Film “Agak Laen 2: Menyala Pantiku!” Cetak Sejarah di Layar Lebar
Film komedi produksi Imajinari, “Agak Laen 2: Menyala Pantiku!”, kembali menciptakan sejarah dengan menembus angka penonton yang sangat mengesankan. Film ini berhasil meraih lebih dari 10,25 juta penonton sejak tayang perdana pada 27 November 2025. Kesuksesan ini membuatnya menjadi salah satu film Indonesia terlaris sepanjang masa.
Kehadiran film ini tidak hanya memperkuat posisi Imajinari sebagai rumah produksi yang konsisten dalam menghadirkan cerita segar, tetapi juga menunjukkan bahwa gaya komedi khas mereka mampu menarik perhatian penonton dari berbagai kalangan. Tidak hanya Agak Laen 2, Imajinari juga memiliki deretan judul lain yang tak kalah menarik dan bisa dinikmati oleh penggemar film.
Berikut lima film produksi Imajinari yang layak masuk daftar tontonan berikutnya:
1. Tinggal Meninggal (2025)
Film Tinggal Meninggal (2025) mengangkat kisah Gema (Omara Esteghlal), seorang pegawai kantoran yang menjalani hidup dalam kesepian. Di lingkungan kerjanya, Gema sering merasa tidak dianggap dan nyaris tidak terlihat oleh rekan-rekannya. Kehidupannya berubah ketika sang ayah meninggal dunia, sehingga ia mulai merasakan perhatian, empati, dan kehangatan dari orang-orang di sekitarnya.
Namun, perhatian tersebut hanya berlangsung singkat. Ketika suasana kembali dingin seperti semula, rasa kehilangan dan sepi justru semakin menghantuinya. Dari situlah muncul ide absurd: Gema mulai mempertanyakan, siapa lagi yang harus “meninggal” agar ia kembali diperhatikan. Keputusan tersebut menyeret Gema ke dalam rangkaian kebohongan yang semakin rumit dan sulit dikendalikan.
2. AGAK LAEN (2024)

Film Agak Laen (2024) mengisahkan empat sahabat, Boris, Bene, Jegel, dan Ok, yang mengelola sebuah wahana rumah hantu di pasar malam. Sayangnya, alih-alih menyeramkan, wahana tersebut justru sepi pengunjung karena dianggap tidak cukup menakutkan. Demi menarik perhatian, mereka nekat merombak konsep rumah hantu agar lebih ekstrem.
Namun, rencana itu berubah kacau ketika sebuah insiden tak terduga terjadi dan berujung pada kematian seorang pengunjung di dalam wahana. Alih-alih melapor, keempat sahabat ini justru panik dan menutupi kejadian tersebut. Ironisnya, sejak insiden itu, rumah hantu mereka justru mendadak viral dan ramai pengunjung karena dianggap “paling seram”.
3. Kaka Boss (2024)

Film Kaka Boss (2024) bercerita tentang Ferdinand Omakare (Godfred Orindeod), seorang penagih utang sekaligus penyedia jasa keamanan yang disegani. Meski sukses, profesinya membuat sang putri, Angel, merasa malu dan menjaga jarak darinya. Demi membahagiakan anak semata wayangnya, Ferdinand nekat mengejar mimpi baru sebagai penyanyi.
Sayangnya, niat baik itu tak berjalan mulus, suaranya fals dan konflik keluarga justru bermunculan. Dibungkus komedi hangat khas Indonesia Timur, Kaka Boss menyuguhkan kisah ayah dan anak, pencarian jati diri, serta perjuangan mendapatkan penerimaan.
4. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023)

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film mengisahkan Bagus (Ringgo Agus Rahman), seorang penulis skenario yang selama ini hanya mengerjakan film adaptasi. Saat mendapat kesempatan menulis cerita orisinal pertamanya, ia justru menuangkan kisah cintanya sendiri ke dalam naskah. Cerita itu terinspirasi dari perasaannya pada Hanna (Nirina Zubir), teman lama semasa SMA yang kembali ia temui setelah lama berpisah.
Kedekatan mereka perlahan tumbuh, namun situasi menjadi rumit karena Hanna masih berduka setelah ditinggal sang suami dan belum siap membuka hati. Di tengah kejaran deadline dan dilema perasaan, Bagus harus memilih antara mengejar cinta atau menjaga perasaan Hanna.
5. Ngeri-Ngeri Sedap (2022)

Ngeri-Ngeri Sedap mengisahkan pasangan suami istri asal Batak, Pak Domu (Arswendi Bening Swara) dan Mak Domu (Tika Panggabean), yang merindukan tiga putra mereka, Domu (Boris Bokir), Gabe (Lolox), dan Sahat (Indra Jegel), yang lama merantau dan jarang pulang ke kampung halaman. Hubungan mereka dengan sang ayah pun tak lagi hangat, membuat ketiganya selalu punya alasan untuk absen setiap kali diminta pulang.
Dilanda rindu, Pak Domu dan Mak Domu menyusun rencana nekat: berpura-pura bertengkar hebat hingga mengancam akan bercerai, dengan harapan anak-anaknya terpancing pulang demi menyelamatkan keluarga. Siasat itu berhasil, ketiga putra mereka akhirnya kembali ke rumah. Namun, kepulangan tersebut justru membuka berbagai konflik lama, perbedaan pandangan, dan luka keluarga yang selama ini terpendam.
