Perdebatan Panas antara Presiden Prabowo dan Najwa Shihab
Presiden Prabowo Subianto dan jurnalis Najwa Shihab terlibat perdebatan sengit dalam sebuah forum diskusi yang berlangsung di kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor. Topik yang dibahas berkaitan dengan aturan yang akan mengatur para pengamat serta batasan antara kritik terhadap pemerintah dan tindakan yang dianggap sebagai upaya makar.
Kritik yang Tidak Semua Berujung pada Regime Change
Najwa Shihab, yang akrab dipanggil Nana, mengajukan pertanyaan kritis terkait apakah kritik-kritik keras terhadap pemerintah bermuara pada keinginan pergantian rezim. Ia menanyakan hal tersebut kepada Presiden Prabowo, yang kemudian menjawab bahwa tidak semua kritik mengarah ke arah itu. Namun, ia juga menyatakan bahwa ada sebagian kritik yang memiliki tujuan tertentu.
“Tidak semuanya, tapi ada. Oh jelas ada,” kata Prabowo.
Perdebatan mulai memanas saat Nana mempertanyakan bagaimana pemerintah membedakan antara kritik yang sah dan tindakan yang dianggap melampaui batas. Ia juga menyinggung pernyataan Prabowo sebelumnya yang menyebut aksi demonstrasi pada Agustus 2025 sebagai bentuk ‘makar’.
Aksi Demonstrasi yang Dianggap Makar
Prabowo menjawab dengan tegas bahwa tindakan pembakaran gedung pemerintah, seperti DPR dan kantor gubernur, merupakan bentuk makar. Ia menegaskan bahwa membakar institusi pemerintahan adalah tindakan yang tidak dapat diterima.
“Jelas Agustus, jelas makar. Dia (pelaku) membakar Gedung DPR, Kantor Gubernur. Institusi pemerintahan mau dibakar, that’s makar. Bikin kerusuhan. Bawa bom molotov. Tidak ada LSM yang ribut soal bom molotov. Ada yang protes ga?” jawab Prabowo.
Namun, Nana membantah anggapan bahwa tidak ada reaksi publik terhadap aksi tersebut. Ia menyebut banyak pihak, termasuk media, yang mengecam penggunaan bom molotov dalam demonstrasi. Pernyataan ini langsung disanggah oleh Prabowo.
“Oh, come on. Jujur buka rekam digitalnya,” ucapnya.
Penangkapan Ratusan Orang dalam Aksi Demonstrasi
Di tengah diskusi yang semakin sengit, moderator Hasan Nasbi sempat mencoba menghentikan sesi tersebut dengan mengatakan bahwa diskusi untuk bagian pertama sebaiknya dicukupkan. Namun, Prabowo menolak dan memilih melanjutkan jawabannya.
Nana kemudian menyoroti fakta bahwa ratusan orang yang ditangkap dalam aksi tersebut mayoritas adalah mahasiswa dan aktivis. Ia bahkan mengutip sebuah penelitian yang menyebut penangkapan tersebut sebagai salah satu yang terbesar sejak era reformasi.
“Kenyataannya pak, itu ratusan yang ditangkap kemarin, itu kebanyakan mahasiswa. Ada satu penelitian yang menyebut, terbesar sejak zaman reformasi penangkapan terhadap mahasiswa dan aktivis pak,” katanya.
Ia kemudian mempertanyakan mengapa aktor intelektual atau pihak yang diduga sebagai provokator belum berhasil diungkap dan dibawa ke pengadilan.
“Tetapi provokatornya, atau siapapun yang bertanggung jawab, aktor yang menyuruh dan sebagainya itu tidak pernah terungkap alih-alih dibawa ke pengadilan pak presiden?” katanya lagi.
Tanggapan dari Presiden Prabowo
Menanggapi hal itu, Prabowo menyebut pengungkapan dalang di balik aksi tersebut sebagai tantangan yang masih dihadapi pemerintah. Ia juga mengingatkan bahwa masa pemerintahannya baru berjalan sekitar satu setengah tahun.
“Masih ada waktu untuk membuktikan,” ujarnya.
Nana pun menutup dengan pernyataan singkat namun tegas.
“Kami tunggu pembuktiannya, Pak Presiden.”
