Film Satir yang Menyentil Objektifikasi Perempuan
Objektifikasi perempuan masih menjadi isu yang terus berlanjut, meskipun narasi telah mulai bergeser ke arah positif. Namun, kita masih sering melihat dan mendengar kejadian mengganggu baik di dunia nyata maupun di media digital. Meski pengalaman ini lebih cocok dikemas dalam nuansa horor, banyak sineas yang memilih untuk menyelipkan sentuhan humor gelap dalam kritik mereka terhadap kebiasaan manusia melakukan objektifikasi terhadap tubuh perempuan. Berikut adalah lima film satir yang menyoroti isu ini dengan cara yang unik dan kritis.
1. Audition (1999)
Audition adalah film thriller satir yang fokus pada seorang duda bernama Shigeharu Aoyama. Setelah hampir sepuluh tahun hidup sendiri dan fokus pada pekerjaannya sambil merawat putranya yang sedang berkembang, Aoyama akhirnya menyerah ketika orang-orang di sekitarnya mendorongnya untuk menikah lagi. Menggunakan posisinya sebagai petinggi di sebuah stasiun televisi, ia berkonspirasi dengan salah satu produser untuk melakukan audisi bodong. Mereka berpura-pura menyelenggarakan audisi untuk pemeran utama perempuan di sebuah film romantis, tetapi sebenarnya sedang membuka kesempatan bagi Aoyama untuk mencari calon istri idamannya. Saat akhirnya berhasil menemukan sosok potensial, Aoyama justru menghadapi kejadian di luar nalar.
Genre: Thriller-psikologi, satir
Pemain: Ryo Ishibashi, Eihi Shina, Tetsu Sawaki
Sutradara: Takashi Miike
2. The Substance (2024)

The Substance viral pada awal perilisannya pada 2024, dan memang merupakan film satir yang sangat genius. Dibuat oleh sutradara perempuan, film ini berhasil menggambarkan implikasi ekstrem dari kebiasaan manusia mengobjektifikasi perempuan: memujanya saat mereka muda dan cantik, serta melupakannya saat mereka menua. Film ini berkisah tentang Elisabeth, seorang aktris yang mulai menua dan popularitasnya mulai menurun. Terobsesi untuk tetap relevan, ia nekat menyuntikkan formula ajaib yang bisa mengubahnya menjadi sosok baru yang jauh lebih muda dan menarik secara fisik.
Genre: Thriller-psikologi, satir, sains fiksi
Pemain: Demi Moore, Margaret Qualley, Dennis Quaid
Sutradara: Coralie Fargeat
3. Drop Dead Gorgeous (1999)

Film ini tidak membuang waktu dengan basa-basi. Film ini berkisah tentang sebuah kontes kecantikan yang diselenggarakan di sebuah kota kecil di Amerika Serikat. Para peserta berasal dari SMA setempat dan memiliki latar belakang serta motif masing-masing. Namun, tekanan besar untuk menang dan membuat impresi positif justru mendorong mereka melakukan hal-hal di luar batas. Film ini juga menjadi contoh bagaimana ambisi dapat berujung pada korupsi.
Genre: Mockumentary, satir
Pemain: Kirsten Dunst, Brittany Murphy, Denise Richards
Sutradara: Michael Patrick Jann
4. Air Doll (2009)

Biasanya membuat film drama realis, dalam Air Doll, Hirokazu Koreeda mencoba keluar dari zona nyamannya. Ia mempercayai Bae Doona sebagai sesosok boneka seks yang diberi jiwa dan untuk pertama kalinya bisa menarasikan perasaannya. Ia diberi nama Nozomi oleh si pemiliknya, seorang pria lajang bernama Hideo. Suatu hari, Nozomi bertransformasi menjadi manusia yang bisa berbicara dan memiliki otonomi atas tubuhnya. Dari sini, sikap Hideo padanya berubah, menandakan keberatan atas otonomi yang diraih Nozomi.
Genre: Satir, drama, fantasi
Pemain: Bae Doona, Arata Iura, Joe Odagiri
Sutradara: Hirokazu Koreeda
5. 100 Yen Love (2014)

Ichiko adalah perempuan berusia 32 tahun yang dianggap tak punya masa depan oleh keluarganya. Terlibat konflik besar dengan sang kakak, ia memutuskan keluar dari rumah orangtuanya dan bekerja di sebuah minimarket. Di sini, Ichiko mulai bertemu orang-orang baru seperti rekan kerja, bahkan pacar pertamanya. Akhirnya, Ichiko mengalami beberapa rentetan tragedi dari interaksinya dengan beberapa pria di sekitarnya dan ia memutuskan melampiaskan amarah serta rasa frustrasinya dengan menggeluti olahraga tinju.
Genre: Drama olahraga, satir/komedi
Pemain: Sakura Ando, Miyoko Inagawa, Yozaburo Ito
Sutradara: Masaharu Take
Satir memiliki kekuatannya sendiri. Humor dan sindiran yang disampaikan lebih nyentil dan pedas, memaksamu untuk berpikir kritis dan mempertanyakan status quo. Tidak hanya untuk perempuan, audiens pria juga wajib menonton, agar tidak lagi nyaman saat mendengar gurauan seksis. Tertarik menonton yang mana hari ini?
