Proyek Horor Ambisius dari MD Pictures
MD Pictures kembali menghadirkan proyek film horor yang menarik perhatian publik. Dalam pengembangan terbaru mereka, rumah produksi ini merilis remake dari film Korea Gonjiam: Haunted Asylum (2018) dengan judul 402: Rumah Sakit Angker Korea (2026). Proyek ini digadang-gadang akan menjadi langkah besar dalam memperluas standar film horor di Indonesia.
Alasan Menggarap Film Horor
Produser MD Pictures, Manoj Punjabi, memberikan penjelasan mengenai alasan menggarap proyek ini. Salah satu faktornya adalah kepemilikan hak cipta atau IP film tersebut yang sudah dimiliki sejak lama, bahkan sebelum pandemi. Namun, prosesnya tidak selalu mulus karena sempat berpindah tangan sebelum akhirnya diproduksi.
“IP-nya kita sudah punya kalau gak salah sebelum pandemic. Dipindah tangan dari MD Group, ke sana ke sini, akhirnya kita putuskan untuk membuat film ini,” ujar Manoj saat ditemui di MD Place Tower 1, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/4/2026).
Setelah melalui berbagai proses, Manoj merasa yakin bahwa proyek 402: Rumah Sakip Angker Korea berada di tangan yang tepat. Ia pun menggandeng Anggy Umbara sebagai sutradara dan Lele Laila sebagai penulis naskah sekaligus produser kreatif.
“Saya kira itu decision yang tepat, di-handle sangat baik, sesuatu yang beda. Nanti Anda akan lihat, dan juga banyak lagi surprises yang sangat menarik,” tambah Manoj.
Tantangan dan Inovasi dalam Pembuatan Film
Manoj menyadari bahwa genre horor sangat diminati oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, ia menyebut setengah dari penonton memiliki ketertarikan pada genre ini. Menurutnya, MD Pictures memiliki keunggulan dalam membuat film horor.
“Kita semua tahu horror sangat diminati oleh masyarakat kita. Berapa? 50%. Dan kelebihan MD (Pictures), salah satu strength-nya selain membuat drama, drama religi atau drama cinta, horror selalu jadi expertise kita,” jelasnya.
Namun, bagi Manoj, membuat film horor tidak semata-mata hanya dengan mengandalkan formula lama. Ia ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dan lebih segar.
“Genrenya horror, tapi apalagi yang beda? Kalau kita ulang-ulang juga kan ga excited, kayak ga ada sesuatu yang baru untuk penonton dan masyarakat yang mencintai film Indonesia,” lanjut Manoj.
Ia juga menyebut bahwa horor ala Gonjiam: Haunted Asylum adalah genre favoritnya. Tak ayal, ia menaruh ekspektasi tinggi pada proyek ini.
“Saya excited, dan Gonjiam bagi saya (adalah) favorite genre saya. Karena konsep ini tuh susah dibikin. Gak ada formula yang biasanya dilakukan. Di sini ada eksperimental juga, dan sutradaranya berani bereksperimen. Nah, di situ saya lebih semangat, ‘Oke, ayo’,” tambahnya.
Penggunaan Budget Besar dan Pendekatan Unik
Salah satu alasan utama remake film Korea ini dibuat adalah karena pendekatan unik yang ditawarkan. Salah satunya adalah penggunaan gaya found-footage yang masih jarang dieksplorasi secara maksimal di Indonesia. Manoj juga menegaskan bahwa proyek ini bukan film dengan skala biasa.
“Ini kan syutingnya di Korea juga, jadi budgetnya bukan medium budget dengan all cast. So ini jadi tantangan, sesuatu yang baru,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya inovasi dalam industri film Indonesia, terutama untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing di pasar box office.
“Kita akan terus raise the bar sampai istilahnya film Indonesia ini… saya punya misi MD harus kontribusi terhadap box office film Indonesia. Dalam hal itu, kualitas yang akan berbicara,” pungkasnya.


