Kehidupan Seorang Driver Ojol yang Berusaha Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris
Seorang driver ojek online (ojol) di Kota Surabaya menjadi sorotan karena kerap membuat konten di media sosial dengan menggunakan Bahasa Inggris. Uniknya, driver ojol bernama Ambar (44) tersebut mencoba membuat konten memakai Bahasa Inggris, meski artikulasinya masih alakadarnya.
Pengikutnya di Instagram pun baru ratusan orang. Meski begitu, ia mengaku akan berusaha konsisten membuat konten serupa. Ambar berharap dapat menarik perhatian pengguna media sosial lain. Ya, buktinya, kali ini dia didatangi seorang wanita tak dikenal karena video-videonya.
Ya, seorang wanita tiba-tiba menyapa lelaki berjaket ojek online yang sedang duduk di sebuah kedai di kawasan Surabaya pusat. “Bapak ojol yang biasa ngomong Bahasa Inggris ya?” ujarnya. Lalu, dengan wajah yang terlihat malu-malu, Ambar menjabat uluran tangan si wanita sambil berkata, “Iya, tapi saya masih belajar mbak.”
Ambar biasa merekam video dirinya di waktu senggang usai menarik penumpang. Sambil masih memakai seragam ojolnya, ia menceritakan kegiatannya sepanjang hari. “Iseng-iseng saja, sambil menunggu penumpang kadang. Jadi saya belajar, biar enggak lupa saya videoin. Bagus, saya edit, saya posting,” kata Ambar kepada Kompas.com, Jumat (19/12/2025).
Ambar mengaku membuat konten Bahasa Inggris memang untuk melatih kemampuannya, menambah kosakata, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri. Menurut dia, Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sangat penting untuk dikuasai. “Kalau saya posting, pikiran saya enggak muluk-muluk, tentu yang nonton banyak, sehingga ada peluang-peluang kerjaan lain atau membuka kualitas diri dari situ,” ucap Ambar.
Ambar tidak hanya mengunggah videonya di platform Instagram, tetapi juga TikTok dan Facebook. Beberapa kali dia menerima permintaan berteman dari akun warga negara asing (WNA) yang tertarik dengan kontennya. “Saya beberapa kali dapat penumpang bule juga terus ngajak ngobrol. Ngobrolnya tentang ya dari mana gitu-gitu,” sambung dia.
Ambar juga tak main-main dengan niatnya. Meski usianya sudah menginjak 44 tahun, ia tak patah semangat untuk belajar Bahasa Inggris. Ia bahkan bergabung dengan komunitas English Conversation Club (ECC) di Surabaya. Terkadang, Ambar berlatih secara otodidak dengan membuat kalimat melalui Google Translate lalu dilafalkan dan merekam.
“Saya banyak belajar dari mereka-mereka (anggota ECC). Saya kan lulusan SMA, enggak ngerti kayak gimana orang kuliahan.” “Dari situ saya tahu pengalamannya, cara ngomong, dan pandangannya,” ujar dia. Bergabung dengan komunitas juga memudahkan Ambar mencari lawan bicara Bahasa Inggris, sehingga kemampuannya terlatih sedikit demi sedikit.
Ambar baru bekerja sebagai driver ojol sejak tahun 2018. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pedagang es kacang hijau yang berkeliling Surabaya. “Kalau ojol itu lebih fleksibel. Ada motor langsung berangkat, enggak pakai masak dan pergi ke belanja kebutuhan jualan. Tapi jam kerjanya lebih panjang,” ungkap dia.
Belajar Bahasa Inggris pun didasari oleh sebuah alasan khusus. Dia mengaku tak ingin anak semata wayangnya yang kini masih duduk di bangku SMP bernasib sama dengan ayahnya kelak. Sebagai ayah, Ambar mengaku ingin anaknya mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. “Ini juga motivasi saya ke anak. Saya nyuruh dia belajar Bahasa Inggris, tapi saya juga harus belajar, jadi saya bisa memberikan contoh,” sebut dia.
Motivasi itu dia harap tidak hanya sampai ke anaknya. Media sosial memiliki jangkauan yang lebih luas, ia ingin orang lain juga bisa semangat untuk terus belajar meski usianya tidak muda. “Pede aja, kalau salah ya perbaiki, karena salah juga bagian dari proses belajar,” kata dia. “Tapi di sisi lain juga harus pandai dan bijak menggunakan sosial media, apalagi kalau kita bawa nama perusahaan atau pihak lain,” sambung Ambar.
Kisah Mahasiswa yang Kerja Sampingan sebagai Kurir Makanan
Seorang mahasiswa di Kota Surabaya, Jawa Timur, Thoriq Imamul Mustafa (21), memilih kerja sampingan sebagai kurir makanan untuk memenuhi biaya kuliah. Setiap pulang kuliah sore hari, ia lebih banyak menunggu orderan di dekat pusat perbelanjaan di Surabaya agar segera mendapat customer.
Rutinitas ini ia lakukan sejak tiga bulan terakhir. “Kerja sampingan aja. Pengin nambah uang jajan, waktu itu juga ada kebutuhan untuk jurnal Rp500.000, makanya nyari kerjaan buat nambah pas kuliah,” kata Thoriq kepada Kompas.com, Minggu (14/12/2025).
Ia memilih mencari penghasilan tambahan sebagai driver makanan online karena waktunya fleksibel dan tidak mengganggu proses perkuliahan. “Kebanyakan nganterin makanan sama barang. Biasanya enggak nentu tergantung kosongnya kuliah. Kalau kosong ya dari pagi, tapi kebanyakan malam hari,” bebernya.
Thoriq bekerja jadi kurir makanan hanya di saat waktu luang. Dalam sehari, ia bisa meraup pendapatan sebesar Rp100.000.
Menurutnya, bekerja sebagai kurir makanan bukan tanpa risiko. Ia kerap menerima orderan fiktif. “Dua kali kena orderan fiktif, karena pakai sistem COD ternyata pas sampai lokasi bukan yang order, atau enggak rumahnya enggak berpenghuni,” bebernya. Kendala tersebut tidak hanya ia alami sendiri. Thoriq mengatakan, hampir sebagian besar driver ojol kerap menerima orderan fiktif.
Apabila menerima orderan fiktif, makanan bisa dikembalikan ke resto asal difoto dengan jelas sebagai bukti. Jika orderan tersebut tengah malam, makanan akan dimusnahkan, sementara siang hari makanan disalurkan ke yayasan atau panti asuhan. “Waktu itu geprek Rp30.000. Makanan kalau orderan fiktif bisa di-refund. Waktu itu saya foto, tapi enggak jelas sehingga enggak disetujui,” sambungnya.
Agar tidak terjebak orderan fiktif, Thoriq membagikan tips dengan menelepon customer lebih dulu. Apabila ada jawaban yang jelas, maka orderan kemungkinan besar asli. “Saya enggak tahu kenapa ada orang order fiktif. Sepertinya orang gabut yang oknum mempersulit hidup orang,” sambungnya.
Selain itu, ia juga pernah mendapat komplain dari customer karena mengantar makanan lama di saat kondisi hujan deras. “Dikomplain pernah di aplikasi. Hujan, saya kelamaan nganterin pesanannya, customer bisa komplain di aplikasi, akhirnya dampaknya ke akun saya bisa kena penalti,” ungkapnya.
Beruntungnya, selama menjadi kurir makanan, ia menemukan solidaritas sesama pekerja kurir. Ketika ia mengalami kendala di jalan, selalu ada driver lain yang menolong. “Senangnya kalau ada sama-sama driver ketika ada kesulitan pasti ada yang nolong. Misal, sama-sama nunggu orderan cepat kenal, padahal baru ketemu, enggak mandang tua atau muda,” bebernya.
Ia juga merasa senang karena keberuntungan kadang juga didapatkan dari customer yang berbaik hati memberikan tip atau bingkisan. “Sering dikasih tip Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Waktu itu juga pernah ngantar makanan customer ternyata habis pulang haji, saya dikasih air zamzam, roti, sama kacang Arab,” pungkasnya.
