Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Gaya Hidup

9 Kebiasaan Tersembunyi Anak Baik yang Bertahan Hingga Dewasa, Menurut Psikologi

Harini Umar
Last updated: March 10, 2026 12:25 am
Harini Umar
Share
6 Min Read
SHARE

Peran Anak Baik dalam Keluarga dan Dampaknya pada Kehidupan Dewasa

Dalam banyak keluarga, selalu ada satu sosok yang dikenal sebagai “anak baik”. Ia penurut, jarang membantah, berprestasi, tidak merepotkan, dan sering menjadi kebanggaan orang tua. Dari luar, peran ini terlihat ideal. Namun menurut psikologi, label “anak baik” sering kali membentuk pola perilaku dan kebiasaan tertentu yang terbawa hingga dewasa — bahkan tanpa disadari.

Contents
  • Peran Anak Baik dalam Keluarga dan Dampaknya pada Kehidupan Dewasa
  • Apakah Semua “Anak Baik” Akan Mengalami Ini?
  • Penutup: Dari “Anak Baik” Menjadi “Diri yang Autentik”

Konsep ini banyak dibahas dalam teori perkembangan psikososial seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, serta dalam teori kelekatan (attachment theory) yang dipelopori oleh John Bowlby. Pola asuh dan dinamika keluarga sangat memengaruhi bagaimana seorang anak membangun identitas, harga diri, serta cara berelasi saat dewasa.

Berikut adalah beberapa kebiasaan yang sering terbawa oleh “anak baik” hingga dewasa:

  • Sulit Mengatakan “Tidak”

    Sejak kecil, “anak baik” terbiasa memenuhi harapan orang tua. Ia belajar bahwa menjadi disukai berarti menjadi patuh. Akibatnya, saat dewasa ia sering kesulitan menolak permintaan orang lain. Dalam psikologi, ini berkaitan dengan people-pleasing behavior — dorongan untuk menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan. Ketakutan terbesar mereka bukan konflik, melainkan penolakan.

  • Terlalu Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain

    Banyak “anak baik” tumbuh dalam keluarga di mana mereka menjadi penenang konflik, penengah pertengkaran, atau tempat curhat orang tua. Peran ini disebut sebagai parentification — ketika anak memikul tanggung jawab emosional yang seharusnya bukan miliknya. Saat dewasa, mereka sering merasa bersalah jika orang lain kecewa, bahkan ketika itu bukan tanggung jawabnya.

  • Perfeksionis yang Tersembunyi

    Karena sering dipuji atas prestasi dan kepatuhan, mereka belajar bahwa cinta dan penerimaan bersyarat pada performa. Ini bisa berkembang menjadi perfeksionisme. Menurut Carl Rogers, kondisi ini berkaitan dengan “conditional positive regard” — ketika penghargaan diberikan hanya jika seseorang memenuhi ekspektasi tertentu. Anak kemudian tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga hanya saat ia “cukup baik”.

  • Sulit Mengenali Kebutuhan Diri Sendiri

    Karena terbiasa memprioritaskan kebutuhan orang lain, “anak baik” sering tidak terbiasa bertanya: “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” Mereka lebih peka terhadap kebutuhan eksternal dibanding suara batin sendiri. Akibatnya, saat dewasa mereka bisa merasa hampa atau kehilangan arah, meski tampak sukses.

  • Menghindari Konflik Sebisa Mungkin

    Konflik sering diasosiasikan dengan “tidak baik”. Maka, banyak dari mereka belajar untuk menekan kemarahan, kekecewaan, atau perbedaan pendapat. Padahal, menurut penelitian psikologi relasi, konflik yang sehat justru penting untuk membangun hubungan yang autentik. Menghindari konflik terus-menerus bisa membuat emosi terpendam dan muncul dalam bentuk stres atau kelelahan emosional.

  • Harga Diri yang Bergantung pada Validasi Eksternal

    Karena terbiasa mendapatkan identitas sebagai “anak baik”, mereka sering membangun harga diri berdasarkan penilaian luar. Jika dipuji, mereka merasa cukup. Jika dikritik, mereka merasa runtuh. Pola ini berkaitan dengan konsep self-worth yang belum sepenuhnya otonom, di mana identitas masih bergantung pada pengakuan sosial.

  • Terlalu Mandiri dan Enggan Merepotkan

    Ironisnya, banyak “anak baik” tumbuh menjadi orang dewasa yang sangat mandiri — bahkan berlebihan. Mereka enggan meminta bantuan karena takut dianggap menyusahkan. Sejak kecil mereka mungkin mendapat pesan implisit seperti: “Jangan bikin Mama capek.” “Kamu kan anak pintar, pasti bisa sendiri.” Pesan ini membentuk keyakinan bahwa kebutuhan pribadi adalah beban bagi orang lain.

  • Menekan Emosi Negatif

    Menjadi “baik” sering diartikan sebagai tidak marah, tidak cemburu, tidak membantah. Akibatnya, anak belajar bahwa emosi tertentu tidak diterima. Dalam jangka panjang, penekanan emosi dapat berdampak pada kesehatan mental — seperti kecemasan atau kelelahan emosional. Emosi yang tidak diproses tidak hilang; ia hanya bersembunyi.

  • Krisis Identitas Saat Dewasa

    Pada tahap perkembangan identitas yang juga dibahas oleh Erik Erikson, individu perlu menjawab pertanyaan: “Siapa aku sebenarnya?” Bagi “anak baik”, pertanyaan ini bisa menjadi rumit. Selama ini identitasnya melekat pada peran — bukan pada diri autentiknya. Ketika dewasa dan jauh dari keluarga, ia bisa merasa kosong atau bingung menentukan pilihan hidup sendiri.

Apakah Semua “Anak Baik” Akan Mengalami Ini?

Tidak selalu. Banyak “anak baik” tumbuh menjadi pribadi yang sehat, empatik, dan sukses tanpa beban emosional berarti. Faktor penentu terletak pada:

  • Apakah kasih sayang diberikan secara tanpa syarat.
  • Apakah anak diberi ruang untuk mengekspresikan emosi.
  • Apakah kesalahan diperlakukan sebagai proses belajar, bukan kegagalan moral.

Penutup: Dari “Anak Baik” Menjadi “Diri yang Autentik”

Menjadi anak yang baik bukanlah masalah. Yang menjadi tantangan adalah ketika “baik” berarti mengorbankan diri sendiri. Kesadaran adalah langkah pertama. Saat seseorang mulai memahami pola yang ia bawa sejak kecil, ia memiliki kesempatan untuk membangun ulang batasan, harga diri, dan relasi yang lebih sehat. Karena pada akhirnya, tujuan perkembangan psikologis bukanlah menjadi “anak baik” selamanya — melainkan menjadi pribadi dewasa yang utuh, sadar diri, dan autentik.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByHarini Umar
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Gaya Hidup

8 tips simpan sisa sahur tahan lama selama Ramadan

March 4, 2026
Gaya Hidup

Gaya Mewah Ratu Prancis di Pameran Marie Antoinette

March 14, 2026
Gaya Hidup

Psikologi Tetangga: Seni Menghadapi Tetangga Beracun

January 29, 2026
Gaya Hidup

Hanya Lawang Sewu? 3 Destinasi Ini Wajib Dikunjungi di Semarang

January 8, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?