KUPANG – Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko mengakui bahwa motif utama dari kasus anak yang bunuh diri di NTT diduga kuat terkait faktor ekonomi dan rasa kecewa. Namun, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan kebenaran dari dugaan tersebut.
“Motif utama diduga karena hal itu, namun masih dalam proses penyelidikan. Berdasarkan hasil olah TKP dan laporan awal, tindakan korban yang masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar ini disebabkan oleh masalah ekonomi,” ujar Kapolda NTT.
Hasil olah TKP menunjukkan bahwa korban diyakini bunuh diri karena tidak mampu membeli buku. Bocah kecil itu ditemukan tewas dengan posisi tergantung pada pohon cengkeh pada Kamis (29/1) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.
Kapolda NTT telah mengirim tim konselor psikologi untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban, khususnya orang tua dari siswa kelas IV SD. “Tim sudah tiba di Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan dukungan serta penguatan bagi keluarga korban,” kata Kapolda NTT di Kupang, Rabu.
Tim yang dikirim terdiri dari beberapa anggota dari Biro SDM Polda NTT, antara lain:
* Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan
* Kasubbag Psipol Bagian Psikologi Biro SDM Kompol Prasetyo Dwi Laksono
* Bamin Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT Bripda Yoseph Alexander Rewo
Konseling dan pendampingan akan dilakukan oleh tim mulai Rabu (4/2) hingga Minggu (8/2) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada. “Tim melakukan pembinaan dan pendampingan mental kepada keluarga korban,” ujar Kapolda NTT.
Dia menambahkan bahwa kejadian ini menjadi perhatian serius. Pasca kejadian, Kapolda NTT memerintahkan Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino untuk menemui keluarga korban. “Saya sudah perintahkan Kapolres Ngada ke kediaman orang tua korban,” katanya sambil menyatakan melalui Kapolres Ngada, Polda NTT menyalurkan bantuan material dan dukungan moril.
Kesaksian Kepala Desa
Philipus Jio, kepala desa Batajawa, mengaku kenal dekat dengan anak tersebut. “Dia sering main-main ke rumah. Kalau lagi ada, kita kasih makan juga,” ujarnya saat dihubungi, Rabu.
Rumah Om Lipus, sapaan akrabnya, hanya sekitar 100 meter dari pondok sang nenek. “Dulu kita juga yang bantu membangun itu pondok,” kata dia.
YBR, inisial sang anak yang kini beritanya mengudara di mana-mana, setahu Om Lipus adalah bocah yang cerdas. “Guru-guru dia cerita begitu. Dia pintar, nilainya bagus-bagus juga,” tuturnya.
Om Lipus ingat, ia terakhir kali bertemu dengan YBR pada Rabu (28/1/2036) silam. Saat itu, YBR hendak ke rumah ibunya di Desa Naruwolo, sekitar 3,5 kilometer dari pondok sang nenek.
Sehari-hari, YBR dan saudara-saudarinya tinggal dengan sang nenek karena kondisi ekonomi keluarga mereka. Ayahnya sudah pergi merantau dan tak berkabar sejak YBR masih dikandungan. “Ke Kalimantan kerja di sawit macam orang-orang,” kata Om Lipus. Sekitar 20 laki-laki dari desa itu yang saat ini tengah merantau.
Sang ibunda, kata dia, bekerja serabutan sebagai buruh panggil. Bekerja saat ada panggilan untuk bersih-bersih atau memanen kemiri, cengkeh, dan pala. Hanya dapat Rp 50 ribu per hari dengan kerja yang kadang-kadang ada lebih sering tidak tersebut.
Kondisi itu membuat anak-anaknya kerap dititipkan ke sang nenek yang usianya kini sudah lebih 80 tahun. Sehari-hari, sekeluarga itu kerap mengonsumsi umbi-umbian belaka.
Om Lipus menuturkan, ia sempat menanyakan tujuan YBR mengunjungi mamanya. “Saya ketemu sore-sore, dia bilang ‘Sa mau minta uang sama Mama. Minta uang buat beli bolpoin, buku tulis, buat uang sekolah juga’,” kata Om Lipus.
Sepahamnya, malam itu YBR menginap di rumah mamanya. Baru pagi-pagi kembali ke rumah sang nenek dan tak lama kemudian berpulang.
Om Lipus menuturkan, ia mendengar kabar soal kejadian dari sekretaris desa yang dilapori warga. Ia yang tengah di balai desa langsung bergerak ke lokasi kejadian. Orang-orang sudah ramai di sana. “Kami sudah coba selamatkan. Saya yang coba dengar sendiri dia masih napas tidak, siapa tahu bisa tolong, tapi terlambat,” ujarnya.
Menurut Om Lipus, baru sekitar dua jam kepolisian dari Polres Ngada tiba di lokasi. “Memang jauh, jaraknya 40 kilometer.”
Atas kejadian di kampungnya, Om Lipus mengiba pada pemerintah. Tolong perhatikan anak-anak telantar yang kurang kasih sayang dari orang tua ini. Perhatikan biaya pendidikan dan ekonomi mereka,” kata dia.
Sementara tak jauh dari YBR, warga menemukan juga secarik kertas dari buku tulis. Ia pesan dalam bahasa setempat:
“Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama biarkan saya pergi. Jangan menangis ya, Mama. Mama saya pergi. Jangan menangis, jangan mencari saya. Selamat tinggal Mama.”
