauhkan demokrasi dengan cita-citanya. Apa yang terjadi sekarang, ketika militerisme seperti mendapatkan panggung lagi seperti masa Orba –dengan banyaknya dibentuk Komando Daerah Militer (Kodam) baru dan banyaknya intimidasi terhadap rakyat–, wacana Pilkada dikembalikan ke DPRD –dan bukan tidak mungkin Pilpres juga akan dikembalikan ke DPR-MPR—, pembungkaman terhadap kebebasan bersuara dilakukan, dan sekian wacana maupun kenyataan lain yang sudah terjadi, memperlihatkan betapa demokrasi yang berbasis langsung di tangan rakyat mulai digerus. Jika kondisi ini terus terjadi, maka siklus sejarah tentang tirani-totaliterisme yang terjadi di masa Orde Lama dan Orba akan membuat rakyat kembali terluka.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByDian Sasmita
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Politik

AS-Israel Serang Iran, Khamenei Tewas, Prabowo Siap ke Teheran Mediasi

March 10, 2026
Politik

Cara cek bansos 2026 melalui situs Kemensos dan aplikasi, mudah pakai HP

April 1, 2026
Politik

Riyadh Jadi Target Rudal, Arab Saudi Sebut Iran Pengecut, UEA Minta Iran Berpikir Waras

March 4, 2026
Politik

Menteri ‘Koboi’ Purbaya Percaya Ekonomi Indonesia Stabil

March 14, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?