Proyeksi Persaingan di Sektor Telekomunikasi Tahun 2026
Sektor telekomunikasi di Indonesia diproyeksikan menghadapi persaingan yang semakin ketat pada tahun 2026. Perusahaan-perusahaan besar terus berupaya meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) sekaligus memperkuat posisi mereka dalam pasar. Berikut analisis dan proyeksi dari beberapa ahli di bidang ini.
Momentum Pemulihan Harga dan Monetisasi Jaringan
Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menyatakan bahwa prospek sektor telekomunikasi pada awal tahun 2026 cenderung positif. Hal ini didorong oleh momentum pemulihan harga dan peningkatan monetisasi jaringan, khususnya setelah konsolidasi operator besar.
Salah satu contohnya adalah PT Indosat Tbk (ISAT), yang mulai memasuki fase price repair dengan kenaikan yield signifikan pada paket IM3 dan Hutch. Sementara itu, PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) sedang memasuki fase pasca-integrasi jaringan yang meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan. Hal ini diharapkan mendukung pertumbuhan monetisasi dan EBITDA dua digit pada tahun 2026 hingga 2027.
Di sisi lain, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) akan mendapat katalis valuasi dari spin-off aset fiber dan rencana masuknya mitra strategis pada tahun 2026. Secara keseluruhan, sektor ini memasuki tahun dengan fondasi monetisasi yang lebih baik dan kondisi kompetisi yang lebih rasional.
Tekanan pada Laba dan Margin
Meski ada optimisme, Muhammad Thoriq Fadilla, Research Analyst Bumiputera Sekuritas, melihat adanya probabilitas tekanan pada laba bagi beberapa perusahaan. Operator yang melakukan ekspansi besar-besaran dengan strategi harga kompetitif berpotensi menekan margin dan membuat profitabilitas jangka pendek lebih rentan.
Menurutnya, perusahaan yang memiliki fondasi kuat di layanan digital dan mampu memonetisasi basis pelanggan secara efektif akan menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor telekomunikasi. Tantangan seperti tekanan ARPU dan intensitas perang harga tetap menjadi isu penting.
Potensi Turunnya Harga dan Daya Beli
Harry Su, Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa tantangan utama sektor telekomunikasi adalah potensi turunnya harga layanan fixed broadband (FBB) akibat munculnya internet murah dan pelemahan daya beli konsumen.
Sentimen-sentimen yang perlu diperhatikan antara lain perbaikan kondisi ekonomi dan tren ARPU. Harry memprediksi ada potensi kenaikan ARPU pada awal tahun 2026, meskipun hanya dalam kisaran angka rendah (low single digit).
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Abida menilai beberapa faktor akan memengaruhi kinerja sektor telekomunikasi pada awal tahun 2026. Antara lain:
- Kecepatan pemulihan harga paket data, terutama setelah price repair ISAT.
- Dampak integrasi jaringan EXCL.
- Kemajuan monetisasi aset infrastruktur, seperti divestasi fiber ISAT dan spin-off InfraCo TLKM.
- Arah kompetisi dan lanskap pasar yang mulai lebih rasional pasca-konsolidasi.
- Perbaikan belanja konsumen yang sebelumnya menahan yield di kuartal III – 2025.
Sentimen-sentimen ini akan menentukan arah pertumbuhan ARPU, margin, serta re-rating valuasi sektor.
Fokus pada Kinerja Kuartal IV – 2025
Thoriq menambahkan bahwa fokus utama juga akan tertuju pada rilis kinerja hasil kuartal IV – 2025 yang keluar pada awal 2026. Kinerja ini akan dipengaruhi oleh lonjakan trafik pada momen natal dan tahun baru (nataru).
Beberapa indikator yang perlu dicermati antara lain:
- Margin EBITDA
- Capital expenditure (capex) guidance
- Kontribusi pendapatan digital
- Laporan ARPU dan jumlah pelanggan secara bulanan maupun kuartalan
Menurut Thoriq, perubahan ARPU lebih penting dibandingkan pertumbuhan jumlah pelanggan, karena kenaikan ARPU mencerminkan kualitas pendapatan yang lebih sehat.
Rekomendasi Saham
Abida merekomendasikan pembelian saham TLKM dengan target harga Rp 3.500 per saham, saham ISAT dengan target harga Rp 3.000 per saham, dan saham EXCL dengan target harga Rp 4.100 per saham.
Thoriq juga memberikan rekomendasi buy saham TLKM dan ISAT dengan target harga masing-masing Rp 3.720 per saham dan Rp 2.500 per saham.
Sementara itu, Harry Su merekomendasikan hold saham TLKM dengan target harga Rp 3.700 per saham, buy saham WIFI dengan target harga Rp 5.200 per saham, dan buy saham INET dengan target harga Rp 1.350 per saham.
EXCL Chart
by TradingView
