Kehadiran Mojtaba Khamenei dalam Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran
Sosok putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, kini menjadi perhatian utama di tengah spekulasi mengenai kemungkinan pergantian kepemimpinan Iran. Namun, beberapa sumber internasional memprediksi bahwa dia tidak akan menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya.
Pada hari Minggu 1 Maret 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim ada bukti yang menunjukkan bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal. Klaim ini muncul setelah serangan terhadap kompleks kediamannya di Teheran. Seorang pejabat senior Israel juga menyampaikan kepada Reuters bahwa jenazah Khamenei telah ditemukan.
Khamenei telah menjadi pemimpin Republik Islam sejak tahun 1989, satu dekade setelah ia meraih ketenaran selama revolusi teokratis yang berhasil menggulingkan monarki di Iran dan mengguncang Timur Tengah. Jika klaim tentang kematiannya benar, Iran akan memiliki Pemimpin Tertinggi yang baru.
Namun, Khamenei dilaporkan telah mengidentifikasi tiga calon pengganti potensial tahun lalu, menurut The New York Times. Mereka adalah ulama senior, dan laporan tersebut menambahkan bahwa putra Khamenei, Mojtaba, meskipun telah lama dianggap sebagai kandidat terdepan, tidak termasuk di antara kandidat yang dipilih.
Mojtaba Khamenei adalah seorang ulama yang dilaporkan memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam. Berikut alasan mengapa ia kemungkinan besar bukan penerus Ali Khamenei.
Mengapa Mojtaba Kemungkinan Besar Bukan Penerus Ayatollah Khamenei?
Menurut Middle East Institute, Mojtaba menghadapi serangkaian rintangan dalam perjalanannya untuk menjadi Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya. Tantangan pertama kemungkinan besar adalah persyaratan konstitusional.
Sesuai konstitusi Republik Islam, Majelis Pakar menunjuk pengganti Khamenei. Kandidat harus memiliki “pengalaman politik” sesuai hukum. Mojtaba dilaporkan gagal dalam hal ini, menurut lembaga tersebut. Ini karena meskipun secara de facto menjalankan Kantor Pemimpin Tertinggi, ia tidak memiliki peran politik formal dalam rezim tersebut.
Jika Mojtaba menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya, hal itu akan bertentangan dengan konvensi Islam Syiah, yang menyatakan bahwa garis keturunan untuk jabatan tersebut secara eksklusif diperuntukkan bagi 12 Imam Syiah yang ditunjuk secara ilahi. Khamenei sendiri terpilih sebagai pemimpin tertinggi pada tahun 1989 mengalahkan putra Khomeini yang berpengaruh, Ahmad, karena alasan ini.
Pada tahun 2023, Khamenei mengatakan dalam sebuah pidato bahwa “kediktatoran dan pemerintahan turun-temurun bukanlah Islami,” menurut lembaga pemikir yang berbasis di AS, Stimson Center. Dengan demikian, pemilihan Mojtaba dapat menyebabkan kekacauan, menurut lembaga tersebut, yang akan bertentangan dengan transisi mulus yang diinginkan Khamenei saat menyeleksi para penggantinya tahun lalu.
Middle East Institute juga melaporkan bahwa ambisi Khamenei sendiri untuk masa depan Republik Islam kemungkinan besar juga akan mengakibatkan Mojtaba tidak terpilih sebagai penggantinya. Menurut lembaga tersebut, Khamenei kemungkinan akan memilih tokoh-tokoh garis keras, dalam upaya untuk “memurnikan” rezim tersebut.
Profil Singkat Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei memiliki nama lengkap Ali Hosseini Khamenei. Saat ini, Ayatollah Ali Khamenei berusia 86 tahun. Ia lahir pada 19 April 1939. Ayatollah Ali Khamenei juga dikenal sebagai seorang ulama dan politikus. Ia menjabat posisi pemimpin tertinggi Iran sejak 1989.
Hal tersebut membuatnya menjadi kepala negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah dan pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama kedua pada abad ke-20 dan ke-21, setelah Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Kehidupan Pribadi Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei adalah anak dari pasangan Javad dan Khadijeh Mirdamadi. Ayahnya adalah seorang Alim dan Mujtahid. Ayah Ali Khamenei diketahui seorang etnis Azerbaijan dari Khamaneh, sementara ibunya adalah seorang etnis Persia dari Yazd. Sang ibu merupakan putri Hashem Mirdamadi.
Leluhur Khamenei adalah Sayyid Hossein Tafreshi, keturunan Sayyid Aftasi yang diperkirakan sampai ke Sultan ul-Ulama Ahmad, yang dikenal sebagai Sultan Sayyid, cucu dari Imam Syiah keempat, Ali al-Sajjad.
Ayatollah Ali Khamenei adalah anak kedua dari 8 bersaudara.
Pendidikan Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei memulai pendidikan di usia empat tahun. Ia mempelajari Al-Quran di Maktab. Kemudian, Ayatollah Ali Khamenei menghabiskan tingkat dasar dan lanjutan studi seminari di hawza Mashhad, di bawah mentor seperti Sheikh Hashem Qazvini dan Ayatollah Milani.
Kemudian di tahun 1957, Ayatollah Ali Khamenei pergi ke Najaf. Namun ia segera kembali ke Mashhad karena ayahnya tidak mengizinkannya tinggal di sana. Pada tahun 1958, Ayatollah Ali Khamenei menetap di Qom. Di sanalah Ayatollah Ali Khamenei menghadiri kelas-kelas Seyyed Hossein Borujerdi dan Ruhollah Khomeini.
Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan jauh lebih terlibat dengan politik ketimbang beasiswa agama.
