Kehidupan yang Berjuang di Tengah Bencana
Di tengah hujan deras dan longsoran tanah yang menghancurkan wilayah Aceh, sebuah tim inovator muda asal daerah tersebut berhasil melangkah hingga grand final ajang Budaya GO 2025. Tim yang diberi nama Bintang Kala ini menjadi contoh nyata dari semangat perjuangan dan ketangguhan manusia dalam menghadapi tantangan terberat.
Mereka adalah para inovator kategori profesional dalam ajang Budaya GO yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Pengumuman pemenang ajang ini pada Minggu, 7 Desember 2025 di Posblok Jakarta. Meskipun menghadapi banjir besar, longsor, dan isolasi total, Bintang Kala berhasil menyelesaikan demo aplikasi Smart Keuneunong dan mengirimkannya ke babak akhir.
Aplikasi yang mereka kembangkan bernama Smart Keuneunong—sebuah karya berbasis kearifan lokal, yang dirancang untuk membantu para petani dan nelayan memahami alam, cuaca, dan siklus kehidupan yang selama ini hanya diwariskan dari mulut ke mulut.
Tim Bintang Kala terdiri dari beberapa anggota dengan latar belakang berbeda:
-
Nanta Es – Lhokseumawe
Programmer, Operator SMAN Mosa Arun Lhokseumawe. -
Syahrul Hamdi – Aceh Selatan
Ahli Data Sains & Programmer, SMAN Mosa Arun Lhokseumawe. -
Reny Fharina – Aceh Tengah
Pegiat Seni & Guru Seni SMPN 3 Bireuen. -
Abu Rahmat – Aceh Utara
Pegiat Seni & Guru SMAN 1 Baktiya. -
Nyakman Lamjamee – Banda Aceh
Seniman.
Tanggal 26 November 2025, selepas pengumuman tahap dua, mereka masih berdiskusi lewat grup WhatsApp untuk menyempurnakan demo aplikasi. Hujan telah turun tanpa henti selama beberapa hari. Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, listrik padam di hampir seluruh Aceh. Tak lama kemudian, jaringan komunikasi ikut terputus. Awalnya mereka mengira itu gangguan biasa akibat hujan deras.
Air memasuki rumah-rumah hingga ketinggian satu meter. Desa berubah menjadi lautan lumpur yang menghanyutkan perabot, kenangan, dan rasa aman. Yang tersisa hanya naluri untuk bertahan hidup: menyelamatkan keluarga, menyelamatkan diri.
Beberapa dari mereka tetap mencoba menyelesaikan demo aplikasi di sela gelap dan ketakutan. Dengan daya baterai seadanya, dengan cahaya seadanya. Hingga, dengan perjuangan yang nyaris tak masuk akal, demo itu akhirnya berhasil dikirim.
Yang lain tak lagi memikirkan lomba. Saat itu, yang ada hanya satu tujuan: selamat.
Empat Hari Tanpa Cahaya
Empat hari berlalu tanpa listrik. Tanpa sinyal. Tanpa kabar. Ketika hujan akhirnya reda, mereka berjalan kaki menyusuri tempat-tempat tinggi hanya untuk mencari seberkas sinyal. Dan di sanalah mereka menemukan kabar yang menggetarkan: Nama “Bintang Kala” tercantum dalam daftar undangan grand final.
Perasaan itu bercampur menjadi satu: bahagia, takut, sedih, bimbang. Bagaimana berangkat, jika jalan terputus? Bagaimana berpikir lomba, saat perut lapar dan rumah hancur? Bagaimana meninggalkan keluarga yang masih bertahan di lumpur?
Mereka berasal dari daerah yang terpisah: Lhokseumawe, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tengah, Banda Aceh. Semua jalur darat terputus. Tiga anggota tim dari Lhokseumawe dan Aceh Utara terpaksa menyeberangi sungai berarus deras menggunakan perahu kecil milik nelayan. Hampir terbalik. Jembatan telah hancur. Mereka meninggalkan keluarga dan rumah yang masih berlumpur.
Satu anggota dari Bireuen berangkat setelah menelepon orang tua, memohon izin, sambil menahan tangis. Anggota tim di Banda Aceh menunggu mereka dengan berjalan kaki berkilometer hanya untuk menemukan jaringan internet demi memastikan komunikasi tetap hidup.
Tanggal 3 Desember 2025, mereka akhirnya tiba di Banda Aceh dalam keadaan selamat. Mereka menumpang di kantor BPK Wilayah I, satu dari sedikit tempat yang masih memiliki listrik. Di sanalah mereka, untuk pertama kalinya, duduk bersama. Tatap muka. Bukan hanya sebagai tim, tapi sebagai saudara seperjuangan.
Malam itu mereka belajar, berdiskusi, dan mempersiapkan diri untuk Jakarta. Paginya, pukul 10.00 WIB, mereka berangkat ke bandara. Sore hari, pukul 18.00 WIB, mereka akhirnya tiba di lokasi Budaya GO Jakarta dan bertemu para finalis lain dari seluruh Indonesia.
Mereka datang bukan dengan pakaian terbaik, tapi dengan luka, air mata, dan tekad yang tak pernah padam. Dari 627 peserta, menjadi 100, lalu 50, hingga akhirnya Bintang Kala 10 besar grand finalis nasional.
Kisah tentang Ketahanan Manusia
Bintang Kala tidak hanya membawa aplikasi. Mereka membawa kisah tentang ketahanan manusia. Tentang mimpi yang bertahan meski dunia runtuh. Tentang cahaya yang tetap hidup di tengah bencana.
Bintang Kala adalah bukti bahwa inovasi lahir bukan dari kenyamanan, tetapi dari keberanian. Bahwa harapan bisa tetap tumbuh, bahkan dari tanah yang baru saja ditelan lumpur.
Kaki harus menyelesaikan mapan yang sudah kami mulai, ” Kata Abu Rahmat saat menerima apresiasi pada malam penutupan. Mereka hadir semua di panggung diiringi latar benacana banjir dan longsor di Aceh. Kampung meteka.
