Kisah Linda, Deportan yang Dipulangkan dari Tawau ke Indonesia
NUNUKAN – Seorang perempuan bernama Linda (33 tahun) mengalami pengalaman tak terlupakan setelah dipulangkan dari Tawau, Malaysia ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Ini adalah pertama kalinya Linda menginjakkan kaki di tanah air setelah tinggal selama bertahun-tahun di negara tetangga.
Linda merupakan salah satu dari 114 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tiba di Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, pada Kamis (12/3/2026). Ia dideportasi karena tidak memiliki dokumen resmi seperti Identity Card (IC) atau MyKad. Saat ini, Linda hanya memiliki surat lahir dan belum pernah memiliki dokumen identitas resmi sepanjang hidupnya.
Selama hidupnya, Linda tinggal di Tawau, Malaysia. Bahkan ia tidak pernah pulang ke Indonesia sejak kecil. Ayahnya sempat memiliki IC Malaysia, namun meninggal dunia pada tahun 2023 sebelum dokumen tersebut dapat diurus. “Dulu waktu bapak masih ada, kami merasa aman karena bapak punya IC,” kata Linda.
Linda adalah anak kelima dari enam bersaudara. Ia dan adiknya, Ika (31), ikut dideportasi ke Indonesia. Sementara dua saudaranya tinggal di Indonesia bersama ibunya yang kini tinggal di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Dua saudara lainnya masih berada di Malaysia karena sudah menikah dan satu saudara lainnya mendapat jaminan dari tempat bekerja.
Pengalaman Menyedihkan Saat Ditangkap
Linda menceritakan momen yang tak akan pernah ia lupakan ketika petugas imigrasi Malaysia datang menangkap mereka. “Saat itu, saya dan saudaranya sedang tertidur di rumah. Petugas datang sekitar jam dua dini hari. Kami sedang tidur, tiba-tiba mereka datang dan sudah mengepung perumahan,” ujarnya.
Menurut Linda, penangkapan tersebut kemungkinan besar terjadi karena ada laporan dari seseorang terkait keberadaan mereka yang tidak memiliki IC Malaysia. “Katanya ada yang melaporkan, tapi kami juga tidak tahu siapa,” katanya.
Selama di Tawau, Linda dan keluarganya tinggal di rumah sederhana di atas tanah sewaan dengan biaya sewa sekitar RM80 per bulan. Ayah Linda semasa hidupnya bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan di Malaysia. Namun setelah sang ayah meninggal dunia, kehidupan keluarga mereka menjadi semakin sulit.
Kondisi Penampungan yang Memburuk
Setelah ditangkap, Linda dan deportan lainnya dibawa ke pusat penampungan yang disebut Rumah Merah. Di tempat tersebut, mereka digabung dengan ratusan deportan lainnya dari Indonesia dan Filipina.
Menurut Linda, kondisi di dalam penampungan jauh dari kata nyaman. “Kalau dirating dari 1 sampai 10, mungkin hanya 3,5,” katanya. Di dalam ruangan penampungan terdapat lebih dari 200 orang, termasuk banyak anak-anak. Tidak ada kasur maupun bantal, minim cahaya matahari. “Kami hanya tidur di lantai beralaskan tikar,” ujarnya.
Selama satu bulan berada di sana, kegiatan mereka sangat terbatas. Hanya tidur, makan, dan setiap pagi menjalani pemeriksaan rutin. Linda dan adiknya termasuk yang beruntung karena hanya menjalani masa penampungan selama satu bulan sebelum dipulangkan ke Indonesia. Hal itu karena mereka memiliki surat lahir sebagai identitas.
Rencana Menikah yang Tertunda
Linda mengaku sangat terpukul saat mengetahui dirinya harus dideportasi. “Sakit sekali rasanya, tidak bisa digambarkan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Apalagi peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah ayah meninggal dunia.
Sang ibu yang kini berada di Sulawesi Selatan juga sangat terkejut ketika mengetahui kabar tersebut. “Mama menangis saat tahu kami dideportasi,” katanya.
Sebelum dideportasi, Linda sebenarnya memiliki rencana besar untuk menikah dalam waktu dekat di Tawau. Sayangnya, rencana tersebut harus tertunda akibat Linda dideportasi dari Malaysia. “Saya sebenarnya mau menikah, tapi harus dideportasi,” ungkapnya.
Untuk sementara waktu, Linda dan Ika akan tinggal di Nunukan. Ia memilih tidak ikut pulang bersama deportan lainnya lantaran ingin merayakan Hari Raya Idulfitri bersama pamannya yang berdomisili di Nunukan. Meski begitu, Linda mengaku masih menyimpan harapan suatu hari nanti bisa kembali ke Tawau, tempat ia lahir dan dibesarkan.
