Keluarga Epy Kusnandar Berjuang Menghadapi Duka dengan Kebersamaan
Kesedihan yang dirasakan oleh keluarga aktor Epy Kusnandar setelah kepergian sang suami untuk selamanya masih terasa hingga kini. Istri dari Epy, Karina Ranau, menjadi salah satu yang paling terpukul karena kehilangan pasangan hidupnya selama 17 tahun terakhir. Tidak hanya itu, anak-anak Epy juga merasakan duka yang dalam, baik dari pernikahannya dengan Karina maupun dari pernikahan sebelumnya.
Epy Kusnandar diketahui memiliki tiga putra laki-laki, yaitu Qodrat Pratama Putra dan Damar Rizal Marzuki dari pernikahan pertamanya, serta Quentin Stanislavski Kusnandar dari pernikahan dengan Karina Ranau. Meskipun Epy telah tiada, ketiga anak tersebut tetap kompak dan sering berkumpul bersama di makam ayah mereka.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh Karina, terlihat bagaimana ketiga anaknya bekerja sama merenovasi makam Epy Kusnandar di TPU Jeruk Purut, Jakarta. Momen ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga meskipun sedang berduka. Karina mengungkapkan rasa rindu akan kehadiran Epy saat keluarga berkumpul, seperti yang ia sampaikan dalam unggahan media sosialnya.
Di tengah proses renovasi, mereka menanam bunga dan rerumputan untuk menciptakan suasana yang tenang dan damai di tempat peristirahatan terakhir Epy. Qodrat terlihat bercanda dengan temannya, menunjukkan cara ia menghadapi duka melalui kebersamaan. Sementara Damar tampak serius menyapu area makam dan membantu mengatur tanaman, menunjukkan sikap dewasa sebagai anak sulung. Quentin, yang sebelumnya pernah bercerita tentang kenangan dan barang peninggalan ayahnya, turut membantu sambil sesekali berbincang ringan.
Karina sesekali menatap foto almarhum dan mengusap rumput yang baru saja ditanam, menunjukkan cinta yang tak pernah pudar. Respons positif dari netizen pun muncul, memuji kekompakan keluarga dalam momen tabur bunga dan renovasi makam.
Sebelumnya, Epy Kusnandar meninggal dunia pada tanggal 03 Desember 2025 di usia 61 tahun, dan jenazahnya dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada hari berikutnya. Kini, lewat renovasi ini, keluarga ingin memberi penghormatan terakhir yang penuh cinta dan kehangatan.
Video tersebut menjadi bukti bahwa kenangan bersama Epy tetap dirawat dengan penuh kasih oleh istri dan anak-anaknya. Namun, tidak semua momen duka ini berjalan lancar. Beberapa waktu setelah kematian Epy, Karina merasa kecewa karena ada oknum yang memanfaatkan kesedihan keluarga untuk kepentingan pribadi.
Dalam wawancara terbaru, Karina mengungkapkan kekecewaannya terhadap banyaknya berita simpang siur dan kemunculan orang-orang yang mengaku dekat dengan almarhum, padahal keluarga inti masih dalam keadaan sangat terpukul. Ia sempat kaget ketika melihat postingan media sosial yang membahas hal-hal yang melebar dari fakta.
Ia menyadari bahwa kematian Kang Epy menjadi sorotan publik dan viral, sehingga wajar jika media mencari informasi. Namun, ia menyayangkan waktu dan narasumber yang dipilih sangat tidak tepat. Menurutnya, tindakan membuat konten “napak tilas” di hari kedua kematian sangatlah tidak etis.
Pihak-pihak yang disebutnya sebagai saudara almarhum justru membawa media ke arah yang tidak semestinya tanpa berdiskusi dengan istri sah. Saat itu, Karina mengaku kondisinya sangat lemah, bahkan untuk berdiri dan makan pun tak sanggup. Namun, ia mendengar kabar bahwa ada yang mengajak syuting napak tilas ke Garut untuk meliput perjalanan hidup Kang Epy.
Menurut Karina, sumber akurat tentang kehidupan Epy adalah keluarga sendiri. Ia menegaskan bahwa keluarga yang menemani Epy sejak sehat hingga sakit, bahagia hingga sedih, dan akhirnya kehilangan. Ia merasa bahwa tindakan tersebut sangat tidak pantas dilakukan di saat keluarga masih dalam duka.
