Transformasi Masyarakat Hulu Aia: Dari Pembalak Menjadi Penjaga Hutan
Di kawasan Hulu Aia, Nagari Harau, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sebuah perubahan besar terjadi dalam pengelolaan hutan. Masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidup dari pembalakan dan pembukaan lahan perkebunan kini bertransformasi menjadi penjaga hutan melalui skema Perhutanan Sosial. Proses ini dijalankan dengan pendampingan intensif dari KKI Warsi, yang membantu masyarakat mengelola Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas 1.184 hektar secara berkelanjutan.
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga pada perekonomian masyarakat setempat. Dengan memadukan kearifan lokal dan pendekatan adat, warga Hulu Aia mulai menanam berbagai tanaman seperti kopi, durian, alpukat, mahoni, dan kayu manis untuk memulihkan hutan sekaligus menciptakan sumber ekonomi baru.
Peran Ninik Mamak dalam Pengelolaan Hutan
Pengelolaan HKm Hulu Aia dilakukan berbasis adat dan ulayat. Sebanyak 88 kepala keluarga, yang merupakan anak kemenakan dari enam suku besar (Pitopang Baruah, Pitopang Bukit, Pauh, Sambilan, Bodi, dan Melayu), terlibat dalam pengelolaan kawasan hutan yang telah di-SK-kan oleh Menteri Kehutanan melalui SK No 8495/MMENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/12/2021.
Ninik mamak memainkan peran penting dalam menentukan wilayah yang boleh dimanfaatkan, dipulihkan, atau bahkan tidak boleh digarap sama sekali. Di Hulu Aia, ada wilayah adat yang tidak boleh dikelola, termasuk sumber air yang harus dijaga agar tidak rusak. Hal ini sangat penting karena Hulu Aia merupakan daerah hulu dua sungai besar, yaitu Batang Sinipan yang mengalir ke Limapuluh Kota dan Batang Kampar yang mengalir ke Provinsi Riau.
Perkembangan dan Tantangan
Sejak mendapatkan perizinan Perhutanan Sosial, masyarakat Hulu Aia melakukan berbagai langkah pemulihan kawasan hutan yang terdegradasi. Selain menanam berbagai jenis tanaman, mereka juga berupaya memperbaiki fungsi ekologis hutan serta menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Adrison Dt. Gadiang, tokoh masyarakat Hulu Aia, mengungkapkan bahwa awalnya masyarakat terpaksa menjadi pembalak karena tidak ada pilihan lain. Namun, seiring waktu, pembalakan tidak lagi menguntungkan. Biaya tinggi, jarak yang semakin jauh, serta dampak terhadap sumber air membuat masyarakat menyadari pentingnya menjaga hutan.
Pendampingan KKI Warsi memberikan arah dan solusi bagi masyarakat dalam memulihkan hutan yang telah rusak. Melalui program ini, masyarakat belajar mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan sambil tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Kolaborasi dan Program Nasional
Cerita-cerita lapangan seperti yang terjadi di Hulu Aia dipresentasikan dalam Workshop Nasional “Bergerak dari Tapak: Menyemai Perhutanan Sosial yang Inklusif untuk Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera”. Workshop ini diselenggarakan oleh Kementerian Kehutanan bersama konsorsium WRI Indonesia, KKI Warsi, dan Kawal Borneo Community Foundation.
Program Enhancing Community Forest Tenure and Sustainable Livelihoods, yang didukung Norway’s International Climate and Forest Initiative (NICFI) dan disalurkan melalui Norad, telah berjalan sejak 2021. Program ini mendampingi masyarakat di lima provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Workshop ini menjadi ruang berbagi pembelajaran, ide, dan inovasi dari implementasi Perhutanan Sosial. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk mendorong kolaborasi multipihak guna memperkuat dampak sosial, ekonomi, dan ekologis program.
Kesimpulan dan Apresiasi
Menurut Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, keberhasilan penyelamatan hutan terletak pada kerja sama dengan masyarakat. Ia menegaskan bahwa hutan harus menjadi bagian dari kehidupan rakyat, bukan sekadar ruang yang terpisah.
Selama empat tahun lima bulan implementasi, program ini telah mendampingi lebih dari 57 ribu hektar kawasan Perhutanan Sosial yang telah memperoleh izin. Ribuan masyarakat juga telah diberdayakan melalui pelatihan pengelolaan usaha dan hutan berbasis komunitas.
Direktur KKI Warsi, Adi Junedi, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kolaborasi seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, perubahan yang terjadi di Hulu Aia menunjukkan bahwa kearifan lokal dan pendampingan konsisten mampu menghadirkan pengelolaan hutan yang adil dan berkelanjutan.
