Jayapura Update
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
  • Tentang Kami
  • Kontak
    • Informasi Pemasangan Iklan & advertorial
  • Pedoman Media Siber
    • Hak Jawab Dan Koreksi Berita
    • Pedoman Pemberitaan Ramah Anak
  • Disclaimer
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kirim Tulisan
Jayapura UpdateJayapura Update
Font ResizerAa
  • Home
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Search
  • Bisnis
  • Budaya
  • Ekonomi
  • Entertainment
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Olahraga
  • Opini
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Politik
  • Teknologi
Follow US
Gaya Hidup

Aku dan kursi rodaku mengarungi perbukitan berbahaya, siapa takut?

Eka Syaputra
Last updated: January 22, 2026 12:21 am
Eka Syaputra
Share
9 Min Read
SHARE



By Christie Damayanti

Aku berada di tengah perbukitan bebatuan dan goa-goa yang menjadi tempat tinggal manusia purba sekitar 40.000 tahun lalu. Aku tidak bisa menahan rasa antusiasku untuk naik ke area tersebut, khususnya ke daerah Gobustan! Ketika kami tiba di sana dan turun dari mobil, aku langsung meminta Zoyir mengambil kursi rodaku dan segera memulai perjalanan mendaki goa-goa batu itu. Zoyir tertawa melihat aku sama sekali tidak sabar.

“Zoyiiiiirrrr, cepetan dooonnnkkkk”, aku berteriak setelah turun dari mobil KBRI Baku.

“Iya, sabar, bu!”, Zoyir menjawab sambil tersenyum, diikuti oleh senyuman staff KBRI Baku yang menemani kami selama perjalanan di Baku.

Saat aku duduk di kursi rodaku, perjalanan cukup sulit karena permukaan jalannya tidak rata sama sekali. Aku harus berpegangan erat dan Zoyir juga harus memegang tanganku erat-erat agar aku bisa tetap stabil dan nyaman duduk di kursi rodaku.

Setelah itu, kami ditemani oleh pemandu tour dari Museum Gobustan. Pemandu ini diminta ikut agar kami bisa lebih memahami jalan yang harus kami tempuh serta cerita sejarah tentang Gobustan saat melewati goa-goa batu pada masa itu.

Nama pemandu tour itu aku lupa, tapi dia adalah seorang wanita muda yang fasih berbahasa Inggris dengan logat Azerbaijan. Aku sedikit mendengarkan ceritanya, namun fokus utamaku adalah mengamati detail-detail bebatuan yang kami lewati. Bahkan, aku memfoto beberapa bagian yang menarik, seperti lekuk batu, jalur-jalur yang kami lalui, dan batu-batu yang digunakan manusia purba.

Cerita yang disampaikan oleh pemandu tour sudah aku dengar sebelumnya ketika kami masuk ke Museum Gobustan. Jadi, aku lebih banyak memanfaatkan waktu yang terbatas untuk mengamati sendiri. Zoyir tetap berada di sisiku, meskipun aku dikelilingi oleh pemandu tour dan tiga orang staf KBRI Baku yang ditugaskan untuk menemaniku selama di Azerbaijan.

Aku tahu mengapa Zoyir selalu berada di sisiku, karena dia tahu bahwa sewaktu-waktu aku membutuhkan bantuan, dia siap berada di sampingku, seperti Tuhan Yesus atau malaikat pelindungku. Dia tahu medan yang terjal dan cukup berbahaya untuk kursi roda bisa membuatku terjatuh. Jalur khusus untuk turis dilengkapi paving yang tidak terlalu rata, tetapi setidaknya lebih nyaman dibandingkan jalur-jalur berpasir dan berbatu kecil maupun besar.

Jalur jalan setapak dengan paving, yang tidak terlalu rata sebenarnya, tetapi lebih nyaman dibandingkan lingkungan sekitarnya. Itu membuat aku harus terus berhati-hati, meski aku nekad berjalan dengan kursi rodaku agak cepat. Zoyir sering berteriak, “Hati-hati, yaaa!” dan aku tetap melaju cepat, hahaha.

Suatu saat, aku terjebak karena roda kursi ku selip akibat pasir. Zoyir menggelengkan kepala, “Nah, apa yang saya bilang, hati-hati dan jangan ngebut.” Aku hanya tersenyum dengan alasan bela diriku, membuat Zoyir terus menggelengkan kepala karena dia tidak mungkin menyamai langkah kursi rodaku yang terlalu cepat bagi langkah manusia, apalagi ketika mendaki.

“Bandel, ya!” Dia mengangkat kursi rodaku dan membalikkannya sehingga roda tidak lagi selip, dan aku bisa melanjutkan perjalanan. Kejadian ini terjadi karena aku keluar jalur setapak untuk melihat lebih dekat sesuatu yang ingin aku amati.

Ketika aku “keluar” dari jalur setapak dan sedikit menuruni perbukitan, pasir membuat roda kursi ku selip dan aku terjebak. Zoyir sudah memberi peringatan, “Jangan keluar lagi dari jalan setapak, ya,” tapi aku tidak menjawab apa-apa, mungkin aku lupa dengan nasehatnya. Aku melangkah sedikit menuruni jalur yang menurutku agak berbahaya jika aku terlalu jauh.

Rasa antusiasku sepenuhnya mengalahkan rasa takutku. Aku berada di “ujung tanduk” sebagai pengguna kursi roda di perbukitan yang berbatu tanpa ada emergency jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Dan, aku benar-benar EXCITED.

Bayangkan! Aku berada di dunia peradaban kehidupan purba 40.000 tahun lalu! Aku berada di tempat yang tidak pernah aku bayangkan ada di jaman modern saat ini! Aku diberi kesempatan yang jarang didapat, di mana tidak semua orang bisa datang ke sini, apalagi dengan kursi roda! Luar biasa! Ya, ini sungguh luar biasa!!!

Otakku berputar-putar seperti itu saja, Tuhan memberikan berkat-berkat yang sangat luar biasa untukku! Di saat-saat aku merasa kesepian karena hidupku sendirian, Tuhan justru memberikan kebahagiaan yang luar biasa sesuai atau bahkan melebihi ekspektasiku dengan apa yang aku alami sekarang!

Ketika aku merenungkan semua pikiranku, aku diam sejenak. Mungkin Zoyir berpikir aku sedang menenangkan diriku setelah roda kursi ku terjebak. Sehingga, dia bisa duduk sejenak, mungkin sedikit beristirahat. Karena selama ini dia benar-benar berada di sisiku.

Jika aku tidak berhenti, dia pun tidak akan berhenti. Berkeliling kota, menyetir mobil, atau mencari toilet ketika aku membutuhkannya. Dia pasti memastikan kenyamanan toilet, khususnya adanya closet duduk. Dia tidak akan beristirahat.

Zoyirjon Narmetov, warga negara Uzbekistan, seorang pemandu tour, seorang tour-guide terbaik yang aku tahu. Dia bukan hanya sekedar tour-guide, tapi dia adalah seorang teman, sahabat, dan malaikat pelindungku yang terbaik, yang diberikan Tuhan untukku! Dia selalu berada di sisiku, kapanpun kecuali ketika kami berada di kamar masing-masing. Dia adalah sosok seperti Tuhan Yesus ku, yang aku percaya dan imanku.


Aku hanya bisa bergerak di atas kursi rodaku sampai di titik tertinggi karena di depanku adalah bukit berbatu yang sebenarnya ingin aku lihat, masuk ke goa-goa tempat tinggal manusia purba jaman itu. Ini titik tertinggi dengan jalur setapak yang bisa aku lewati. Sudah bertatapan dengan goa-goa batu tempat tinggal manusia purba 40.000 tahun lalu. Aku tidak bisa berjalan walau digandeng oleh Zoyir karena medan yang benar-benar terjal dan susah untuk didaki.

Aku membayangkan, bagaimana jaman itu jika ada lansia atau orang-orang cacat tinggal di goa-goa tersebut, ya? Karena lansia dan cacat itu tidak melihat jamannya. Memang mereka harus berjuang untuk survive.


Kata pemandu tour dari Museum Gobustan itu, justru di dalam goa-goa itu banyak sekali petroglif besar dan jelas. Aku hanya bisa melihat beberapa petroglif kecil dan sedikit, yang aku pun melihatnya dari kejauhan. Kamera HP ku saja zoom yang bagus, sehingga aku bisa klik dengan cukup cantik tanpa harus mendekat.

Salah satu yang bisa aku lakukan, zoom untuk foto-foto yang ada di luar goa-goa tersebut.

Aku agak kecewa sebelum Zoyir menghiburku untuk “berjalan” menuruni sedikit perbukitan batu itu, untuk berfoto dengan latar belakang padang bukit batu yang luas dan di ujung sana adalah Danau Caspia yang dahulu air danau itu sampai di bawah bukit batu tempat manusia purba itu tinggal.

Aku dengan latar belakang jauh disana, padang pasir dan beberapa perbukitan batu serta Danau Caspia sekitar puluhan atau ratusan kilometer dari perbukitan batu Gobustan.

Akhirnya, ada kesempatan Zoyir beristirahat ketika aku diam mematung memikirkan banyak hal tentang Gobustan ini, sekitar 15 atau 20 menit.

Betapa jauhnya air menyurut sampai mungkin puluhan atau ratusan kilometer di jaman itu! Yang sekarang, bukit batu Gobustan hanya menjadi perbukitan batu yang luas dan seakan tidak pernah ada kehidupan.


Perjalanan dari naik ke perbukitan batu dan menuruninya, penuh dengan inspirasi baru. Penuh dengan pembelajaran baru. Dan, penuh dengan “keromantisan” versi ku.

Yang akhirnya membuat aku semakin “jatuh cinta” untuk mengeksplor dunia ini bersama teman dan sahabatku dan tentu saja tour-guide serta malaikat pelindungku yang terbaik yang Tuhan berikan untukku.

Share This Article
Facebook Copy Link Print
ByEka Syaputra
Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Kafe Starboy, daya tarik baru di utara Makassar dengan pemandangan laut yang menakjubkan

Upah dan Ilusi Perlindungan Karyawan

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 4 Halaman 191-192: Jenis Paragraf

Itinerary Taman Narmada Lombok, Santapan Raja di Kaki Gunung Rinjani

Orang yang Selalu Butuh Tahu Rencana Biasanya Memiliki 8 Kualitas Unik Ini, Menurut Psikologi

Kala KSAD dan Mendagri Serentak Minta Anggaran ke Purbaya untuk Sumatera

Kisah Sedekah Francisco Rivera: Bintang Persebaya Bagikan Ponsel ke Staf Pelatih

Kunci keberhasilan Nvidia menguasai industri AI, strategi berani

Melihat Awal Sejarah Vietnam Melalui Benda Purba di Museum Nasional

5 Drama China Terbaik untuk Wanita 20-an, Obat Galau Kehidupan Masa Lalu

You Might Also Like

Gaya Hidup

7 Warung Ayam Goreng Enak di Solo, Empuk dan Murah dengan Banyak Pilihan Sambal

February 9, 2026
Gaya Hidup

10 Detail yang Perlu Diperhatikan untuk Menjadi Lebih Jeli daripada Banyak Orang

December 29, 2025
Gaya Hidup

Hotel paling diminati untuk staycation di Jakarta Selatan saat Tahun Baru

December 29, 2025
Gaya Hidup

Dapatkan Pahala Berlipat: Cara Menggabung Puasa Syawal, Senin-Kamis, dan Wajib

April 9, 2026
Jayapura Update
Jayapura Update JayapuraUpdate menjadi salah satu media online yang memberikan perhatian khusus pada isu-isu lokal di Jayapura dan Papua. Portal ini mengedepankan penyajian berita yang ringkas namun tetap menyeluruh, sehingga memudahkan pembaca memahami konteks peristiwa. Selain berita aktual, situs ini juga memberikan artikel analisis, opini, serta laporan mendalam tentang isu yang berdampak bagi masyarakat. JayapuraUpdate dapat diakses secara mudah melalui berbagai perangkat.
FacebookLike
XFollow
PinterestPin
InstagramFollow
YoutubeSubscribe

© Powered by PT Cipta Jasa Digital – JayapuraUpdate.com @2025

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?