Persiapan Pemakaman Romo FX Mudji Sutrisno SJ di Girisonta
Di tengah suasana tenang dan sunyi yang biasa menghiasi kompleks Taman Maria Ratu Damai, Girisonta, Kabupaten Semarang, persiapan pemakaman Romo FX Mudji Sutrisno SJ telah dimulai. Romo yang dikenal sebagai tokoh penting dalam dunia pendidikan, budaya, dan keagamaan ini akan kembali ke tempat terakhirnya di Girisonta, setelah mengembuskan napas terakhir pada usia 71 tahun.
Kesiapan Kompleks Girisonta
Kompleks Girisonta, yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta, Bergas, Kabupaten Semarang, merupakan lokasi pemakaman bagi para romo Jesuit. Di sini, sebuah liang lahat sedalam sekitar dua meter telah disiapkan. Liang itu berada di antara deretan makam para romo yang lebih dulu berpulang, menjadi bagian dari tradisi yang sudah ada sejak lama.
Liang lahat tersebut tidak berdiri sendiri, namun menjadi bagian dari deretan makam para romo Serikat Jesuit (SJ) yang disiapkan secara berurutan. Di dekatnya, tanah yang telah digali berada di dalam bak. Dua sapu lidi diletakkan di dekat liang, menandakan bahwa tempat tersebut sedang dipersiapkan untuk peristirahatan terakhir.
Proses Pemakaman dan Tradisi
Romo Mudji, yang lahir pada 12 Agustus 1954 di Solo, meninggal di Rumah Sakit St Carolus, Jakarta, pada Minggu (28/12/2025) pukul 20.43. Jenazahnya diberangkatkan dari Jakarta pada Selasa (30/12/2025) malam dan tiba di Girisonta. Setiba di sana, jenazah disemayamkan di Gereja Paroki St Stanislaus.
Pada Rabu (31/12/2025) pagi, akan digelar Misa Ekaristi sebelum proses pemakaman Romo Mudji. Enam orang pekerja telah melakukan penggalian tanah dengan rapi. Menurut FX Heru Purwanto, petugas keamanan Girisonta, informasi tentang pemakaman Romo Mudji diterima kemarin malam sekitar pukul sembilan.
“Hari ini dari romo ministernya sudah menyiapkan karyawan untuk mulai persiapan pemakaman beliau,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa Romo Mudji dimakamkan di Girisonta karena merupakan bagian dari Serikat Jesuit.
Tradisi Penghormatan
Setelah misa, prosesi pemakaman akan dilangsungkan. Dalam prosesi itu, jenazah Romo Mudji dibawa ke kompleks pemakaman dengan kereta kencana. Kereta itu tidak ditarik kuda seperti lazimnya, melainkan ditarik oleh umat atau orang-orang. Hal ini sebagai simbol penghormatan terakhir yang mendalam.
Tradisi pemakaman dengan kereta jenazah ditarik oleh orang sering kali dikaitkan dengan penghormatan mendalam bagi sosok yang sangat berjasa, seperti romo (pastor) atau tokoh agama lainnya. Selain bentuk penghormatan, tradisi ini juga menunjukkan kebersamaan dan solidaritas antara umat dan tokoh yang telah melayani mereka semasa hidup.
Antisipasi dan Persiapan
Panitia memperkirakan jumlah pelayat akan datang dalam jumlah besar. Untuk itu, tenda, kursi, hingga pengaturan lahan parkir telah disiapkan. Antisipasi dilakukan karena kendaraan diperkirakan akan memadati area hingga ke ruas Jalan Semarang–Solo.
“Kami akan mempersiapkan akomodasi karena kemungkinan akan banyak tamu,” ujar Heru. Ia juga menyebutkan bahwa keluarga Romo Mudji dari Klaten telah datang melihat lokasi di sini. “Mudah-mudahan saat pemakaman besok tidak hujan dan semuanya berjalan lancar,” tambahnya.
Peran Romo Mudji dalam Dunia Pendidikan dan Budaya
Romo Mudji telah mendedikasikan hidupnya bagi dunia pemikiran, pendidikan, dan kebudayaan. Ia mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Universitas Indonesia (UI), hingga Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Ia dikenal mampu menjembatani iman, seni, dan kemanusiaan melalui tulisan, puisi, serta sketsa.
Kepergian Romo Mudji meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi komunitas Katolik dan akademik, tetapi juga lintas iman. Kini, di Girisonta, sebuah liang lahat menunggu dalam sunyi. Dua sapu lidi tergeletak di sampingnya, tanah masih basah oleh galian. Tempat itu kelak akan menjadi perhentian terakhir seorang “pastor cum budayawan”, yang sepanjang hidupnya merawat keheningan, kebijaksanaan, dan kemanusiaan, hingga akhirnya pulang ke rumah persaudaraan “para Prajurit Allah”.
