Sejarah Sate Hadori yang Berusia Puluhan Tahun
Sate Hadori, sebuah legenda kuliner Bandung sejak 1940-an, kini dikelola oleh generasi ketiga dengan konsep semi-kafe di Jalan Natuna. Dengan perubahan ini, tempat ini mencoba menarik pasar anak muda tanpa meninggalkan cita rasa otentik yang telah melekat selama puluhan tahun.
Awal Mula dan Perkembangan
Sate Hadori awalnya berdiri sebagai usaha kecil yang menjual sate kambing dengan cara yang sederhana. Dari lapak kecil di belakang Pasar Baru, tempat ini berkembang menjadi salah satu ikon kuliner Kota Bandung. Banyak pelanggan setia dari berbagai kalangan, termasuk tokoh nasional seperti mantan Presiden RI Jokowi Dodo, pernah mencicipi sate yang dibakar di atas arang membara.
Kakek Inung dan nenek Una, dua perantau asal Garut, mulai mengais rezeki dari usaha ini. Seiring waktu, kabar tentang sate yang empuk dan tidak berbau prengus menyebar dari mulut ke mulut, sehingga semakin banyak orang datang untuk mencobanya.
Generasi Ketiga dan Konsep Baru
Untuk menjaga eksistensi Sate Hadori, generasi ketiga mengembangkan usaha dengan membuka cabang di Jalan Natuna No 27, Kota Bandung. Para pengelola yang terlibat dalam pengelolaan ini adalah Vitta Sukmawatie, Anggi Natalya, Putty Permata Sari, dan Agung Purnama.
Salah satu menu yang hanya tersedia di cabang ini adalah gulai kepala kambing. Menu ini memiliki cita rasa gurih dengan kuah santan kental yang dimasak dengan aneka rempah. Bagian kepala kambing yang telah dibersihkan dan direbus dimasak hingga empuk, lalu direndam dalam kuah berbumbu yang meresap sampai ke serat dagingnya.
Menu dan Harga
Selain gulai kepala kambing, pihak Sate Hadori Natuna juga menyediakan beberapa menu tambahan seperti nasi goreng kambing, sapi, dan ayam; sop kambing; sop iga sapi; tongseng, serta gulai kepala kambing yang tidak tersedia di pusat.
Harga untuk menu spesial kepala kambing mencapai Rp200 ribu, sedangkan pilihan lain dimulai dari Rp15 ribu untuk camilan dan Rp35 ribu untuk nasi goreng. Untuk memudahkan pengunjung, pihaknya juga menyediakan paket berdua yang dibanderol Rp99 ribu dan paket berlima seharga Rp599 ribu.
Konsep Semi-Kafe dan Pengalaman Santap
Menurut Putty Permata Sari, pengelola Sate Hadori Natuna, geliat tempat makan tidak hanya terjebak dalam suasana restauran. Karena itu, mereka menghadirkan konsep semi-kafe di Sate Hadori Natuna. Di sini, terdapat dua lantai semi outdoor yang bisa menjadi pilihan para pengunjung. Di lantai pertama, berkonsep dapur terbuka.
“Kalau di pusat itu konsepnya rumah makan. Di Natuna kita bikin lebih nyaman, bisa buat nongkrong juga. Parkirnya lebih luas, suasananya lebih santai,” kata dia.
Menyesuaikan Tren Anak Muda
Pengelola Sate Hadori di Jalan Natuna, Anggi Natalya, menambahkan bahwa pihaknya tak hanya mengandalkan cita rasa, tetapi juga menghadirkan pengalaman bersantap yang sesuai tren anak muda. Pengunjung kini mencari sensasi nongkrong yang nyaman dan estetik, sehingga konsep tempat dan suasana terus disesuaikan tanpa meninggalkan karakter kuliner yang sudah melekat.
Lokasinya dikelilingi kafe dan tempat makan modern. Alih-alih merasa tersaingi, mereka justru melihatnya sebagai peluang. Orang yang awalnya datang untuk ngopi, bisa saja melirik rumah makan baru di seberang jalan.
Tetap Memegang Cita Rasa Otentik
Meski hadir di tempat yang kontras dari sebelumnya, cita rasa tetap dijaga mantap. “Yang diajarin dulu sama kakek, tetap kita pertahankan. Dari cara motong kambing, cara ngebakar, sampai bikin gulai. Dan tentu ada bumbu rahasia,” ujar Vitta Sukmawatie, pengelola lainnya.
Dalam sehari, ribuan tusuk sate dibakar. Daging dipilih segar, dipotong dengan teknik yang mereka yakini memengaruhi tekstur. “Hasilnya, menurut banyak ulasan pelanggan, sate terasa empuk dan minim aroma prengus,” ucapnya.
Tak sedikit yang awalnya enggan menyentuh kambing, lalu berubah jadi penikmat setia.
Menu Andalan dan Tantangan
Selain gulai kepala kambing, menu andalan yang kerap diburu adalah sate sinderet. Bagian ini terbatas dari satu ekor kambing hanya sekitar 15–20 tusuk.
Bagi generasi ketiga, tantangan terbesar bukan membuka ekspansi, melainkan mempertahankan ciri khas. “Warisan dari kakek harus tetap ada. Pelanggan kita juga turun-temurun. Dulu yang makan kakek-neneknya, sekarang cucunya,” imbuhnya.
Bagi Anda yang tertarik mencicipi, jam operasional Sate Hadori di Jalan Natuna buka pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.
