Forum Bahtsul Masail Kiai Jawa Barat dan DKI Jakarta Mendorong Percepatan Muktamar PBNU
Forum Bahtsul Masail para kiai se-Jawa Barat dan DKI Jakarta menggelar pertemuan untuk membahas isu-isu penting yang terjadi di dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pertemuan ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, dan dihadiri oleh puluhan kiai muda. Di antara peserta forum tersebut adalah KH. Muhammad Shofy, KH. Ahmad Ashif Shofiyullah, KH. Nanang Umar Faruq, KH. Ghufron, KH Abdul Muiz Syaerozi, KH Jamaluddin Muhammad, KH. Ahmad Baiquni, KH. Mukti Ali, KH. Muchlis, KH. Asnawi Ridwan, KH. Roland Gunawan, Ustadz Ahmad Subhan, Ustadz Muhammad Sirojuddin, KH. Khozinatul Asror, dan lainnya.
Dalam forum tersebut, para kiai membahas beberapa isu utama, termasuk pemberhentian Ketua Umum PBNU Gus Yahya serta masalah tata kelola organisasi yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip-prinsip syariat dan undang-undang. Selain itu, mereka juga merumuskan landasan keagamaan terkait usulan percepatan Muktamar PBNU.
Alasan Percepatan Muktamar PBNU
Kiai Shofy, pengasuh Pesantren Kempek, menjelaskan bahwa percepatan muktamar sangat penting untuk mengakhiri konflik internal yang berkepanjangan dan memulihkan nama baik organisasi. Menurutnya, alasan pelaksanaan muktamar harus dipercekan berlandaskan pada kaidah fikih: Dar` al-mafasid muqaddam ‘ala jabl al-mashalih (Menolak kerusakan harus diprioritaskan daripada mengambil kemaslahatan).
Beberapa kerusakan yang perlu segera dihindari melalui percepatan muktamar antara lain:
- Kepemimpinan PBNU saat ini tidak lagi efektif setelah Gus Yahya dipecat secara tidak terhormat oleh Rois Aam dan Syuriyah. Pemecatan ini diduga terkait dengan tata kelola keuangan yang tidak sesuai syariat dan Undang-Undang serta keterlibatan dalam jaringan zionisme internasional.
- Dualisme kepemimpinan antara syuriyah dan tanfidziyah, di mana masing-masing pihak mengklaim legitimasi dan sah secara hukum (AD ART).
- Perpecahan dan polarisasi di tengah warga NU, terutama di media sosial dan interaksi sosial yang menunjukkan kerenggangan dan ketegangan.
- Kepengurusan PBNU saat ini, terutama Gus Yahya, sudah tidak layak dan kehilangan legitimasi moral, spiritual, sosial, bahkan politik.
- Pembenahan keseluruhan organisasi NU yang memerlukan evaluasi dan pembenahan kepemimpinan struktural yang ada di PBNU.
Percepatan Muktamar sebagai Solusi Konflik
Menurut Kiai Shofy, percepatan muktamar PBNU adalah langkah penting untuk segera keluar dari prahara konflik. Dalam kaidah fikih dikatakan bahwa al-khuruj min al-khilaf mustahabbun (Keluar dari perselisihan adalah disunnahkan). Menurut Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam kitab al-Asybah wa al-Nadzhair, pentingnya segera keluar dari keruwetan konflik agar tidak memunculkan persoalan-persoalan baru yang dapat menambah konflik.
Dalam forum tersebut, para kiai mendukung Rois Aam sebagai pimpinan tertinggi PBNU beserta jajaran Suriyah untuk segera menggelar muktamar. Gus Yahya, yang telah dinyatakan dipecat dengan dua alasan yaitu afiliasi zionisme dan tata kelola keuangan yang tidak syar’i, tidak boleh lagi mencalonkan dirinya atau dicalonkan oleh pihak lain.
Kriteria Kepemimpinan Ulama yang Ideal
Para kiai juga merekomendasikan kriteria kepemimpinan ulama yang ideal ke depan bagi PBNU. Kriteria tersebut antara lain:
- Sosok yang memiliki otoritas keilmuan, wawasan, dan pengetahuan yang luas, baik dalam bidang agama maupun umum, termasuk pengetahuan berorganisasi.
- Otoritas spiritual dan akhlak mulia yang bisa menjadi teladan.
- Zuhud alias tidak cinta dunia dan tidak ambisi jabatan.
- Bisa menempatkan dirinya sebagai khadim (pelayan) organisasi.
- Karismatik dengan basis dan pijakan lokal dan nasional.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Hanya saja yang takut kepada Allah dari sekian hamba-Nya adalah ulama,” (Q.S. Fathir: 28).
Ayat ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa hanya ulama yang punya rasa takut (khasyah) kepada Allah. Rasa takut ini muncul sebagai konsekuensi dari keimanan, keilmuan, spiritualitas, dan akhlak yang tertanam kuat di hatinya.
