Adaptasi Film Wuthering Heights yang Menimbulkan Kontroversi
Adaptasi buku menjadi film adalah hal yang umum terjadi di Hollywood, terutama ketika mengangkat karya sastra klasik. Contohnya seperti Pride & Prejudice (2005) yang menjadi salah satu film wajib tonton bagi banyak generasi. Begitu pula dengan novel Wuthering Heights karya Emily Brontë, yang juga sering diadaptasi ke layar lebar. Kini, adaptasi terbaru dari novel ini dibintangi oleh Margot Robbie telah dirilis sebelum Hari Valentine pada tahun 2026. Namun, film ini justru menimbulkan berbagai kontroversi dan perdebatan di kalangan penggemar sastra klasik.
Film ini diproduksi oleh Emerald Fennell, sutradara yang dikenal melalui karya-karyanya seperti Promising Young Woman (2020) dan Saltburn (2023). Dalam film ini, Margot Robbie dan Jacob Elordi memerankan tokoh utama, Catherine dan Heathcliff. Meskipun pemilihan pemeran mendapat perhatian, beberapa aspek lain dari film ini justru memicu kritik dan spekulasi dari para penggemar.
Karakter Heathcliff Mengalami Whitewashing
Salah satu isu besar yang muncul adalah tentang karakter Heathcliff yang digambarkan sebagai laki-laki kulit gelap dalam novel. Namun, dalam film ini, aktor Jacob Elordi, yang memiliki kulit putih, memerankan tokoh tersebut. Hal ini membuat banyak kritikus khawatir karena menghilangkan ambiguitas yang ada dalam novel. Meskipun ini bukan pertama kalinya aktor kulit putih memerankan Heathcliff, seperti Tom Hardy dalam adaptasi tahun 2009, namun hal ini tetap menimbulkan pro dan kontra.
Emerald Fennell menjelaskan bahwa ia merasa Elordi mirip dengan Heathcliff yang ia bayangkan saat remaja. Namun, banyak penggemar novel tetap merasa bahwa penampilan Elordi tidak sesuai dengan deskripsi karakter dalam buku. Hal ini memicu debat tentang bagaimana karakter yang kompleks harus dipertahankan dalam adaptasi film.
Trailer Film Terlalu Berbau Seksual dan Vulgar
Setelah trailer film dirilis, banyak penggemar sastra klasik mengkritik nuansa seksual yang terlalu dominan dalam trailernya. Mereka berspekulasi bahwa Emerald Fennell mencoba menerapkan unsur-unsur seksual dari film Saltburn ke dalam Wuthering Heights. Beberapa adegan dalam trailer seperti Heathcliff menghisap jari Catherine atau merangkak di lantai dengan lidah menjulur menimbulkan reaksi negatif.
Beberapa pengguna Reddit menyebut trailer tersebut cabul dan terlalu provokatif. Meskipun tidak semua orang merespons secara negatif, mayoritas penggemar novel masih merasa tidak nyaman dengan pendekatan film ini. Bahkan, seorang pengguna bernama u/followmyback mengatakan bahwa tema seksual dalam film ini terkesan seperti upaya remaja untuk membuktikan kesadaran seksual mereka.

Kesulitan dalam Mengadaptasi Novel yang Rumit
Wuthering Heights adalah novel yang sulit diadaptasi karena dinamika cerita yang rumit. Banyak penggemar khawatir bahwa film ini akan sangat berbeda dari buku aslinya. Studi dari Isis Magazine pada 2023 menyebutkan bahwa tantangan utama dalam mengadaptasi novel ini adalah narasi keluarga yang rumit dan adanya tiga nama yang sama di seluruh novel, yang bisa membingungkan penonton.
Selain itu, bagian kedua dari novel ini, yang lebih berisi tentang hubungan toksik antara Heathcliff dan Catherine, jarang diadaptasi. Banyak yang berspekulasi bahwa film ini akan fokus hanya pada bagian pertama, meski ada juga yang berharap film ini akan mengangkat seluruh cerita.

Kostum yang Tidak Sesuai dengan Zaman
Penggemar sastra klasik juga mengkritik pilihan kostum dalam film ini. Seperti halnya film bertema sejarah lainnya, akurasi kostum menjadi penting. Namun, banyak penggemar menilai bahwa kostum dalam trailer Wuthering Heights tidak sesuai dengan periode waktu yang digambarkan dalam novel.
Contohnya, kostum yang dikenakan Margot Robbie tampak lebih mirip dengan gaya Victoria tahun 1860-an, padahal novel ini berlatar akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Selain itu, adegan korset yang dikenakan Catherine tanpa dalaman juga dinilai tidak realistis.

Penutup
Adaptasi film Wuthering Heights yang dibintangi Margot Robbie memicu berbagai kontroversi, baik dalam hal pemilihan pemeran, nuansa seksual, maupun akurasi historis. Penggemar sastra klasik tetap waspada terhadap apakah film ini benar-benar menjadi adaptasi yang setia pada sumbernya. Semoga saja film ini dapat memenuhi ekspektasi para penggemar, meskipun banyak yang masih meragukan kualitasnya. Film ini dirilis pada 11 Februari 2026.
