Perencanaan Swasembada Energi Indonesia
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan rencana besar dalam hal pengurangan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (16/12/2025), Prabowo menyampaikan bahwa mulai tahun 2026, Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar dari luar negeri.
“Mulai tahun depan menteri ESDM melaporkan kepada saya bahwa kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri mulai tahun depan,” ujar Prabowo saat memberikan arahan. Hal ini dilakukan setelah mendapat laporan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Selain itu, Presiden menargetkan bahwa dalam waktu empat tahun ke depan, Indonesia juga tidak akan lagi mengimpor bensin dari luar negeri. “Kita harapkan dalam empat tahun kita juga bisa tidak impor bensin dari luar,” tambahnya.
Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan
Dalam rapat tersebut, Prabowo berharap setiap daerah, termasuk Papua, dapat mencapai swasembada energi. Ia menyampaikan bahwa Menteri ESDM telah merancang agar daerah-daerah di Papua bisa menikmati bahan bakar hasil produksi sendiri.
“Saya kira Papua punya sumber energi yang sangat baik dan Menteri ESDM juga sudah merancang bahwa daerah-daerah Papua harus menikmati hasil daripada energi yang diproduksi di Papua,” kata Prabowo.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan sumber tenaga surya dan tenaga air. Teknologi ini dinilai semakin murah dan cocok digunakan untuk daerah-daerah terpencil.
“Ini semua adalah supaya ada kemandirian tiap daerah. Kalau ada tenaga surya dan tenaga air, tidak perlu kirim-kirim BBM mahal-mahal dari daerah-daerah lain,” jelasnya.
Rencana Tanaman untuk Energi Baru
Lebih lanjut, Prabowo ingin agar kelapa sawit ditanam di Papua demi mewujudkan swasembada energi. Selain kelapa sawit, ia juga mendorong tanaman tebu serta singkong ditanam di Papua karena mampu menghasilkan etanol.
“Dan juga nanti kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit, juga tebu menghasilkan etanol, singkong cassava juga untuk menghasilkan etanol,” ujar Prabowo. “Sehingga kita rencanakan dalam 5 tahun semua daerah bisa berdiri di atas kakinya sendiri swasembada pangan dan swasembada energi,” tambahnya.
Dengan rencana ini, Prabowo berharap Indonesia dapat menghemat ratusan triliun untuk subsidi dan impor BBM. “Kita akan menghemat ratusan triliun untuk subsidi, ratusan triliun untuk impor BBM dari luar negeri. Tahun ini tiap tahun kita mengeluarkan peraturan triliun untuk impor BBM. Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam serbuk pakai tenaga surya dan tenaga air, bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun,” tuturnya.
Alternatif Pengganti Solar
Jika rencana Prabowo dan Bahlil tentang tidak adanya impor solar benar-benar terwujud, masyarakat tidak perlu khawatir. Ada beberapa alternatif pengganti yang secara realistis dapat dimanfaatkan, baik dari sumber energi domestik maupun transisi menuju energi yang lebih bersih.
Salah satu pengganti utama adalah biodiesel, terutama B35 hingga B40 yang saat ini sudah digunakan secara nasional dan berbahan dasar minyak sawit. Biodiesel ini dapat langsung digunakan pada mesin diesel eksisting dengan penyesuaian minimal, sekaligus mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Ke depan, pengembangan green diesel atau renewable diesel hasil pengolahan lanjutan minyak nabati juga menjadi opsi karena kualitasnya setara bahkan lebih baik dari solar fosil.
Selain biodiesel, gas alam dalam bentuk CNG (Compressed Natural Gas) dan LNG (Liquefied Natural Gas) juga berpotensi menjadi pengganti solar, khususnya untuk sektor transportasi berat, industri, dan pembangkit listrik. Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup besar, meski kendala utama penggunaannya adalah kebutuhan infrastruktur seperti stasiun pengisian dan konversi mesin.
Dalam jangka panjang, listrik dan hidrogen menjadi alternatif strategis untuk menggantikan solar, terutama pada kendaraan dan alat berat. Kendaraan listrik berbasis baterai mulai diarahkan untuk transportasi umum dan logistik. Meski teknologi ini masih mahal dan infrastrukturnya terbatas, pengembangannya sejalan dengan target transisi energi dan penurunan emisi karbon nasional.
Dengan demikian, pengganti solar impor di Indonesia bukan hanya satu jenis bahan bakar, melainkan kombinasi antara biodiesel domestik, gas alam, serta energi baru seperti listrik dan hidrogen. Keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, kebijakan pemerintah, serta dukungan industri dan masyarakat dalam beralih ke sumber energi lainnya.
