JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa rupiah berada di atas Rp 16.900 dalam tiga perdagangan berturut-turut. Menutup perdagangan Rabu (21/1/2026), kurs rupiah berada di posisi Rp 16.963 per dolar AS.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sama-sama mengkritik pelemahan kurs rupiah pada awal tahun ini. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menyoroti bahwa pelemahan kurs pada awal 2026 tidak lepas dari tekanan global, terutama pada mata uang emerging market.
Kadin mencermati penguatan dolar AS dan tekanan terhadap rupiah yang nyaris ke level Rp 17.000 sebagai faktor risiko yang perlu diantisipasi serius oleh dunia usaha. Erwin menjelaskan bahwa dampak dari situasi ini akan berbeda-beda di setiap sektor industri. Bagi eksportir berbasis konten lokal, pelemahan rupiah bisa memberi ruang peningkatan penerimaan. Namun bagi industri yang bergantung pada impor bahan baku, barang modal, dan energi, tekanan kurs bakal meningkatkan biaya produksi dan modal kerja.
Di sisi lain, tekanan kurs juga berdampak terhadap biaya pembiayaan, terutama bagi perusahaan dengan utang valas atau kebutuhan lindung nilai (hedging). Dalam kondisi seperti ini, dunia usaha cenderung lebih berhati-hati menambah utang dan menunda ekspansi, khususnya yang berbasis impor.
Menurut Erwin, pelaku usaha saat ini fokus pada langkah mitigasi jangka pendek, seperti penyesuaian struktur biaya, efisiensi operasional, hedging yang lebih disiplin, serta negosiasi ulang kontrak impor dan logistik. Erwin menegaskan bahwa dunia usaha butuh stabilitas dan volatilitas yang terjaga agar perencanaan bisnis tetap berjalan.
“Kadin berharap stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas. Bukan untuk mengunci level tertentu, tetapi menjaga volatilitas agar tidak terlalu tajam, sehingga dunia usaha bisa melakukan perencanaan dengan lebih baik,” kata Erwin.
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani turut menyampaikan kekhawatiran pelaku usaha terhadap pelemahan rupiah yang semakin dalam. Pelemahan yang terjadi sudah cukup berlarut-larut dan lebih dalam dari perkiraan sebelumnya, sehingga berpotensi membawa beban yang berlebih terhadap kinerja usaha.
Dalam skenario terburuk, apabila pelemahan kurs terus berlanjut dan tidak segera ditangani, Shinta khawatir kelancaran arus kas bisa terganggu, khususnya bagi pelaku usaha yang memiliki struktur impor besar. Risiko lainnya adalah kontraksi kinerja usaha serta cost-push inflation di pasar akan membebani pertumbuhan ekonomi jangka pendek hingga menengah.
Apindo berharap pemerintah lebih giat melakukan upaya stabilisasi dan penguatan nilai tukar, baik melalui intervensi moneter maupun intervensi non-moneter. Termasuk penguatan fundamental ekonomi nasional melalui deregulasi, debirokratisasi dan reformasi struktural terhadap iklim usaha dan investasi. Shinta menilai hal itu penting untuk menstimulasi penerimaan Foreign Direct Investment (FDI) dan pertumbuhan ekspor. Selain itu, perbaikan disiplin fiskal juga perlu dilakukan untuk memulihkan kepercayaan dan demand pasar terhadap bonds pemerintah Indonesia dalam mata uang asing.
“Kami berharap instrumen intervensi, khususnya yang bersifat penguatan terhadap fundamental ekonomi nasional dapat diprioritaskan dan memberikan efek konkret di lapangan,” kata Shinta.
Dihubungi terpisah, Direktur PT Intraco Penta Tbk (INTA) Willianto Febriansa menyampaikan bahwa fluktuasi kurs turut berdampak kepada industri alat berat. “Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS perlu diwaspadai dan dimonitor secara cermat karena akan menyebabkan tekanan terhadap harga jual alat berat dan komponen,” kata Willianto.
Dia menjelaskan, exposure INTA sebenarnya lebih banyak ke mata uang Yuan China (CNY). Hanya saja, pelemahan terhadap dolar AS biasanya juga diikuti pelemahan rupiah terhadap mata uang utama global, termasuk CNY. Sebagai bentuk respons dan mitigasi atas kondisi ini, INTA akan fokus mengoptimalkan manajemen stok dan operasional yang lebih efisien.
“Stok yang berlebih di tengah situasi kurs mata uang asing yang bergerak volatile bisa menyebabkan inefisiensi dan miss-kalkulasi harga,” tandas Willianto.
