Film Underrated dengan Ritme Pelan dan Cerita Sederhana
Film-film yang tidak terlalu populer sering kali memiliki keunikan yang mampu menawarkan pengalaman berbeda bagi penonton. Berikut adalah 7 film underrated yang cocok ditonton ketika rutinitas terasa melelahkan, masing-masing menghadirkan sudut pandang tentang hidup:
-
Paterson (2016)
Film Paterson mengikuti satu minggu dalam kehidupan Paterson, seorang sopir bus di kota Paterson, New Jersey, yang kesehariannya tampak tenang dan berulang. Selain mengemudi bus, Paterson kerap memperhatikan percakapan penumpangnya dan menulis puisinya di buku catatan pribadi, yang diinspirasi oleh hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari seperti pemandangan kota atau percakapan singkat dengan orang lain. Ia pulang setiap malam ke rumah bersama Laura, istrinya yang penuh semangat dan beragam impian, sebelum berjalan dengan anjing bulldog mereka dan sesekali singgah di sebuah bar untuk menikmati satu gelas bir sambil berbincang dengan sang bartender. Dalam satu kejadian, Paterson membantu seorang perempuan yang tengah berusaha keluar dari hubungan yang menekan. Di akhir pekan, setelah buku puisinya rusak dimakan anjing, ia bertemu seorang turis yang memberinya buku kosong baru, sebuah pertemuan yang kembali menyalakan semangatnya untuk terus menulis puisi sederhana namun bermakna. Disutradarai Jim Jarmusch, Paterson mengikuti kehidupan seorang sopir bus bernama Paterson yang menjalani hari-harinya dengan pola yang hampir selalu sama. Ia bangun pagi, bekerja, menulis puisi di sela waktu, pulang ke rumah, dan mengakhiri hari dengan berjalan bersama anjingnya. Film ini tidak menawarkan konflik besar atau drama intens, tapi justru kekuatannya terletak pada pengulangan rutinitas yang terasa akrab. Dalam kesederhanaan itu, Paterson menunjukkan bahwa hidup tidak selalu harus berubah drastis untuk bermakna. -
Columbus (2017)

Film Columbus berfokus pada pertemuan antara Jin, seorang pria yang datang ke Columbus, Indiana, karena ayahnya yang seorang arsitek ternama telah jatuh sakit, dan Casey, perempuan muda lokal yang menunda impiannya demi merawat ibunya yang mengalami kecanduan. Keduanya berada dalam kondisi hidup yang tertahan, terikat oleh tanggung jawab keluarga yang membuat mereka sulit melangkah maju. Di sela waktu menunggu, mereka menghabiskan hari-hari dengan berjalan menyusuri kota, membicarakan arsitektur, keluarga, dan pilihan hidup yang tak pernah benar-benar mereka ambil. Columbus mengisahkan dua orang asing yang terjebak dalam fase hidup yang sama-sama stagnan. Mereka bertemu di kota kecil Columbus, Indiana, dan menjalin kedekatan melalui percakapan-percakapan sederhana yang perlahan membuka kegelisahan masing-masing. Film ini mengandalkan visual yang rapi, dialog minimalis, dan tempo yang lambat, tanpa ledakan emosi atau konflik besar. Namun justru di situlah kekuatannya, karena setiap percakapan terasa jujur dan manusiawi. -
The Secret Life of Walter Mitty (2013)

The Secret Life of Walter Mitty menceritakan kisah Walter Mitty, seorang negative assets manager di majalah Life yang hidupnya penuh dengan fantasi dan imajinasi liar. Tetapi dalam kehidupan nyata ia adalah sosok yang pemalu. Ketika majalah tempatnya bekerja akan menerbitkan edisi cetak terakhir, seorang fotografer legendaris, Sean O’Connell, mengirimkan foto negatif penting yang hilang, memicu Walter untuk mencari Sean ke berbagai negara termasuk Greenland, Islandia, dan bahkan Himalaya ke dalam petualangan yang sekaligus mengubah cara Walter menghadapi realitas dan dirinya sendiri. Sepanjang perjalanan, Walter menghadapi tantangan, bertemu pengalaman baru, dan perlahan keluar dari cangkang rutinitasnya demi menemukan hal yang benar-benar bermakna dalam hidupnya. Walter Mitty adalah karyawan biasa yang hidupnya dipenuhi rutinitas monoton dan imajinasi liar. Ketika pekerjaannya terancam, ia dipaksa keluar dari zona nyaman dan menjalani petualangan nyata. Meski terlihat seperti film motivasi, The Secret Life of Walter Mitty sebenarnya berbicara tentang keberanian mengambil langkah kecil untuk keluar dari kebiasaan yang membosankan. -
Blue Valentine (2010)

Blue Valentine (2010) mengisahkan Dean dan Cindy, pasangan yang hubungan cintanya ditampilkan secara bergantian antara masa lalu dan masa kini. Di satu sisi, film memperlihatkan awal hubungan mereka yang penuh gairah, spontan, dan harapan. Tetapi di sisi lain, penonton diajak menyaksikan pernikahan yang mulai rapuh akibat perbedaan mimpi, tekanan ekonomi, dan jarak emosional yang terus melebar. Narasi yang melompat antar waktu ini menegaskan kontras tajam antara cinta yang tumbuh dan cinta yang perlahan kehilangan pijakan. Berbeda dari film romantis pada umumnya, Blue Valentine menampilkan hubungan pasangan suami istri yang perlahan terkikis oleh rutinitas, ekspektasi, dan kelelahan emosional. -
Frances Ha (2012)

Frances Ha (2012) mengisahkan Frances Halladay, seorang perempuan muda di New York yang bercita-cita menjadi penari, tetapi hidupnya justru dipenuhi ketidakstabilan finansial dan perubahan relasi sosial. Ketika sahabat sekaligus rekan serumahnya mulai menjalani hidup yang lebih mapan, Frances terpaksa menghadapi kenyataan pahit tentang keterbatasan dirinya, berpindah-pindah tempat tinggal, pekerjaan, dan lingkar pertemanan. Alur film mengikuti keseharian Frances yang tampak sepele, namun perlahan membentuk potret kedewasaan yang lahir dari kegagalan kecil dan kompromi yang tidak selalu ideal. Frances Ha mengikuti kehidupan seorang perempuan muda yang mencoba bertahan di tengah ketidakpastian karier, pertemanan, dan identitas diri. Film ini ringan secara visual, tetapi menyimpan kegelisahan yang familiar bagi banyak orang dewasa muda. -
After Life (1998)

After Life (1998) mengikuti sekelompok orang yang baru saja meninggal dan tiba di sebuah tempat perantara antara dunia dan alam baka. Di sana, mereka diberi waktu satu minggu untuk mengenang kehidupan yang telah dijalani dan memilih satu kenangan paling berharga yang akan mereka bawa selamanya. Para petugas di tempat itu bertugas membantu mereka mengingat, merekonstruksi, dan akhirnya memfilmkan kenangan terpilih tersebut sebelum jiwa-jiwa itu melanjutkan perjalanan ke kehidupan berikutnya. Film Jepang karya Hirokazu Kore-eda ini bercerita tentang sekelompok orang yang diminta memilih satu kenangan untuk dibawa ke alam baka, dengan pendekatan yang tenang dan kontemplatif. Ceritanya sederhana, namun sarat makna, karena kenangan yang dipilih sering kali bukan momen spektakuler, melainkan kejadian kecil yang tampak remeh seperti percakapan singkat, hari cerah, atau rasa bahagia yang singkat namun tulus. -
Her (2013)

Her (2013) mengikuti kehidupan Theodore Twombly, seorang pria introvert yang bekerja menulis surat pribadi untuk orang lain di masa depan yang serba digital. Setelah mengalami perceraian yang menyisakan kesepian mendalam, Theodore mencoba mengisi kekosongan emosionalnya dengan membeli sistem operasi cerdas terbaru yang dirancang untuk beradaptasi dan berkembang layaknya manusia. Sistem operasi tersebut, yang kemudian menamai dirinya Samantha, perlahan menjadi teman bicara, tempat berkeluh kesah, hingga sosok yang mampu membangun kedekatan emosional dengan Theodore. Disutradarai oleh Spike Jonze, Her tidak sekadar menawarkan gambaran futuristik tentang hubungan manusia dan teknologi, tetapi juga menyoroti paradoks kesepian di dunia yang serba terhubung. Film ini merefleksikan keterasingan emosional yang muncul di tengah rutinitas modern, ketika komunikasi begitu mudah namun kedekatan terasa semakin rapuh. Melalui hubungan Theodore dan Samantha, Her mengajak penonton merenungkan kebutuhan akan koneksi yang tulus, menjadikannya relevan bagi siapa pun yang merasa lelah secara sosial meski dikelilingi banyak orang.
Film-film underrated kerap terasa lebih mengena ketika seseorang berada di titik lelah, terutama karena pendekatannya yang tidak berorientasi pada sensasi atau konflik besar. Pendekatan yang tenang ini memberi ruang bagi penonton untuk bernapas, merenung, dan membiarkan emosi hadir tanpa tekanan. Dalam kondisi ketika rutinitas sudah cukup menguras tenaga, tontonan semacam ini justru berfungsi sebagai tempat beristirahat yang aman, menawarkan ketenangan daripada pelarian semu. Keheningan, percakapan sederhana, serta potret realitas hidup yang dekat dengan keseharian menjadi kekuatan utama film-film tersebut. Pendekatan yang personal dan membumi membuat penonton merasa dilihat dan dipahami, seolah cerita di layar merefleksikan kegelisahan yang jarang terucap. Kelelahan akibat rutinitas adalah pengalaman yang manusiawi dan tidak selalu membutuhkan solusi besar atau keputusan drastis. Terkadang, yang dibutuhkan hanyalah jeda, dan film yang tepat dapat menjadi ruang untuk memahami diri sendiri dengan lebih jujur. Ketujuh film underrated yang dibahas tidak menjanjikan jawaban instan atas kelelahan hidup, tetapi menawarkan ruang refleksi yang tenang. Di tengah kesibukan dan tuntutan yang terus datang, film-film ini mengingatkan bahwa tidak apa-apa berjalan pelan, merasa lelah, dan menemukan makna dari hal-hal kecil. Karena pada akhirnya, yang sering dibutuhkan bukanlah pelarian jauh, melainkan pengingat sederhana bahwa hidup, dengan segala rutinitasnya, tetap layak dijalani.
